Dua Hari, Tiga Tewas Akibat Miras Oplosan
Selasa, 16 Desember 2014 - 12:55 WIB
Dua Hari, Tiga Tewas Akibat Miras Oplosan
A
A
A
SLEMAN - Korban tewas akibat minuman keras (miras) oplosan terus bermunculan. Selama dua hari kemarin, setidaknya terdapat tiga orang warga tewas, dan dua orang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sleman setelah melakukan pesta miras di tempat berbeda pada Sabtu (13/12) lalu.
Lokasi pesta miras pertama terjadi di daerah Trimulyo, Sleman. Pesta miras itu dilakukan oleh enam orang warga yakni Agus selaku pemilik rumah, dan para tetangganya yakni Budi Susanto, Triyadi, Edot, Abdul Wahid, dan Yudha. Setelah menenggak miras oplosan, mereka tak langsung mengeluhkan sakit. Namun selang sehari, beberapa di antaranya baru merasakan efek dari minuman yang mereka tenggak.
Triyadi yang kondisinya kritis dan sempat dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya pun akhirnya sekitar pukul 14.00 WIB kemarin, nyawanya tak tertolong. Tewasnya Triyadi itu menyusul Abdul Wahid yang sudah terlebih dulu mengembuskan nafas terakhir di rumahnya, sebelum sempat mendapatkan perawatan medis.
Sedangkan, dua korban yang masih mendapatkan perawatan medis di RSUD Sleman yakni Budi Santoso dan Edot. Kapolsek Sleman AKP Teguh Sumartoyo mengungkapkan, begitu mendapatkan informasi adanya warga yang tewas akibat miras oplosan, pihaknya pun langsung mendatangi rumah duka dilanjutkan mengecek korban yang dirawat di rumah sakit.
Dari keterangan yang dihimpun, enam orang itu pesta miras tidak bersamaan, ada yang mulai sejak Sabtu (13/12) pagi, namun ada yang ikut menyusul tengah malam. "Mereka itu minum di tempat Agus, Edot sendiri tadi sempat mau kami periksa, tapi mengeluhkan sakit dan langsung dibawa keluarganya ke rumah sakit," ungkapnya, saat ditemui di RSUD Sleman.
Agus, selaku pemilik rumah yang bekerja sebagai kernet pun berdasarkan informasi diterima mengeluhkan sakit saat menempuh perjalanan menuju Jakarta. Untuk menelusuri jenis miras yang diminum, siang kemarin polisi mencari sisa-sisa miras di lokasi rumah Agus.
Hasil penyisiran yang dilakukan, polisi mendapatkan 15 botol bekas miras dan tiga botol bekas minuman suplemen. "Kami lanjutkan menelusuri di mana mereka beli dan kami berhasil dapatkan penjualnya. Mirasnya itu, biasa orang menyebut beningan," bebernya. Penjual miras mematikan itu diketahui bernama Catur, 25, yang merupakan warga setempat.
Hingga sore kemarin, Catur pun masih menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Sleman untuk dilakukan pengembangan. Sebab, Catur sendiri mengaku hanya menjual dan tidak meracik miras mematikan itu. Adapun di rumah Catur polisi tidak mendapatkan sisa miras yang dijual.
Surahman, 43, warga Trimulyo, Sleman yang juga merupakan paman dari korban Budi Santoso saat ditemui di RSUD Sleman mengatakan, keponakannya sewaktu di rumah mengeluhkan pusing dan badannya lemas.
Dia pun tidak mengerti jauh mengenai miras yang diminum, hanya saja berdasarkan informasi yang dia terima, keponakannya itu bersama teman-temannya minum miras jenis Sari Vodka. "Keluhannya itu pusing sama lemas. Sabtu pagi mabuknya, masuk (rumah sakit) tadi pagi," katanya.
Sementara itu, korban tewas yang diduga akibat miras oplosan yang lain yakni Rud Marisa Febriyana Tampubolon, 19, perempuan yang tinggal di Dusun Jambon, Sidumartani, Ngemplak. Dari penyelidikan kepolisian Polsek Ngemplak diketahui Sabtu (13/12) pukul 23.00 WIB, korban dijemput di tempat tinggalnya oleh seorang pria. Korban yang juga mengalami sakit mag kronis itu pada Minggu (14/12) pukul 06.50 WIB dilarikan ke RS JIH Sleman kemudian pukul 07.00 WIB diketahui telah tewas.
Sementara itu, Polres Bantul terus melakukan penyelidikan kasus minuman keras (miras) oplosan yang merenggut dua nyawa warga Bantul tersebut. Polres meminta kepada Ari, warga Dusun Code, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul untuk menyerahkan diri. Kapolres Bantul AKBP Surawan SIK mengatakan, pihaknya masih memburu Ari, rekan satu dusun dengan kedua korban yang meninggal tersebut.
Ari disinyalir bertanggung jawab terhadap kematian keduanya karena konon Ari-lah yang mengajak mereka berpesta miras oplosan. Ari juga yang diduga mengetahui asal dan jenis miras oplosan tersebut.
Muji Barnugroho/ Erfanto Linangkung
Lokasi pesta miras pertama terjadi di daerah Trimulyo, Sleman. Pesta miras itu dilakukan oleh enam orang warga yakni Agus selaku pemilik rumah, dan para tetangganya yakni Budi Susanto, Triyadi, Edot, Abdul Wahid, dan Yudha. Setelah menenggak miras oplosan, mereka tak langsung mengeluhkan sakit. Namun selang sehari, beberapa di antaranya baru merasakan efek dari minuman yang mereka tenggak.
Triyadi yang kondisinya kritis dan sempat dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya pun akhirnya sekitar pukul 14.00 WIB kemarin, nyawanya tak tertolong. Tewasnya Triyadi itu menyusul Abdul Wahid yang sudah terlebih dulu mengembuskan nafas terakhir di rumahnya, sebelum sempat mendapatkan perawatan medis.
Sedangkan, dua korban yang masih mendapatkan perawatan medis di RSUD Sleman yakni Budi Santoso dan Edot. Kapolsek Sleman AKP Teguh Sumartoyo mengungkapkan, begitu mendapatkan informasi adanya warga yang tewas akibat miras oplosan, pihaknya pun langsung mendatangi rumah duka dilanjutkan mengecek korban yang dirawat di rumah sakit.
Dari keterangan yang dihimpun, enam orang itu pesta miras tidak bersamaan, ada yang mulai sejak Sabtu (13/12) pagi, namun ada yang ikut menyusul tengah malam. "Mereka itu minum di tempat Agus, Edot sendiri tadi sempat mau kami periksa, tapi mengeluhkan sakit dan langsung dibawa keluarganya ke rumah sakit," ungkapnya, saat ditemui di RSUD Sleman.
Agus, selaku pemilik rumah yang bekerja sebagai kernet pun berdasarkan informasi diterima mengeluhkan sakit saat menempuh perjalanan menuju Jakarta. Untuk menelusuri jenis miras yang diminum, siang kemarin polisi mencari sisa-sisa miras di lokasi rumah Agus.
Hasil penyisiran yang dilakukan, polisi mendapatkan 15 botol bekas miras dan tiga botol bekas minuman suplemen. "Kami lanjutkan menelusuri di mana mereka beli dan kami berhasil dapatkan penjualnya. Mirasnya itu, biasa orang menyebut beningan," bebernya. Penjual miras mematikan itu diketahui bernama Catur, 25, yang merupakan warga setempat.
Hingga sore kemarin, Catur pun masih menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Sleman untuk dilakukan pengembangan. Sebab, Catur sendiri mengaku hanya menjual dan tidak meracik miras mematikan itu. Adapun di rumah Catur polisi tidak mendapatkan sisa miras yang dijual.
Surahman, 43, warga Trimulyo, Sleman yang juga merupakan paman dari korban Budi Santoso saat ditemui di RSUD Sleman mengatakan, keponakannya sewaktu di rumah mengeluhkan pusing dan badannya lemas.
Dia pun tidak mengerti jauh mengenai miras yang diminum, hanya saja berdasarkan informasi yang dia terima, keponakannya itu bersama teman-temannya minum miras jenis Sari Vodka. "Keluhannya itu pusing sama lemas. Sabtu pagi mabuknya, masuk (rumah sakit) tadi pagi," katanya.
Sementara itu, korban tewas yang diduga akibat miras oplosan yang lain yakni Rud Marisa Febriyana Tampubolon, 19, perempuan yang tinggal di Dusun Jambon, Sidumartani, Ngemplak. Dari penyelidikan kepolisian Polsek Ngemplak diketahui Sabtu (13/12) pukul 23.00 WIB, korban dijemput di tempat tinggalnya oleh seorang pria. Korban yang juga mengalami sakit mag kronis itu pada Minggu (14/12) pukul 06.50 WIB dilarikan ke RS JIH Sleman kemudian pukul 07.00 WIB diketahui telah tewas.
Sementara itu, Polres Bantul terus melakukan penyelidikan kasus minuman keras (miras) oplosan yang merenggut dua nyawa warga Bantul tersebut. Polres meminta kepada Ari, warga Dusun Code, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul untuk menyerahkan diri. Kapolres Bantul AKBP Surawan SIK mengatakan, pihaknya masih memburu Ari, rekan satu dusun dengan kedua korban yang meninggal tersebut.
Ari disinyalir bertanggung jawab terhadap kematian keduanya karena konon Ari-lah yang mengajak mereka berpesta miras oplosan. Ari juga yang diduga mengetahui asal dan jenis miras oplosan tersebut.
Muji Barnugroho/ Erfanto Linangkung
(ftr)