UN di Padang Berlangsung Manual Tanpa Pengawalan Polisi
Senin, 13 April 2015 - 10:05 WIB
UN di Padang Berlangsung Manual Tanpa Pengawalan Polisi
A
A
A
PADANG - Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Kejuruan (SMK), hari ini di Kota Padang, Sumatera Barat, dilaksanakan secara manual, tanpa pengawalan ketat aparat kepolisian dan diknas pendidikan.
Seperti yang tampak di SMK Negeri 6 Kota Padang. Ujian yang dilakukan pada hari ini diikuti oleh 313 siswa, dari 316 siswa yang terdaftar.
Tiga orang siswa yang tidak mengikuti ujian, dikarenakan mengundurkan diri dari sekolah beberapa bulan sebelumnya.
Pada pelaksanaan ujian nasional kali ini, tidak tampak adanya ketegangan dan rasa cemas dan ketakutan dari siswa dalam menjawab lembaran soal, serta tidak tampak pengawalan ketat dari aparat kepolisian dan pihak dinas pendidikan.
Hal ini berbeda dengan ujian pada tahun sebelumnya yang cenderung lebih ketat, baik dari segi pengawasan dan lainnya.
Pelaksanaan ujian di Padang, dilakukan secara manual karena tidak siapnya prasarana komputerisasi dari sekolah masing-masing.
Sementara itu, peserta ujian dari siswa disabilitas hanya diikuti oleh satu orang siswa penderita tuna rungu, di Sekolah Luar Biasa (SLB) Wacana Asih, Alang Lawas, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.
Siswa yang bernama Kharisma Heru, penyandang disabilitas ini tampak serius mengikuti ujian Bahasa Indonesia dengan pengawasan dua orang guru.
Jumlah siswa disabilitas yang mengikuti ujian nasional tingkat SMA/SMK tahun ini jauh menurun dibanding tahun lalu, hingga 200%.
Seperti yang tampak di SMK Negeri 6 Kota Padang. Ujian yang dilakukan pada hari ini diikuti oleh 313 siswa, dari 316 siswa yang terdaftar.
Tiga orang siswa yang tidak mengikuti ujian, dikarenakan mengundurkan diri dari sekolah beberapa bulan sebelumnya.
Pada pelaksanaan ujian nasional kali ini, tidak tampak adanya ketegangan dan rasa cemas dan ketakutan dari siswa dalam menjawab lembaran soal, serta tidak tampak pengawalan ketat dari aparat kepolisian dan pihak dinas pendidikan.
Hal ini berbeda dengan ujian pada tahun sebelumnya yang cenderung lebih ketat, baik dari segi pengawasan dan lainnya.
Pelaksanaan ujian di Padang, dilakukan secara manual karena tidak siapnya prasarana komputerisasi dari sekolah masing-masing.
Sementara itu, peserta ujian dari siswa disabilitas hanya diikuti oleh satu orang siswa penderita tuna rungu, di Sekolah Luar Biasa (SLB) Wacana Asih, Alang Lawas, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.
Siswa yang bernama Kharisma Heru, penyandang disabilitas ini tampak serius mengikuti ujian Bahasa Indonesia dengan pengawasan dua orang guru.
Jumlah siswa disabilitas yang mengikuti ujian nasional tingkat SMA/SMK tahun ini jauh menurun dibanding tahun lalu, hingga 200%.
(san)