Cegah Bentrok Saat Sotr, Ini Kata Pengamat
Rabu, 23 Juli 2014 - 12:05 WIB
Cegah Bentrok Saat Sotr, Ini Kata Pengamat
A
A
A
DEPOK - Sahur on The Road (Sotr) diperbolehkan selama mengikuti aturan yang ada, namun jika sudah melanggar hukum pelaku harus segera ditindak. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Jakarta.
Pengamat Sosial Budaya dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rachmawati mengatakan, Sotr sah saja dilakukan sepanjang rambu yang ditetapkan tidak dilanggar. Atau dilakukan dengan pengawasan petugas. Artinya, kegiatan itu harus mengantongi izin dan dikawal.
"Dan yang terpenting ada model, bahwa para pelakunya dihukum sesuai dengan kesalahan jika ada yang melanggar. Hal ini penting untuk membangun kewibawaan aparat," katanya di Depok, Rabu (23/7/2014).
Menurut Devie, Sotr jika disertai dengan aktifitas beramal tentu sangat baik. Namun yang perlu menjadi catatan ialah bila kegiatan di malam hari dilakukan remaja-remaja di bawah umur dan menggunakan kendaraan bermotor tanpa kelengkapan maka sudah semestinya ditindak aparat.
"Karena pelanggaran kecil yang dibiarkan, nanti akan menyulitkan aparat sendiri dan juga masyarakat luas," ujar dosen program Vokasi UI ini.
Kegiatan Sotr, kata dia, memang dapat diprediksi berpeluang menimbulkan gesekan dan hal-hal yang kurang produktif. Karena, dilihat dari polanya dalam Sotr terdapat unsur-unsur yang memicu terjadinya gesekan.
"Dalam kelompok, yang membuat anggotanya menjadi anonim, ini mendorong keberanian baru, karena kekuatan kelompok (massa yang besar) membuat tiap individu di dalamnya menjadi lebih percaya diri," kata Devie.
Pengamat Sosial Budaya dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rachmawati mengatakan, Sotr sah saja dilakukan sepanjang rambu yang ditetapkan tidak dilanggar. Atau dilakukan dengan pengawasan petugas. Artinya, kegiatan itu harus mengantongi izin dan dikawal.
"Dan yang terpenting ada model, bahwa para pelakunya dihukum sesuai dengan kesalahan jika ada yang melanggar. Hal ini penting untuk membangun kewibawaan aparat," katanya di Depok, Rabu (23/7/2014).
Menurut Devie, Sotr jika disertai dengan aktifitas beramal tentu sangat baik. Namun yang perlu menjadi catatan ialah bila kegiatan di malam hari dilakukan remaja-remaja di bawah umur dan menggunakan kendaraan bermotor tanpa kelengkapan maka sudah semestinya ditindak aparat.
"Karena pelanggaran kecil yang dibiarkan, nanti akan menyulitkan aparat sendiri dan juga masyarakat luas," ujar dosen program Vokasi UI ini.
Kegiatan Sotr, kata dia, memang dapat diprediksi berpeluang menimbulkan gesekan dan hal-hal yang kurang produktif. Karena, dilihat dari polanya dalam Sotr terdapat unsur-unsur yang memicu terjadinya gesekan.
"Dalam kelompok, yang membuat anggotanya menjadi anonim, ini mendorong keberanian baru, karena kekuatan kelompok (massa yang besar) membuat tiap individu di dalamnya menjadi lebih percaya diri," kata Devie.
(mhd)