Hadapi MEA 2015, Pemerintah Tingkatkan Daya Saing IKM
Rabu, 22 April 2015 - 11:07 WIB
Hadapi MEA 2015, Pemerintah Tingkatkan Daya Saing IKM
A
A
A
PALEMBANG - Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pemerintah akan membuat pereko nomian nasional bersaing dengan para pelaku pasar di kawasan ASEAN.
Pemerintah m elalui Kementerian Perindustrian berupaya mening kat an daya saing IKM dan mendorong investasi di sektor industri. Hal itu dikatakan Menteri Per industrian dan Perdagangan, Sa leh Husein pada Rakornas Penyusunan Program Pemberdayaan IKM Tahun 2016 di Hotel Novotel Palembang, tadi malam. Menurut dia, industri kecil menengah atau IKM di Indone sia harus memiliki daya saing yang berstandar internasional.
“Melengkapi struktur indus tri yang masih kosong serta me nyiapkan strategi ofensif dan defensif dalam akses pasar,” tegas Saleh. Menurut dia, yang dilakukan Kementerian Perindustrian me la lui program pelaksanaan Direk torat Jenderal IKM, antara lain me liputi, penumbuhan wirausa ha baru, pembinaan IKM melalui pengembangan pro duk IKM dan peningkatan kemampuan sentra, pemberian bantuan mesin dan peralatan produksi. Selain itu, perluasan akses pasar melalui promosi dan pameran.
“Salah satunya, fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, fasilitasi sertifikasi mutu pro duk dan kemasan, serta fasilitasi pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR),”ujarnya. Menteri mengharapkan, berbagai program strategis tersebut dapat didukung secara sinergis oleh seluruh komponen masyarakat.
Untuk itu, Menperin berpesan kepada para peserta Rakornas dapat menyusun program pemberdayaan IKM tahun 2016 yang lebih bermanfaat bagi masya rakat dalam rangka pengembangan industri di daerah. Untuk lebih meningkatkan pe ran strategisnya, Saleh menjelas kan, pemberdayaan IKM saat ini diarahkan untuk memiliki tu juan jangka menengah guna mewujudkan industri kecil dan menengah yang berdaya saing, berperan signifikan dalam penguatan struktur industri nasional, pengentasan kemiskinan dan perluas an kesempatan kerja, serta menghasilkan barang dan/atau jasa Industri untuk keperluan ekspor.
“Pada tahun 2014, per tum - buh an industri pengolahan nonmi gas secara kumulatif se besar 5,36% atau lebih tinggi dari pertum buhan ekonomi (PDB) pa da periode yang sama sebesar 5,01%. Pada periode Januari – Desember 2014, nilai ekspor pro duk industri pengolahan non-migas mencapai USD 117,33 mi liar,”kata dia.
Sedangkan nilai impor menca pai USD 123,83 miliar sehingga ne raca perdagangan industri pengolahan non-migas pada periode yang sama sebesar USD –6,5 miliar dari neraca defisit. “Untuk memperkecil defisit tersebut, salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Perindustrian ada - lah memperberdayakan IKM yang merupakan bagian penting dalam perkembangan industri nasional,”jelas dia.
Sampai saat ini, IKM telah berkontribusi sebesar 34,56% terhadap pertumbuhan industri pe ngolahan non-migas secara keseluruhan. Angka ini dapat tercapai karena dukungan lebih kurang 3,5 juta unit usaha, yang merupa kan 90% dari total unit usaha in dustri nasional. Jumlah unit usa ha tersebut telah mampu menye rap tenaga kerja sebanyak 8,4 juta orang, yang tentunya berdampak pada meningkatnya ekonomi nasional serta mengurangi kemiskinan.
Sementara itu, Gubernur Sumsel, Alex Noerdin menegaskan, Pemprov Sumsel berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan industri kecil menengah, dengan cara mengutamakan sektor hilir. Sebab SDA Sumsel selama ini sering kali dijual dalam bentuk mentah. “TAA adalah target kita hilirisasi industri, dan kawasan tersebut kedepan akan menjadi sebuah (kawasan) industri,” sebut Alex.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Dodi Reza Alex mengatakan, Sumsel memiliki sejarah panjang dalam industri dengan terdapat pe rusahaan besar setingkat dunia yang beroperasi.
Muhammad uzair
Pemerintah m elalui Kementerian Perindustrian berupaya mening kat an daya saing IKM dan mendorong investasi di sektor industri. Hal itu dikatakan Menteri Per industrian dan Perdagangan, Sa leh Husein pada Rakornas Penyusunan Program Pemberdayaan IKM Tahun 2016 di Hotel Novotel Palembang, tadi malam. Menurut dia, industri kecil menengah atau IKM di Indone sia harus memiliki daya saing yang berstandar internasional.
“Melengkapi struktur indus tri yang masih kosong serta me nyiapkan strategi ofensif dan defensif dalam akses pasar,” tegas Saleh. Menurut dia, yang dilakukan Kementerian Perindustrian me la lui program pelaksanaan Direk torat Jenderal IKM, antara lain me liputi, penumbuhan wirausa ha baru, pembinaan IKM melalui pengembangan pro duk IKM dan peningkatan kemampuan sentra, pemberian bantuan mesin dan peralatan produksi. Selain itu, perluasan akses pasar melalui promosi dan pameran.
“Salah satunya, fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, fasilitasi sertifikasi mutu pro duk dan kemasan, serta fasilitasi pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR),”ujarnya. Menteri mengharapkan, berbagai program strategis tersebut dapat didukung secara sinergis oleh seluruh komponen masyarakat.
Untuk itu, Menperin berpesan kepada para peserta Rakornas dapat menyusun program pemberdayaan IKM tahun 2016 yang lebih bermanfaat bagi masya rakat dalam rangka pengembangan industri di daerah. Untuk lebih meningkatkan pe ran strategisnya, Saleh menjelas kan, pemberdayaan IKM saat ini diarahkan untuk memiliki tu juan jangka menengah guna mewujudkan industri kecil dan menengah yang berdaya saing, berperan signifikan dalam penguatan struktur industri nasional, pengentasan kemiskinan dan perluas an kesempatan kerja, serta menghasilkan barang dan/atau jasa Industri untuk keperluan ekspor.
“Pada tahun 2014, per tum - buh an industri pengolahan nonmi gas secara kumulatif se besar 5,36% atau lebih tinggi dari pertum buhan ekonomi (PDB) pa da periode yang sama sebesar 5,01%. Pada periode Januari – Desember 2014, nilai ekspor pro duk industri pengolahan non-migas mencapai USD 117,33 mi liar,”kata dia.
Sedangkan nilai impor menca pai USD 123,83 miliar sehingga ne raca perdagangan industri pengolahan non-migas pada periode yang sama sebesar USD –6,5 miliar dari neraca defisit. “Untuk memperkecil defisit tersebut, salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Perindustrian ada - lah memperberdayakan IKM yang merupakan bagian penting dalam perkembangan industri nasional,”jelas dia.
Sampai saat ini, IKM telah berkontribusi sebesar 34,56% terhadap pertumbuhan industri pe ngolahan non-migas secara keseluruhan. Angka ini dapat tercapai karena dukungan lebih kurang 3,5 juta unit usaha, yang merupa kan 90% dari total unit usaha in dustri nasional. Jumlah unit usa ha tersebut telah mampu menye rap tenaga kerja sebanyak 8,4 juta orang, yang tentunya berdampak pada meningkatnya ekonomi nasional serta mengurangi kemiskinan.
Sementara itu, Gubernur Sumsel, Alex Noerdin menegaskan, Pemprov Sumsel berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan industri kecil menengah, dengan cara mengutamakan sektor hilir. Sebab SDA Sumsel selama ini sering kali dijual dalam bentuk mentah. “TAA adalah target kita hilirisasi industri, dan kawasan tersebut kedepan akan menjadi sebuah (kawasan) industri,” sebut Alex.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Dodi Reza Alex mengatakan, Sumsel memiliki sejarah panjang dalam industri dengan terdapat pe rusahaan besar setingkat dunia yang beroperasi.
Muhammad uzair
(ars)