Gara-Gara Putus Cinta, Siswi SMP Gantung Diri
Selasa, 14 Oktober 2014 - 16:29 WIB
Gara-Gara Putus Cinta, Siswi SMP Gantung Diri
A
A
A
JENEPONTO - Hanya karena diputuskan cintanya oleh sang pacar, Rezky Silvana (15), mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, Selasa (14/10/2014). Aksi nekat ini, tentu saja menggemparkan warga Kampung Tino, Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Siswi SMP 3 Tarowang yang selama ini tinggal bersama neneknya ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya oleh adik korban, Uni, yang baru saja pulang dari sekolah.
Uni melihat tubuh Rezky dalam posisi tergantung dengan terikat kain seprai di atas kayu balok. “Melihat kejadian itu, saya langsung berteriak sambil keluar kamar,” tandas Uni. Dia langsung meminta tolong ke tetangga untuk mengevakuasi korban. “Rezky sulit dievakuasi karena masih terlilit seprai,” ujarnya.
Isak tangis terjadi saat keluarga dan kerabat korban tiba di lokasi kejadian. Mereka tak percaya jika anaknya akan melakukan aksi ini. Selama ini, kedua orangtua korban bekerja di Kalimantan dan korban bersama adiknya dititipkan bersama neneknya. Korban merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara.
Tante korban, Santy, mengaku, Rezky pernah mengancam akan bunuh diri karena tak kuat diputuskan sang pacar. “Dia (Rezky) pernah curhat, kalau tak mau diputuskan sama pacarnya,” ungkapnya.
Dua hari sebelum kejadian, korban juga menyampaikan hal serupa kepada tetangganya. “Korban memang ngomong akan bunuh diri, karena tak mau diputuskan pacarnya,” tandas Sariambong, salah seorang tetangga korban.
Kasat Reskrim Jeneponto AKP Hari Suwita membenarkan, jika korban mengalami depresi setelah diputuskan pacarnya. “Berdasarkan pernyataan dari tante dan tetangganya, korban gantung diri karena putus cinta,” katanya. Dia mengaku masih melakukan penyelidikan dalam kasus ini.
Korban dimakamkan di komplek pemakaman yang tak jauh dari kediamannya.
Siswi SMP 3 Tarowang yang selama ini tinggal bersama neneknya ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya oleh adik korban, Uni, yang baru saja pulang dari sekolah.
Uni melihat tubuh Rezky dalam posisi tergantung dengan terikat kain seprai di atas kayu balok. “Melihat kejadian itu, saya langsung berteriak sambil keluar kamar,” tandas Uni. Dia langsung meminta tolong ke tetangga untuk mengevakuasi korban. “Rezky sulit dievakuasi karena masih terlilit seprai,” ujarnya.
Isak tangis terjadi saat keluarga dan kerabat korban tiba di lokasi kejadian. Mereka tak percaya jika anaknya akan melakukan aksi ini. Selama ini, kedua orangtua korban bekerja di Kalimantan dan korban bersama adiknya dititipkan bersama neneknya. Korban merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara.
Tante korban, Santy, mengaku, Rezky pernah mengancam akan bunuh diri karena tak kuat diputuskan sang pacar. “Dia (Rezky) pernah curhat, kalau tak mau diputuskan sama pacarnya,” ungkapnya.
Dua hari sebelum kejadian, korban juga menyampaikan hal serupa kepada tetangganya. “Korban memang ngomong akan bunuh diri, karena tak mau diputuskan pacarnya,” tandas Sariambong, salah seorang tetangga korban.
Kasat Reskrim Jeneponto AKP Hari Suwita membenarkan, jika korban mengalami depresi setelah diputuskan pacarnya. “Berdasarkan pernyataan dari tante dan tetangganya, korban gantung diri karena putus cinta,” katanya. Dia mengaku masih melakukan penyelidikan dalam kasus ini.
Korban dimakamkan di komplek pemakaman yang tak jauh dari kediamannya.
(zik)