Vonis bebas 2 jambret di PN Semarang tuai polemik

Vonis bebas 2 jambret di PN Semarang tuai polemik
A
A
A
Sindonews.com - Vonis bebas yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang diketuai Hakim Abdul Rauf terhadap dua terdakwa kasus penjambretan, di Jalan Dr Wahidin atau tepatnya di turunan Tanah Putih Kota Semarang, menuai polemik. Karena dinilai menciderai rasa keadilan.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang yang tidak sepaham dengan vonis hakim akan mengajukan memori kepada Komisi Yudisial (KY) dan memeriksa hakim tersebut. Hal itu ditegaskan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang Abdul Aziz.
"Vonis bebas yang diberikan oleh Hakim Abdul Rauf sangat mengecewakan dan jauh dari rasa keadilan. Akan kami laporkan hal ini kepada KY agar mereka melakukan monitoring terhadap sidang tersebut,” katanya, saat ditemui wartawan, di ruang kerjanya, Kamis (24/4/2014).
Ditambahkan dia, tidak hanya sekali Hakim Abdul Rauf memutus bebas terdakwa yang ditanganinya. "Setahu saya tidak hanya sekali dia (Abdul Rauf) memutus bebas terdakwa. Inilah yang menyebabkan saya akan mengajukan memori kepada KY," terangnya.
Selain mengirimkan memori kepada KY, dia juga akan menempuh upaya hukum selanjutnya, yakni kasasi ke Mahkamah Agung (MA) terhadap putusan tersebut. Dia memastikan, secepatnya kasasi akan dilayangkan kepada MA.
“Setelah saya analisa, memang harus menempuh upaya kasasi. Kami juga harus melaporkan ke kejati terkait permasalahan itu. Sebab menurut kami, tidak ada alasan yang membenarkan putusan bebas tersebut. Alat bukti serta kesaksian saksi di persidangan sudah kuat untuk menghukum kedua terdakwa itu,” pungkasnya.
Selain jaksa, kekecewaan mendalam jelas dialami oleh keluarga korban. Mereka yang telah kehilangan anak, saudara, dan ibu kandungnya, harus melihat dua pelaku melenggang bebas tanpa hukuman apapun.
“Kami jelas tidak terima dengan putusan hakim tersebut, keluarga kami merasa dizolimi dan dipermainkan. Sudah jelas mereka berdua telah membunuh adik saya, anak bapak saya, dan ibu dari keponakan-keponakan saya, tetapi justru tertawa setelah divonis bebas,” kata Weni Siswanti (34), adik kandung korban saat ditemui di rumah korban.
Weni juga menanggapi pertimbangan hakim membebaskan kedua terdakwa, lantaran barang bukti yang dihadirkan tidak kuat. Padahal menurutnya, barang bukti yang dihadirkan di persidangan sudah cukup ditambah kesaksian-kesaksian lainnya.
“Ini keponakan saya Gita juga hadir sebagai saksi. Saat kejadian, dia bersama ibunya dan melihat kedua terdakwa menarik tas milik ibunya, sehingga membuat mereka terjatuh. Gita juga melihat dengan mata kepala sendiri ibunya yang berlumuran darah di depannya,” imbuh Weni menangis.
Weni menambahkan, tidak tahu harus bagaimana dengan putusan hakim tersebut. Dia hanya berharap, baik jaksa maupun kepolisian membantu keluarganya untuk menghukum kedua pelaku seberat-beratnya.
“Kami dengar jaksa mau mengajukan kasasi. Selain itu kami juga telah mendatangi kepolisian Gajahmungkur yang menangani kasus ini. Mereka semua siap membantu. Semoga ditingkat kasasi kedua pelaku dapat dihukum seberat-beratnya. Kami ingin hukum benar-benar ditegakkan seadil-adilnya,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Semarang membebaskan dua terdakwa kasus penjambretan Boma Indarto (26) dan Kuat Suko Setyono (26), dari hukuman penjara.
Kasus penjambretan terjadi, pada 7 Oktober 2013, di Jalan Dr. Wahidin, tepatnya di turunan Tanah Putih Semarang. Saat itu korban Rita Mardiati dan putrinya Gita Nur sedang berboncengan menggunakan motor.
Saat tengah berkendara, tiba-tiba dari arah kanan, dua pria yang berboncengan Yamaha Mio J, bernopol H 5390 VF mendekat dan merampas tas, serta menendang korban hingga jatuh.
Korban Rita meninggal dunia di tempat, disaksikan putrinya. Sedangkan putrinya mengalami luka-luka. Tidak lama kemudian, Kuat dan Boma tertangkap dan diperiksa penyidik, pada 10 Oktober 2013.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang yang tidak sepaham dengan vonis hakim akan mengajukan memori kepada Komisi Yudisial (KY) dan memeriksa hakim tersebut. Hal itu ditegaskan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang Abdul Aziz.
"Vonis bebas yang diberikan oleh Hakim Abdul Rauf sangat mengecewakan dan jauh dari rasa keadilan. Akan kami laporkan hal ini kepada KY agar mereka melakukan monitoring terhadap sidang tersebut,” katanya, saat ditemui wartawan, di ruang kerjanya, Kamis (24/4/2014).
Ditambahkan dia, tidak hanya sekali Hakim Abdul Rauf memutus bebas terdakwa yang ditanganinya. "Setahu saya tidak hanya sekali dia (Abdul Rauf) memutus bebas terdakwa. Inilah yang menyebabkan saya akan mengajukan memori kepada KY," terangnya.
Selain mengirimkan memori kepada KY, dia juga akan menempuh upaya hukum selanjutnya, yakni kasasi ke Mahkamah Agung (MA) terhadap putusan tersebut. Dia memastikan, secepatnya kasasi akan dilayangkan kepada MA.
“Setelah saya analisa, memang harus menempuh upaya kasasi. Kami juga harus melaporkan ke kejati terkait permasalahan itu. Sebab menurut kami, tidak ada alasan yang membenarkan putusan bebas tersebut. Alat bukti serta kesaksian saksi di persidangan sudah kuat untuk menghukum kedua terdakwa itu,” pungkasnya.
Selain jaksa, kekecewaan mendalam jelas dialami oleh keluarga korban. Mereka yang telah kehilangan anak, saudara, dan ibu kandungnya, harus melihat dua pelaku melenggang bebas tanpa hukuman apapun.
“Kami jelas tidak terima dengan putusan hakim tersebut, keluarga kami merasa dizolimi dan dipermainkan. Sudah jelas mereka berdua telah membunuh adik saya, anak bapak saya, dan ibu dari keponakan-keponakan saya, tetapi justru tertawa setelah divonis bebas,” kata Weni Siswanti (34), adik kandung korban saat ditemui di rumah korban.
Weni juga menanggapi pertimbangan hakim membebaskan kedua terdakwa, lantaran barang bukti yang dihadirkan tidak kuat. Padahal menurutnya, barang bukti yang dihadirkan di persidangan sudah cukup ditambah kesaksian-kesaksian lainnya.
“Ini keponakan saya Gita juga hadir sebagai saksi. Saat kejadian, dia bersama ibunya dan melihat kedua terdakwa menarik tas milik ibunya, sehingga membuat mereka terjatuh. Gita juga melihat dengan mata kepala sendiri ibunya yang berlumuran darah di depannya,” imbuh Weni menangis.
Weni menambahkan, tidak tahu harus bagaimana dengan putusan hakim tersebut. Dia hanya berharap, baik jaksa maupun kepolisian membantu keluarganya untuk menghukum kedua pelaku seberat-beratnya.
“Kami dengar jaksa mau mengajukan kasasi. Selain itu kami juga telah mendatangi kepolisian Gajahmungkur yang menangani kasus ini. Mereka semua siap membantu. Semoga ditingkat kasasi kedua pelaku dapat dihukum seberat-beratnya. Kami ingin hukum benar-benar ditegakkan seadil-adilnya,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Semarang membebaskan dua terdakwa kasus penjambretan Boma Indarto (26) dan Kuat Suko Setyono (26), dari hukuman penjara.
Kasus penjambretan terjadi, pada 7 Oktober 2013, di Jalan Dr. Wahidin, tepatnya di turunan Tanah Putih Semarang. Saat itu korban Rita Mardiati dan putrinya Gita Nur sedang berboncengan menggunakan motor.
Saat tengah berkendara, tiba-tiba dari arah kanan, dua pria yang berboncengan Yamaha Mio J, bernopol H 5390 VF mendekat dan merampas tas, serta menendang korban hingga jatuh.
Korban Rita meninggal dunia di tempat, disaksikan putrinya. Sedangkan putrinya mengalami luka-luka. Tidak lama kemudian, Kuat dan Boma tertangkap dan diperiksa penyidik, pada 10 Oktober 2013.
(san)