Kesal Murid Tewas, SMK 29 Ancam Tuntut Pelaku Pembunuhan
Selasa, 09 September 2014 - 09:41 WIB
Kesal Murid Tewas, SMK 29 Ancam Tuntut Pelaku Pembunuhan
A
A
A
JAKARTA - Siswa kelas III SMK 29 Jakarta berinisial I jadi korban tawuran pelajar yang diduga dilakukan enam sekolah dari Jaktim.
Wakil Kepala Sekolah SMK 29, Ali Fahmi mengatakan, pihaknya kesal dengan para pelaku yang membuat siswanya meninggal dunia. Bahkan, dia mengancam akan menuntut para pelaku akibat kejadian ini.
"Saya rencananya akan menuntut para pelajar itu ke sekolahnya, supaya ditindaklanjuti," kata Ali saat ditemui di Polsek Kebayoran Baru, Senin 8 September 2014 malam.
Ali mengungkapkan, hal itu bukan tanpa alasan. Menurut dia, tindakan yang dilakukan para pelajar dari Rahayu Mulya, Dharma Surya, Budi Warman, Tri Sastra, SMK 52, Supopindo itu merugikan orang lain. Dia menceritakan, anak didiknya sudah pulang sekolah sekitar pukul 15.00 WIB.
Namun masih ada beberapa anak yang berada di lingkungan sekolah, lantaran sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Sekitar pukul 17.00 WIB, para pelajar dari enam sekolah tersebut datang dan merusak fasilitas yang ada di sekolah. Ali mengaku ada sekitar 30 sepeda motor yang di rusak para pelajar, namun anak didiknya tak ada yang memberikan perlawanan.
"Tak tanggung-tanggung, mereka juga merusak monumen pesawat yang menjadi simbol sekolah kami. Kaca-kaca juga dipecahkan," ujarnya.
Dalam insiden itu, Ali mengatakan, ada pelajar yang membawa senjata tajam bergagang kayu. Arit dan celurit yang dibawa oleh pelajar Rahayu Mulya itu, saat ini telah diamankan pihak kepolisian.
Septian Dwi Cahyo (28), alumni sekolah Rahayu Mulya yang berada saat insiden itu mengaku dirinya tidak mengetahui siapa pemilik senjata tajam itu.
"Saya dan teman-teman mau nyekar ke Ciledug. Soal senjata tajam itu, saya enggak tahu punya siapa," katanya.
Polsek Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat ini telah melimpahkan sekitar 163 pelajar ke Polres Metro Jakarta Selatan. Dari ratusan pelajar itu, lima di antaranya adalah alumni dan sembilan orang lainnya veteran alias telah dikeluarkan dari SMK Rahayu Mulya.
Wakil Kepala Sekolah SMK 29, Ali Fahmi mengatakan, pihaknya kesal dengan para pelaku yang membuat siswanya meninggal dunia. Bahkan, dia mengancam akan menuntut para pelaku akibat kejadian ini.
"Saya rencananya akan menuntut para pelajar itu ke sekolahnya, supaya ditindaklanjuti," kata Ali saat ditemui di Polsek Kebayoran Baru, Senin 8 September 2014 malam.
Ali mengungkapkan, hal itu bukan tanpa alasan. Menurut dia, tindakan yang dilakukan para pelajar dari Rahayu Mulya, Dharma Surya, Budi Warman, Tri Sastra, SMK 52, Supopindo itu merugikan orang lain. Dia menceritakan, anak didiknya sudah pulang sekolah sekitar pukul 15.00 WIB.
Namun masih ada beberapa anak yang berada di lingkungan sekolah, lantaran sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Sekitar pukul 17.00 WIB, para pelajar dari enam sekolah tersebut datang dan merusak fasilitas yang ada di sekolah. Ali mengaku ada sekitar 30 sepeda motor yang di rusak para pelajar, namun anak didiknya tak ada yang memberikan perlawanan.
"Tak tanggung-tanggung, mereka juga merusak monumen pesawat yang menjadi simbol sekolah kami. Kaca-kaca juga dipecahkan," ujarnya.
Dalam insiden itu, Ali mengatakan, ada pelajar yang membawa senjata tajam bergagang kayu. Arit dan celurit yang dibawa oleh pelajar Rahayu Mulya itu, saat ini telah diamankan pihak kepolisian.
Septian Dwi Cahyo (28), alumni sekolah Rahayu Mulya yang berada saat insiden itu mengaku dirinya tidak mengetahui siapa pemilik senjata tajam itu.
"Saya dan teman-teman mau nyekar ke Ciledug. Soal senjata tajam itu, saya enggak tahu punya siapa," katanya.
Polsek Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat ini telah melimpahkan sekitar 163 pelajar ke Polres Metro Jakarta Selatan. Dari ratusan pelajar itu, lima di antaranya adalah alumni dan sembilan orang lainnya veteran alias telah dikeluarkan dari SMK Rahayu Mulya.
(mhd)