Pemerintah Diminta Fokus

Senin, 17 November 2014 - 17:57 WIB
Pemerintah Diminta Fokus
Pemerintah Diminta Fokus
A A A
BANDUNG - Pengamat ekonomi, Universitas Pasun dan Acuviarta Kartabi menilai, pemerintahan Joko Widodo di nilai tidak belajar banyak dari pemerintahan sebelumnya terkait isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Acuviarta mengungkapkan, wacana kenaikan BBM ber subsidi yang tak kunjung diputuskan membuat banyak spekulasi kenaikan harga beberapa komoditas dipasaran. “Pemerintah sekarang jauh lebih buruk kebijakannya (rencana menaik kan harga BBM) daripada pemerintahan sebelumnya. Pemerintah malah lebih sibuk melakukan sosialisasi kartu sakti dari pada melakukan analisis mendalam mengenai dampak kenaikan BBM bersubsidi,” kata Acuviarta, kemarin.

Menurut dia, pemerintah harus segera mengurangi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap inflasi. Siapa yang berhak memutuskan, kapan waktu yang tepat menaikkan BBM, mesti fokus mengenai dampak rencana kenaikan harga ini. “Di akhir tahun ini bertepatan dengan realisasi ang garan yang besar, belum lagi kondisi harga minyak dunia sedang turun.

Dan tak bisa dilupakan ren cana penyesuaian kenaikkan upah minimum kabupaten/ kota,” ungkap dia. Menyinggung pernyataan Bank Indonesia (BI) yang memprediksi dampak kenaikan har ga BBM bersubsidi terhadap in flasi hanya akan berlangsung selama tiga bulan, dia tidak menampiknya. Tetapi, persoalan yang kemudian terjadi adalah daya beli masyarakat tetap lebih rendah. “Setelah tiga bulan kenaikan harga BBM bersubsidi itu pendapatan masyarakat tetap di angka yang lama, sedangkan harga-harga komoditas sudah baru. Sama saja bohong, kesejahteraan masyarakat tidak meningkat, justru daya beli mereka menurun,” katanya.

Dia berharap, pemerintah membuat regulasi terkait kenaikan hargaharga dampak dari kenaikkan BBM bersubsidi nantinya. Jangan sampai para pedagang memanfaatkan momen kenaikkan BBM bersubsidi dengan menaikkan harga-harga seenaknya. “Pemerintah juga sebaiknya berkoordinasi dengan kalangan dunia usaha mengenai dampaknya terhadap mereka. Agar dampak kenaikan BBM bersubsidi ini tidak mem buat dunia usaha menaikkan harga komoditi di luar kewajaran atau malah jadi gulung tikar,” tuturnya.

Transaksi Saham Turun

Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak hanya berdampak pada kenaikan harga komoditas yang digunakan langsung oleh rumah tangga. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, isu kenaik an harga BBM bersubsidi juga berdampak pada menurunnya transaksi saham. “Isu kenaikan BBM bersubsidi sempat membuat nilai transaksi saham turun hingga hanya Rp5 triliun/hari.

Padahal dalam kondisi normal, rata-rata nilai transaksi saham mencapai Rp6 triliun/hari,” ungkap Head of Economic Analysis Unit Research & Development Division BEI R Haidir Musa kepada wartawan di sela acara Smart Investment Course ‘Challenge and Opportunity Towards Indonesia’s Stock Market di Unpad akhir pekan lalu. Hal tersebut menurutnya diakibatkan oleh sikap para pelaku usaha yang menunggu pemerintah memastikan besaran kenaikan harga BBM bersubsidi.

“Bursa menjadi sepi karena banyak pelaku usaha yang memilih untuk wait and see,” sambungnya. Karena itu, pihaknya ber ha rap pemerintah sesegera mung kin memutuskan untuk me naik kan atau tidak harga BBM bersubsidi. Menurutnya, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi karena sentimen pasar yang positif terhadap pemerintahan Jokowi.

“Keputusan naik atau tidaknya BBM bersubsidi sangat penting demi memberikan kepastian ke - pada pelaku usaha,” sebutnya. Lebih lanjut dia menga takan, sentiment pasar akan tetap positif meski terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi dengan catatan subsidi dialihkan kepada sektor produktif seperti pembangunan infrastruktur. “Pembangunan infrastruktur akan mendorong pergerakan saham-saham sektor konstruksi, di antaranya saham perusahaan semen. Sementara yang akan terimbas kenaikan harga BBM bersubsidi adalah saham perbankan karena inflasi akan naik,” katanya.

Dia memperkirakan, gejolak pasar modal tidak akan berlangsung lama hanya sesaat berkisar antara dua bulan hingga tiga bulan. Adapun rata-rata total transaksi saham hingga saat ini se kitar Rp6,03 triliun/hari, se dang kan target yang ingin di capai pihaknya sebesar Rp6,4 triliun/hari. “Kami menar get kan rata-rata total nilai tran saksi perdagangan saham se - besar Rp6,4 triliun/hari. Lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2013 sebesar Rp6,2 triliun/ hari,” katanya.

Fauzan
(bhr)
Berita Terkait
Ridwan Kamil, Gubernur...
Ridwan Kamil, Gubernur yang Inspiratif
Upaya Pelestarian Batik...
Upaya Pelestarian Batik Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat...
Gubernur Jawa Barat Tandatangani Kerja Sama Banjir dan Longsor
PR Besar, Ribuan Kilometer...
PR Besar, Ribuan Kilometer Jalan di Jabar Minim Fasilitas Lalu Lintas
Gubernur Jabar Serahkan...
Gubernur Jabar Serahkan Bantuan kepada Mahasiswa Papua
Investasi di Jabar Tertinggi,...
Investasi di Jabar Tertinggi, Kang Emil Kalahkan Anies, Khofifah, dan Ganjar
Berita Terkini
Bripka Dedy Wiratama...
Bripka Dedy Wiratama yang Bekingi Kampung Narkoba Samarinda Dipecat
5 jam yang lalu
GBK Diprediksi Dipadati...
GBK Diprediksi Dipadati Puluhan Ribu Pengunjung Akhir Pekan Ini, Dishub Siapkan Rekayasa Lalin
5 jam yang lalu
Soal Aturan Baru Kemenkes,...
Soal Aturan Baru Kemenkes, Bupati Bondowoso Komitmen Lindungi Petani Tembakau
5 jam yang lalu
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
5 jam yang lalu
Lampung Kukuhkan Diri...
Lampung Kukuhkan Diri sebagai Sentra Semangka Nasional
6 jam yang lalu
PPP Banten Gelar Mukerwil...
PPP Banten Gelar Mukerwil V, Fokus Konsolidasi Hadapi Verifikasi Pemilu 2029
6 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved