Dinkes klaim RS Tarakan terbaik
Senin, 10 Maret 2014 - 17:39 WIB
Dinkes klaim RS Tarakan terbaik
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta mengklaim, Rumah Sakit (RS) Tarakan, Jakarta Pusat merupakan RS kelas A. Pasalnya, rumah sakit tersebut memiliki grade paling tinggi.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dien Emawati. Dia juga menuturkan, grade paling tinggi seperti kanker, bedah tumor, bedah kepala, bedah jantung dan bedah perut.
"Kita berharap pasien yang masuk ke RS Tarakan adalah pasien yang tidak diperbolehkan untuk dirujuk kecuali ada perkembangan diagnosa baru yang harus dilakukan second opinion," katanya kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Senin (10/3/2014).
Karena Rumah Sakit Tarakan merupakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dengan strata tertinggi yang dimiliki Dinkes DKI Jakarta.
Maka itu, kasus meninggalnya Andre Safa Gunawan, bocah 10 tahun yang diduga ditelantarkan pihak RS Tarakan akan ditindaklanjuti. Dinkes pihaknya akan mengundang dewan pengawas rumah sakit terkait.
"Kan saya enggak boleh ambil (keputusan) begitu saja, kalau benar ambil enggak masalah. Kalau enggak benar ambilnya kasihan dong dokternya yang sudah bekerja," tuturnya.
Baca:
Diduga ditelantarkan, Dinkes DKI lakukan audit medis
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dien Emawati. Dia juga menuturkan, grade paling tinggi seperti kanker, bedah tumor, bedah kepala, bedah jantung dan bedah perut.
"Kita berharap pasien yang masuk ke RS Tarakan adalah pasien yang tidak diperbolehkan untuk dirujuk kecuali ada perkembangan diagnosa baru yang harus dilakukan second opinion," katanya kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Senin (10/3/2014).
Karena Rumah Sakit Tarakan merupakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dengan strata tertinggi yang dimiliki Dinkes DKI Jakarta.
Maka itu, kasus meninggalnya Andre Safa Gunawan, bocah 10 tahun yang diduga ditelantarkan pihak RS Tarakan akan ditindaklanjuti. Dinkes pihaknya akan mengundang dewan pengawas rumah sakit terkait.
"Kan saya enggak boleh ambil (keputusan) begitu saja, kalau benar ambil enggak masalah. Kalau enggak benar ambilnya kasihan dong dokternya yang sudah bekerja," tuturnya.
Baca:
Diduga ditelantarkan, Dinkes DKI lakukan audit medis
(mhd)