Negara harus siapkan rehabillitasi anak di bawah umur
Senin, 07 April 2014 - 15:45 WIB
Negara harus siapkan rehabillitasi anak di bawah umur
A
A
A
Sindonews.com - Kasus pengeroyokan tiga bocah Kelas 1 Sekolah Dasar (SD) di Makassar terhadap seorang temannya hingga menyebabkan kematian, terus menuai komentar masyarakat.
Psikolog DR Asniar mengatakan, kasus tewasnya siswa SD tersebut merupakan peristiwa luar biasa dan unik. Dalam kasus itu, negara sebaiknya memberikan ruang kepada anak di bawah umur, seperti pusat rehabilitasi yang juga disediakan kepada para pecandu narkoba dan lainnya.
"Sebaiknya ada penanganan khusus. Kasihan pelaku tiga anak ini yang harus mendapatkan hukuman penjara sampai bertahun tahun," katanya, kepada wartawan, Senin (7/4/2014).
Akademisi Psikolog UNM ini menambahkan, karakter ketiga pelaku masih belum sempurna, meski secara psikologis telah mengetahui perbuatan yang dilakukannya. Kendati demikian, semua harus bertanggungjawab, termasuk pihak sekolah, orangtua, dan masyarakat.
"Di sekolah, saat jam bermain, pihak sekolah seharusnya melihat dan memantau perilaku anak muridnya guna menghindari benda-benda tumpul atau mengajarkan yang terbaik," terangnya.
Begitupun dengan orangtua siswa. Dalam mendidik anak, para orangtua harusnya bisa mencegah anak melakukan perbuatan yang tidak baik dan mengarah ke hal-hal negatif. Langkah ini penting dilakukan untuk mengantisipasi kekerasan yang terjadi pada anak.
Diberitakan sebelumnya, kasus kematian Syukur, ternyata telah mengungkap fakta baru. Korban dianiaya di sekolah dua kali, sebelum mendapat perawatan di rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Hariyanti (anak dari Ar) mengatakan, dirinya sangat terpukul dengan peristiwa yang dialaminya. Pasalnya, Ar yang diduga menendang korban terjadi di dalam kelas bukan di luar sekolah, seperti yang dituturkan pihak sekolah yang berbeda pendapat jika terjadi di luar sekolah.
"Peristiwa anak saya terjadi pada hari Rabu, dan korban almarhum sempat sekolah keesokannya. Informasinya jika ada dua orang yang juga diduga terlibat pada Kamis," kata Hariyani, ibu kandung Ar di rumahnya.
Baca juga:
Bocah SD tewas dikeroyok 3 teman sekolah
Psikolog DR Asniar mengatakan, kasus tewasnya siswa SD tersebut merupakan peristiwa luar biasa dan unik. Dalam kasus itu, negara sebaiknya memberikan ruang kepada anak di bawah umur, seperti pusat rehabilitasi yang juga disediakan kepada para pecandu narkoba dan lainnya.
"Sebaiknya ada penanganan khusus. Kasihan pelaku tiga anak ini yang harus mendapatkan hukuman penjara sampai bertahun tahun," katanya, kepada wartawan, Senin (7/4/2014).
Akademisi Psikolog UNM ini menambahkan, karakter ketiga pelaku masih belum sempurna, meski secara psikologis telah mengetahui perbuatan yang dilakukannya. Kendati demikian, semua harus bertanggungjawab, termasuk pihak sekolah, orangtua, dan masyarakat.
"Di sekolah, saat jam bermain, pihak sekolah seharusnya melihat dan memantau perilaku anak muridnya guna menghindari benda-benda tumpul atau mengajarkan yang terbaik," terangnya.
Begitupun dengan orangtua siswa. Dalam mendidik anak, para orangtua harusnya bisa mencegah anak melakukan perbuatan yang tidak baik dan mengarah ke hal-hal negatif. Langkah ini penting dilakukan untuk mengantisipasi kekerasan yang terjadi pada anak.
Diberitakan sebelumnya, kasus kematian Syukur, ternyata telah mengungkap fakta baru. Korban dianiaya di sekolah dua kali, sebelum mendapat perawatan di rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Hariyanti (anak dari Ar) mengatakan, dirinya sangat terpukul dengan peristiwa yang dialaminya. Pasalnya, Ar yang diduga menendang korban terjadi di dalam kelas bukan di luar sekolah, seperti yang dituturkan pihak sekolah yang berbeda pendapat jika terjadi di luar sekolah.
"Peristiwa anak saya terjadi pada hari Rabu, dan korban almarhum sempat sekolah keesokannya. Informasinya jika ada dua orang yang juga diduga terlibat pada Kamis," kata Hariyani, ibu kandung Ar di rumahnya.
Baca juga:
Bocah SD tewas dikeroyok 3 teman sekolah
(san)