Berpuisi Memberi Banyak Kebahagiaan

Senin, 02 Februari 2015 - 10:49 WIB
Berpuisi Memberi Banyak...
Berpuisi Memberi Banyak Kebahagiaan
A A A
BANDUNG - Pilihan menjadi seorang seniman, tentu memunculkan banyak konsekwensi. Tak terkecuali para penyair yang mencurahkan hidupnya membuat puisi.

Berbagai garis pun dibuat, agar pilihan hidupnya tidak menjadi penyair yang hidup dari proposal atau membuat karya seni cabul. Hal itu pula yang ditekankan penyair Bandung Mat Don. Bagi dia, puisi harus dijadikan ‘agama’ bagi para penyair. Jika tidak, para penyair akan keluar garis seni yang selama ini dijunjung tinggi. Menurut dia, puisi memang tidak menjamin dirinya masuk surge, sebagaimana agama yang juga tidak menjamin masuk surga.

Sebab, ketentuan masuk atau tidaknya seseorang masuk surga hanyalah Tuhan. “Berpuisi harus dijadikan alat kegembiraan seperti halnya kesadaran beragama. Bagi saya, menulis puisi dapat memberikan banyak kebahagiaan, meskipun tidak menjanjikan masuk surga sebagaimana agama,” ungkap Mat Don dalam acara Pesta Puisi Tiga Kota(Bandung, Yogyakarta, Denpasar) di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, kemarin.

Bagi dia, puisi ditulis untuk menemukan potongan tubuh. Ia akan terus menulis puisi karena takut kehilangan keimanannya dalam memotret keadaan sosial, ekonomi, politik, budaya, dan kehidupan sehari-hari.

Penyair yang sudah menetaskan enam buku antologi puisi tunggal ini berpandangan, sulit sekali jadi penyair. Sebab, penyair ibarat ulama yang merupakan ‘landihan’ dari masyarakat. “Tidak mudah menjadi penyair. Selain karena proses yang ditempuh, tentu saja takdir Tuhan-lah yang menjadikan seseorang penyair,” katanya.

Baginya, kekuatan teks masih bisa berdampak pada kehidupan sosial serta merubah segalanya. Menulis, kata dia, masih merupakan alat ‘protes’ yang efektif bagi kesewenang-wenangan. Pernah dia ditangkap aparat kepolisian karena menulis puisi meskipun akhirnya tidak sampai ditahan.

Kejadian tersebut tidak membuatnya jera karena baginya, menulis puisi merupakan kesaksian hidup baik dari sisi sosial, politik, budaya, maupun ekonomi. “Puisi saya yang berjudul ustadz televisi juga pernah mendapat respons dari ustadz ternama di Indonesia,” sebutnya.

Selain menghadirkan pembacaan kredo kepenyairan Mat Don selama 25 tahun, juga menampilkan beberapa penyair ternama di antaranya Ratna Ayu Budhiarti, Ratna M Rohiman, Dedy Koral, Faisal Syahreza, Semi Ikra Anggara, Saut Situmorang, dan Wayan Jengki. Selain itu, ada juga penampilan musik dari Adew Habtsa, Mukti-Mukti dan Sisca Guzheng Harp.

Fauzan
(ftr)
Berita Terkait
Ridwan Kamil, Gubernur...
Ridwan Kamil, Gubernur yang Inspiratif
Upaya Pelestarian Batik...
Upaya Pelestarian Batik Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat...
Gubernur Jawa Barat Tandatangani Kerja Sama Banjir dan Longsor
PR Besar, Ribuan Kilometer...
PR Besar, Ribuan Kilometer Jalan di Jabar Minim Fasilitas Lalu Lintas
Gubernur Jabar Serahkan...
Gubernur Jabar Serahkan Bantuan kepada Mahasiswa Papua
Investasi di Jabar Tertinggi,...
Investasi di Jabar Tertinggi, Kang Emil Kalahkan Anies, Khofifah, dan Ganjar
Berita Terkini
Diskominfo Tangsel Bagikan...
Diskominfo Tangsel Bagikan Transformasi Digital Pelayanan Publik ke BPSDMD Jateng
20 menit yang lalu
Bersama Rumah Baca Empat...
Bersama Rumah Baca Empat Jagoan, MNC Peduli Berbagi Buku Dongeng dan Lomba Mewarnai
30 menit yang lalu
Pemkot Tangsel-Kemensos...
Pemkot Tangsel-Kemensos Gelar Bakti Sosial Terintegrasi, Warga Rasakan Manfaat Beragam Layanan
1 jam yang lalu
MR.D.I.Y. Perluas Program...
MR.D.I.Y. Perluas Program Menginspirasi Generasi Inovator, Jangkau 8.600 Anak
1 jam yang lalu
PWI Laporkan Hotman...
PWI Laporkan Hotman Paris ke Polisi, Sahroni Yakin Diusut secara Transparan
3 jam yang lalu
Pembangunan Fakultas...
Pembangunan Fakultas Kedokteran Telkom University di Bandung Rampung
3 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved