Faktor Ini Cenderung Pengaruhi Orang Bunuh Diri
Rabu, 05 November 2014 - 23:05 WIB
Faktor Ini Cenderung Pengaruhi Orang Bunuh Diri
A
A
A
JAKARTA - Psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Charyna Ayu Rizkyanti menilai tidak ada korelasi antara pendidikan dengan perbuatan bunuh diri yang dilakukan RS di sebuah kamar hotel.
Menurutnya, dalam diri seseorang ada tiga faktor penentu yang bisa menjadikan seseorang membuat keputusan, yaitu kognitif, emosi, dan spiritual.
"Jika salah satunya terganggu maka mempengaruhi yang lain. Ketiganya harus sejalan," kata Ayu, Rabu (5/11/2014).
Dia menjelaskan, tiap individu memiliki tekanan stres masing-masing. Namun bagaimana individu mengendalikan tekanan itu bergantung pada kemampuan mengendalikan emosinya.
Ayu menyontohkan, misalnya seorang yang mengalami masalah tentu tingkat stresnya akan lebih tinggi. Kemudian kondisi itu diterima oleh otak (kognitif). Sebelum membuat keputusan maka individu akan bertanya pada emosinya sendiri.
"Kalau emosinya positif maka otak akan menerima perintah untuk tidak bunuh diri. Sebaliknya, jika emosinya negatif maka keputusannya akan negatif," ujarnya.
Kepandaian mengelola emosi, kata Ayu, bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Jika sudah bagus maka ketika berada di lingkungan sosial, individu akan mampu menghadapi masalah dengan membuat keputusan positif.
"Dan faktor spiritual juga menjadi berpengaruh," pungkasnya.
Seperti diketahui, direktur sebuah perusahaan ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Korban ditemukan tak bernyawa dengan senjata api di dekatnya. Korban adalah tamu langganan di hotel itu.
Menurutnya, dalam diri seseorang ada tiga faktor penentu yang bisa menjadikan seseorang membuat keputusan, yaitu kognitif, emosi, dan spiritual.
"Jika salah satunya terganggu maka mempengaruhi yang lain. Ketiganya harus sejalan," kata Ayu, Rabu (5/11/2014).
Dia menjelaskan, tiap individu memiliki tekanan stres masing-masing. Namun bagaimana individu mengendalikan tekanan itu bergantung pada kemampuan mengendalikan emosinya.
Ayu menyontohkan, misalnya seorang yang mengalami masalah tentu tingkat stresnya akan lebih tinggi. Kemudian kondisi itu diterima oleh otak (kognitif). Sebelum membuat keputusan maka individu akan bertanya pada emosinya sendiri.
"Kalau emosinya positif maka otak akan menerima perintah untuk tidak bunuh diri. Sebaliknya, jika emosinya negatif maka keputusannya akan negatif," ujarnya.
Kepandaian mengelola emosi, kata Ayu, bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Jika sudah bagus maka ketika berada di lingkungan sosial, individu akan mampu menghadapi masalah dengan membuat keputusan positif.
"Dan faktor spiritual juga menjadi berpengaruh," pungkasnya.
Seperti diketahui, direktur sebuah perusahaan ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Korban ditemukan tak bernyawa dengan senjata api di dekatnya. Korban adalah tamu langganan di hotel itu.
(ysw)