Korban Kekerasan Murid SD Diminta Tak Lapor Polisi

Senin, 13 Oktober 2014 - 13:47 WIB
Korban Kekerasan Murid...
Korban Kekerasan Murid SD Diminta Tak Lapor Polisi
A A A
BUKITTINGGI - Pihak sekolah meminta korban kekerasan murid SD di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), tidak melapor masalah ini polisi. Hal ini disampaikan orangtua korban, Awaludin, Senin (13/10/2014). Dia mengaku diminta oleh pihak sekolah agar tidak membawa kasus penganiayaan tersebut ke ranah hukum.

Permintaan itu dilakukan Minggu (12/10/2014) malam setelah pihak sekolah memanggilnya.
“Saya diminta menandatangani surat perjanjian dengan pihak sekolah untuk tidak menuntut kasus kekerasan ini ke ranah hukum,” tandas Awaludin.

Dia juga membantah telah melakukan perdamaian dengan orang tua siswa pelaku penganiayaan terhadap anaknya. “Saya juga disodorkan kertas untuk menandatangani surat perdamaian dengan orang tua penganiaya. Tetapi, saya belum bertemu dengan mereka (orang tua siswa),” imbuh Awaludin.

Dia juga mengaku baru melihat kejadian menyedihkan itu dari televisi yang diiunggah di Youtube. “Saya baru tahu dari televisi,” ujarnya. Sebelumnya, Kepala Sekolah SD Trisula Perwatri menyatakan, telah mempertemukan orang tua korban dengan orang tua pelaku kekerasan. Dia juga memberi sanksi kepada guru yang lalai saat mengajar.

“Pertemuan guru dan para orang tua sudah empat kali dilakukan. Guru yang ada saat kejadian juga diberi sanksi dengan tidak boleh lagi mengajar di sekolah kami,” tandasnya.

Sementara, situasi di sekolah tersebut, Senin (13/10/2014), berlangsung normal. Para murid dan guru sedang sibuk menjalankan ujian mid semester yang dimulai hari ini. Sedangkan, ruang tempat aksi kekerasan yang berada di samping ruang guru, kini dikunci pihak sekolah.

Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi, Erdi menyatakan, guru yang ada saat kejadian bernama Darmya, S. Ag. Sebenarnya, kata dia, Darmya adalah guru SMP 2 Empat Koto Rambah, Kabupaten Agam.

“Tetapi, mengejar syarat sertifikasi, Darmya menambah jam mengajar di SD Trisula Perwatri,” ujarnya. Peristiwa itu terjadi pada 18 September 2014, kemudian diunggah ke laman Youtube pada 11 Oktober 2014 dengan judul “Kekerasan Anak SD”.

Video itu menampilkan seorang siswa perempuan berjilbab yang dianiaya empat orang laki-laki yang juga siswa SD Trisula Perwatri.
(lis)
Berita Terkait
Wapres Minta Kekerasan...
Wapres Minta Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Dihentikan
Kawal Kekerasan di Dunia...
Kawal Kekerasan di Dunia Pendidikan, Nadiem Makarim Tekankan Hal Ini
Melindungi Dunia Pendidikan...
Melindungi Dunia Pendidikan dari Paham dan Gerakan Kekerasan
Momogi Berbagi Hadirkan...
Momogi Berbagi Hadirkan Edukasi dan Keceriaan bagi Siswa Sekolah Kami
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Pemkab Langkat Hadirkan Smartboard untuk Siswa
Meningkatkan Literasi...
Meningkatkan Literasi di Dunia Pendidikan
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup,...
Hari Lingkungan Hidup, Masyarakat Tangerang Pelajari Kelola Minyak Jelantah
1 jam yang lalu
Ada Konser hingga Lomba,...
Ada Konser hingga Lomba, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan GBK
2 jam yang lalu
Kaesang Nobar Timnas...
Kaesang Nobar Timnas Indonesia Bareng Gubernur Sumsel
2 jam yang lalu
Menekraf Dukung Festival...
Menekraf Dukung Festival Burger Dunia, Perkuat Ekosistem Kuliner Nasional
5 jam yang lalu
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Pagi Ini, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter
6 jam yang lalu
El Nino Bawa Kemarau...
El Nino Bawa Kemarau Lebih Kering, Puncaknya Agustus-September 2026
7 jam yang lalu
Infografis
5 Tips Packing Mudik...
5 Tips Packing Mudik Agar Koper Tak Kelebihan Muatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved