Angka Putus Sekolah di Kabupaten Bogor Tinggi, Partai Perindo Ungkap Penyebabnya
Senin, 04 September 2023 - 19:19 WIB
Bacaleg DPRD Jabar Dapil 6 dari Partai Perindo Sumarwan Sastra dan Bacaleg DPRD Kabupaten Bogor Dapil 6 dari Partai Perindo Edi Umar Dani mengikuti Podcast Aksi Nyata, Senin (4/9/2023). Foto: Partai Perindo
BOGOR - Angka putus sekolah di Kabupaten Bogor cukup tinggi. Berdasarkan data Dapodik Pusat Data Informasi (Pusdatin) 2022, tercatat 1.706 anak yang bersekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Bogor berhenti sekolah.
Menanggapi ini, Bacaleg DPRD Jawa Barat Dapil 6 dari Partai Perindo yang juga pengurus DPD Partai Perindo Kabupaten Bogor Sumarwan Sastra mengatakan, tingginya angka siswa putus sekolah terjadi sejak pandemi Covid-19.
Saat itu, khususnya siswa yang berada di wilayah pelosok banyak terkendala akses metode belajar menggunakan handphone, susahnya sinyal, dan turunnya pendapatan ekonomi keluarga.
"Sehingga secara ekonomi mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah anaknya," kata Sumarwan dalam diskusi Podcast Aksi Nyata #DariKamuUntukIndonesia bertajuk 'Miris! Angka Putus Sekolah di Kabupaten Bogor Meningkat' yang digelar secara daring, Senin (4/9/2023).
Selain itu, proses verifikasi yang dilakukan sekolah terhadap sistem zonasi siswa terkadang membuat banyaknya siswa yang tinggal dekat sekolah tidak bisa diterima. Sehingga, mereka memilih sekolah swasta yang biayanya sangat mahal.
"Karena banyak yang jaraknya jauh keterima yang jaraknya dekat tidak terima. Itu salah satu yang harus diperhatikan, makanya saya mengharapkan benar-benar pemerintah atau Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor mereview ulang sistem zonasi," ujarnya.
Menanggapi ini, Bacaleg DPRD Jawa Barat Dapil 6 dari Partai Perindo yang juga pengurus DPD Partai Perindo Kabupaten Bogor Sumarwan Sastra mengatakan, tingginya angka siswa putus sekolah terjadi sejak pandemi Covid-19.
Saat itu, khususnya siswa yang berada di wilayah pelosok banyak terkendala akses metode belajar menggunakan handphone, susahnya sinyal, dan turunnya pendapatan ekonomi keluarga.
"Sehingga secara ekonomi mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah anaknya," kata Sumarwan dalam diskusi Podcast Aksi Nyata #DariKamuUntukIndonesia bertajuk 'Miris! Angka Putus Sekolah di Kabupaten Bogor Meningkat' yang digelar secara daring, Senin (4/9/2023).
Selain itu, proses verifikasi yang dilakukan sekolah terhadap sistem zonasi siswa terkadang membuat banyaknya siswa yang tinggal dekat sekolah tidak bisa diterima. Sehingga, mereka memilih sekolah swasta yang biayanya sangat mahal.
"Karena banyak yang jaraknya jauh keterima yang jaraknya dekat tidak terima. Itu salah satu yang harus diperhatikan, makanya saya mengharapkan benar-benar pemerintah atau Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor mereview ulang sistem zonasi," ujarnya.
Lihat Juga :