Penerapan Ganjil Genap Harus Dibarengi Pengendalian Aktivitas

Minggu, 02 Agustus 2020 - 22:25 WIB
Kedua, urban transport bersinggungan langsung dengan aktivitas keseharian masyarakat (komuter). Ketiga, pada masa adaptasi kebiasaan baru aktivitas semakin meningkat dibanding pada masa penerapan PSBB penuh. Keempat, aktivitas perekonomian harus tetap bergerak. Kelima, transportasi tidak boleh menjadi sarana penularan dan penyebaran covid-19. (Baca juga: Positif Covid-19 Bertambah 1.519 Kasus, DKI Jakarta Penyumbang Tertinggi)



"Program ganjil genap dapat diselenggarakan dengan menyeimbangkan penyediaan fasilitas transportasi umum yang sehat mendekati kawasan perumahan dan permukiman. Jaringan sepeda yang aman, nyaman dan selamat perlu dibangun. Diperlukan kebijakan komprehensif antarinstansi untuk mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas di Jakarta," ujar Djoko dalam siaran tertulisnya, Minggu (2/8/2020)

Menurut ahli epidemiologi, jaga jarak menjadi faktor yang paling signifikan dalam pencegahan penularan dan penyebaran Covid-19. Namun, dalam penyelenggaraan transportasi perkotaan di wilayah megapolitan seperti Jabodetabek, soal jaga jarak (physical distancing) bukan urusan mudah.

Penegakan protokol kesehatan seperti cuci tangan, penggunaan masker, pemeriksaan suhu tubuh, pembersihan sarana dan prasana transportasi secara rutin dengan disinfektan relatif dapat dilaksanakan dengan baik. Paling sulit menegakkan jaga jarak di dalam angkutan massal.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!