Biang Kemacetan, Ojek di Tanah Abang Akan Ditata
Selasa, 20 Januari 2015 - 01:35 WIB
Biang Kemacetan, Ojek di Tanah Abang Akan Ditata
A
A
A
JAKARTA - Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Pusat akan berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait kemacetan di depan pintu keluar Stasiun Tanah Abang. Kemacetan itu diakibatkan ratusan tukang ojek yang mangkal hingga ke badan jalan.
"Jika PT KAI sudah mengijinkan, maka di dorong tukang ojek untuk mundur," kata Kasudin Perhubungan Jakarta Pusat Muslim di Jakarta, Senin 19 Januari 2015.
Akibat ulah tukang ojek itu, kata dia, angkutan umum lainnya juga ikut mengetem sembarangan guna mengangkut penumpang. Maka itu, dia menuturkan, tukang ojek merupakan biang kerok dari kemacetan di wilayah tersebut.
"Kemacetan di kawasan tersebut berawal dari tukang ojek. Jika tukang ojek sudah kami dorong, maka tidak ada alasan untuk angkutan umum berhenti semaunya," katanya.
Untuk jangka panjangnya, kata dia, PT KAI diwajibkan membuat jembatan ke arah Blok G sebagai satu satunya pintu keluar Stasiun. Sehingga semua penumpang yang turun harus ke Blok G terlebih dahulu.
"Rencana ini sudah diaplikasikan, nanti pembangunan jembatan, bukan hanya oleh PT KAI. Tapi juga oleh Pemprov DKI," tuturnya.
Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin mengaku, pihaknya belum mendapat kabar bahwa akan ada peminjaman lahan yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Pusat. Dirinya mengatakan, lahan yang baru dibebaskan nantinya akan digunakan sebagai pintu masuk.
"Yang sekarang ini dijadikan pintu keluar pada pertengahan 2015 akan diubah menjadi pintu masuk penumpang," tuturnya.
Agus mengatakan, ke depan tidak ada tukang ojek yang menunggu penumpang di bahu Jalan. Sebab kawasan yang sekarang selalu macet akan diubah fungsinya.
"Saya sudah dengar rencana Pemprov untuk membuat jembatan yang menghubungkan Stasiun ke Blok G. Tapi selama jembatan belum ada, nantinya penumpang kereta commuter akan keluar di Stasiun Utama Tanah Abang," katanya.
Endang, salah seorang tukang ojek mengaku tidak keberatan jika harus direlokasi ke tempat yang lebih dalam, asal semua tukang ojek mengikuti peraturan yang ada. Sebab, menurutnya, ada sebagian tukang ojek yang enggan ditertibkan lantaran terbentur dengan penghasilan.
"Kalau saya selama masih diberi kesempatan untuk mencari nafkah akan saya ikuti. Tapi kalau digusur saya tolak," pungkasnya.
"Jika PT KAI sudah mengijinkan, maka di dorong tukang ojek untuk mundur," kata Kasudin Perhubungan Jakarta Pusat Muslim di Jakarta, Senin 19 Januari 2015.
Akibat ulah tukang ojek itu, kata dia, angkutan umum lainnya juga ikut mengetem sembarangan guna mengangkut penumpang. Maka itu, dia menuturkan, tukang ojek merupakan biang kerok dari kemacetan di wilayah tersebut.
"Kemacetan di kawasan tersebut berawal dari tukang ojek. Jika tukang ojek sudah kami dorong, maka tidak ada alasan untuk angkutan umum berhenti semaunya," katanya.
Untuk jangka panjangnya, kata dia, PT KAI diwajibkan membuat jembatan ke arah Blok G sebagai satu satunya pintu keluar Stasiun. Sehingga semua penumpang yang turun harus ke Blok G terlebih dahulu.
"Rencana ini sudah diaplikasikan, nanti pembangunan jembatan, bukan hanya oleh PT KAI. Tapi juga oleh Pemprov DKI," tuturnya.
Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin mengaku, pihaknya belum mendapat kabar bahwa akan ada peminjaman lahan yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Pusat. Dirinya mengatakan, lahan yang baru dibebaskan nantinya akan digunakan sebagai pintu masuk.
"Yang sekarang ini dijadikan pintu keluar pada pertengahan 2015 akan diubah menjadi pintu masuk penumpang," tuturnya.
Agus mengatakan, ke depan tidak ada tukang ojek yang menunggu penumpang di bahu Jalan. Sebab kawasan yang sekarang selalu macet akan diubah fungsinya.
"Saya sudah dengar rencana Pemprov untuk membuat jembatan yang menghubungkan Stasiun ke Blok G. Tapi selama jembatan belum ada, nantinya penumpang kereta commuter akan keluar di Stasiun Utama Tanah Abang," katanya.
Endang, salah seorang tukang ojek mengaku tidak keberatan jika harus direlokasi ke tempat yang lebih dalam, asal semua tukang ojek mengikuti peraturan yang ada. Sebab, menurutnya, ada sebagian tukang ojek yang enggan ditertibkan lantaran terbentur dengan penghasilan.
"Kalau saya selama masih diberi kesempatan untuk mencari nafkah akan saya ikuti. Tapi kalau digusur saya tolak," pungkasnya.
(mhd)