Pencarian Korban Bencana Banjir Luwu Utara Terus Dilakukan
Senin, 20 Juli 2020 - 08:02 WIB
Dia melanjutkan, tidak menutup kemungkinan, korban jiwa masih bertambah. Di tengah upaya pembersihan lokasi yang masih banyak tertutupi lumpur atas dampak banjir. "Dalam hal pembersihan sudah dilakukan dan targetnya seminggu setelah kejadian, sudah bersih semuanya," tambahnya. (BACA JUGA: Erdogan Lakukan Kunjungan Kejutan ke Hagia Sophia usai Jadi Masjid)
Dia melanjutkan, bencana banjir di Kabupaten Luwu Utara tidak hanya disebabkan karwna curah hujan yang tinggi. Berdasarkan kunjungan Kepala BPNP RI beberapa waktu lalu, juga mengaku peristiwa ini pun karena ada faktor manusia, disamping faktor alam.
"Pertama curah hujan yang tinggi, kedua peralihan fungsi lahan, kemudian ketiga memang ada sejarah dalam patahan yang mengakibatkan kondisi formasi di bagian hulu lemah dan berpotensi terjadi longsor," kata Raditya Jati.
Bencana ini menyebabkan kerugiaan materiil yang sangat besar. Meski belum dihitung nilainya, namun kerusakan dari segi infrastruktur cukup banyak. Diantaranya meliputi 9 unit sekolah, 4.202 rumah, 13 unit rumah ibadah, 3 unit fasilitas kesehatan, 8 kantor pemerintah.
Banjir juga menyebabkan akses transportasi terdampak yakni di sepanjang 12,8 kilometer jalan rusak, dan 9 unit jembatan. Akses jalur Masamba-Baebunta juga tertimbun longsor. Kemudian 219 hektare lahan pertanian dan 245 hektare persawahan pun terdampak.
Sementara Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah, Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana, Badan Geologi, KESDM, Agus Budianto menjeleaskan, bencana banjir bandang di Luwu Utara bukan peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Bencana ini terjadi karena adanya akumulasi kondisi alam baik cuaca dan kondisi topografi wilayah.
Dia melanjutkan, bencana banjir di Kabupaten Luwu Utara tidak hanya disebabkan karwna curah hujan yang tinggi. Berdasarkan kunjungan Kepala BPNP RI beberapa waktu lalu, juga mengaku peristiwa ini pun karena ada faktor manusia, disamping faktor alam.
"Pertama curah hujan yang tinggi, kedua peralihan fungsi lahan, kemudian ketiga memang ada sejarah dalam patahan yang mengakibatkan kondisi formasi di bagian hulu lemah dan berpotensi terjadi longsor," kata Raditya Jati.
Bencana ini menyebabkan kerugiaan materiil yang sangat besar. Meski belum dihitung nilainya, namun kerusakan dari segi infrastruktur cukup banyak. Diantaranya meliputi 9 unit sekolah, 4.202 rumah, 13 unit rumah ibadah, 3 unit fasilitas kesehatan, 8 kantor pemerintah.
Banjir juga menyebabkan akses transportasi terdampak yakni di sepanjang 12,8 kilometer jalan rusak, dan 9 unit jembatan. Akses jalur Masamba-Baebunta juga tertimbun longsor. Kemudian 219 hektare lahan pertanian dan 245 hektare persawahan pun terdampak.
Sementara Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah, Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana, Badan Geologi, KESDM, Agus Budianto menjeleaskan, bencana banjir bandang di Luwu Utara bukan peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Bencana ini terjadi karena adanya akumulasi kondisi alam baik cuaca dan kondisi topografi wilayah.
Lihat Juga :