DKI Diminta Beri Kepastian Nasib Bus Sedang di Ibu Kota
Sabtu, 18 April 2015 - 09:25 WIB
DKI Diminta Beri Kepastian Nasib Bus Sedang di Ibu Kota
A
A
A
JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta harus memberikan kepastian apakah akan menghapus seluruh bus sedang atau tidak terkait kesiapan menerima 2.000 unit bus besar dari PT Hino Motor Sales Indonesia.
Pengamat transportasi dari Universitas Tarumanegara Leksmono Suryo Putranto mengapresiasi kesiapan Pemprov DKI Jakarta menampung 2.000 unit bus besar. Apalagi Jakarta membutuhkan transportasi masal sebanyak-banyaknya.
Namun, Leksmono meminta Pemprov DKI memberikan kepastian apakah kedatangan bus tersebut akan menghapus bus sedang atau tidak. Sebab, infrastruktur di Ibu Kota masih membutuhkan angkutan umum jenis bus sedang.
"Infrastruktur di Jakarta ini sama seperti Hong Kong. Mereka masih membutuhkan bus sedang. Kalau mau dihapus seharusnya angkutan mikrolet saja," kata Leksmono saat dihubungi, Jumat 17 April kemarin. Leksmono menjelaskan, untuk merevitalisasi angkutan umum terpenting itu adalah kepastian jadwal antarjemput penumpang.
Kepastian jadwal bisa didukung dengan jalur khusus bus seperti bus Transjakarta. Namun, bukan berarti bus sedang tidak boleh melintas di jalur khusus. "Kan tinggal dibuat pintu ganda saja seperti Kopaja AC yang ada saat ini. Kalau hanya sebagai penunjang, otomatis trayek bus sedang dihapus dan pengusaha dipaksa untuk membeli bus besar," ucapnya.
Pengamat transportasi dari Universitas Tarumanegara Leksmono Suryo Putranto mengapresiasi kesiapan Pemprov DKI Jakarta menampung 2.000 unit bus besar. Apalagi Jakarta membutuhkan transportasi masal sebanyak-banyaknya.
Namun, Leksmono meminta Pemprov DKI memberikan kepastian apakah kedatangan bus tersebut akan menghapus bus sedang atau tidak. Sebab, infrastruktur di Ibu Kota masih membutuhkan angkutan umum jenis bus sedang.
"Infrastruktur di Jakarta ini sama seperti Hong Kong. Mereka masih membutuhkan bus sedang. Kalau mau dihapus seharusnya angkutan mikrolet saja," kata Leksmono saat dihubungi, Jumat 17 April kemarin. Leksmono menjelaskan, untuk merevitalisasi angkutan umum terpenting itu adalah kepastian jadwal antarjemput penumpang.
Kepastian jadwal bisa didukung dengan jalur khusus bus seperti bus Transjakarta. Namun, bukan berarti bus sedang tidak boleh melintas di jalur khusus. "Kan tinggal dibuat pintu ganda saja seperti Kopaja AC yang ada saat ini. Kalau hanya sebagai penunjang, otomatis trayek bus sedang dihapus dan pengusaha dipaksa untuk membeli bus besar," ucapnya.
(whb)