Aktif Menjaga Kebersihan saat Mendaki Gunung

Rabu, 04 Februari 2015 - 12:55 WIB
Aktif Menjaga Kebersihan...
Aktif Menjaga Kebersihan saat Mendaki Gunung
A A A
SEMARANG - Komunitas pendaki gunung Walad berdiri sejak tiga tahun lalu, tepatnya 12 Oktober 2012. Bukan sekadar menyalurkan hobi, kelompok pemuda pencinta alam ini bertekad menaklukkan semua gunung.

Berawal dari kecintaan terhadap kegiatan sosial komunitas ini lalu didirikan. Walad diambil dari bahasa Arab yang diartikan orang tua dan anak. Nama ini tercetus saat anggota komunitas dalam perjalanan pendakian ke puncak Gunung Sindoro, Temanggung.

“Waktu itu dalam perjalanan ada sebanyak delapan orang, di dalam perjalanan kita sambil ngobrol, dan dari obrolan itulah akhirnya arahnya membahas nama kelompok,” ujar Rofik, 24, anggota komunitas yang juga mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Para pendaki yang tergabung dalam komunitas Walad tidak sekadar melakukan pendakian. Di perjalanan, mereka juga sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan. Tidak seperti para pendaki, biasanya pemula, yang dengan seenaknya membuang bungkus makanan dan minuman sembarangan saat mendaki.

“Maka dari situlah komunitas ini kami dirikan, guna membantu kebersihan. Menurut kami, kebersihan itu tidak terbatas tempatnya. Bukan hanya dalam perkotaan, tetapi pegunungan juga harus tetap bersih. Boleh punya hobi namun harus berwawasan sosial dan peduli,” tandasnya.

Saat ini anggota Walad yang aktif pendakian hanya 25 dari 30 orang. Menurut Rofik, anggota komunitas tidak hanya terdiri atas anak kampus, tapi semua kalangan. Selama ini anggota Walad sudah banyak melakukan pendakian di beberapa gunung. “Seperti Gunung Sindoro, Ungaran, dan Merbabu itu sering. Sedangkan gunung lain seperti Mahameru, kami jarang,” ucap Rofik.

Pengalaman pendakian gunung paling dramatis saat mendaki Gunung Sindoro, 12 Januari 2014. Saat itu terjadi badai hingga anggota tim ada yang terkena hipotermia. “Dua anggota kami hipotermia sehingga kami harus membagi dua tim untuk membawa turun. Sedangkan lainnya melanjutkan perjalanan pendakian. Selain itu, tenda kami juga robek terkena badai itu,” ungkap Rofik.

Meskipun perjalanan pendakian ke Gunung Sindoro hanya butuh waktu tidak sampai 24 jam, sangat terkesan dibandingkan perjalanan ke Gunung Mahameru yang sudah banyak dikenal orang. “Kalau di Mahameru memang perjalanan sangat lama, bisa 4- 5 hari. Namun saat sampai puncak, temen-temen malah merasa tidak puas, mungkin terlalu ramai. Bahkan, tidak ada sesuatu yang paling berkesan. Memang dalam pendakian kita harus memiliki niat dan tujuan baik,” katanya.

Pendakian tidak banyak membutuhkan biaya, terpenting niat dan tujuan. Maka, sesuai dari awal terbentuk anggota komunitas Walad untuk membantu semua kalangan dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

“Kita hanya membawa tenda, perbekalan makanan, alat sabit, dan kebutuhan lain saat mendaki. Namun kalau soal materi, kita tidak memiliki batasan. Kita bersifat gotong-royong dan tidak harus menentukan jumlah uang yang harus dibawa,” tandas Rofik.

Sepudin, 23, salah satu anggota komunitas mengatakan, dia dan temantemannya semuanya hobi pendaki. Hanya pendakiannya tidak hanya ingin menyalurkan sebuah hobi, tetapi juga harus berwawasan tinggi, khususnya peka terhadap lingkungan sekitar. “Diharapkan kebersihan dan kelestarian ekologi tetap terjaga. Kalau saya menggambarkan, naik gunung bukan sekadar menaklukkannya, lebih dari itu belajar dari kebaikan alam yang sering kita lupakan,” ucapnya.

Dia menilai pengetahuan tentang alam itu bisa menambah rasa cinta terhadap Tanah Air. Komunitas Walad ini dalam melakukan pendakian juga setelah para pendaki lain sudah perjalanan turun. Hal itu dengan tujuan membersihkan sisa-sisa sampah yang ditinggalkan para pendaki.

“Harapannya, para pendaki lain juga ikut memiliki kesadaran melakukan kebersihan hutan. Nanti gunung atau hutan juga untuk generasi kita mendatang. Jika tidak, kita yang memulai membersihkan, siapa lagi,” tandasnya.

Selain itu, komunitas ini juga kerap kali melakukan kegiatan sosial bersih sungai, pelatihan teknik pendakian, dan santunan anak-anak yatim.

M Abduh
(ftr)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
20 menit yang lalu
24 RW di Jakarta Bakal...
24 RW di Jakarta Bakal Alami Gangguan Air Bersih, Ini Penyebabnya
1 jam yang lalu
Tarif Sejumlah Rute...
Tarif Sejumlah Rute Transjabodetabek Bakal Dinaikkan, Termasuk Blok M-Bandara Soetta
2 jam yang lalu
CFD Rasuna Said Tetap...
CFD Rasuna Said Tetap Digelar Minggu 7 Juni, Catat Waktunya!
2 jam yang lalu
Kebakaran Permukiman...
Kebakaran Permukiman Warga di Cideng, 5 Orang Terluka dan 1 Tewas
4 jam yang lalu
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Berangsur Normal setelah Kebakaran di Sekitar Rel Dipadamkan
4 jam yang lalu
Infografis
Daftar 26 Jalan Tol...
Daftar 26 Jalan Tol yang Diskon hingga 20% saat Nataru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved