Kriminolog: Kuncinya penanaman nilai toleransi & perdamaian
Kamis, 06 Maret 2014 - 06:40 WIB
Kriminolog: Kuncinya penanaman nilai toleransi & perdamaian
A
A
A
Sindonews.com - Pada umumnya kasus pembunuhan terjadi untuk menghilangkan jejak pelaku terhadap korban. Bahkan, pelaku pembunuhan kerap kali dilatar belakangi oleh orang yang sudah saling kenal.
Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Muhammad Mustofa mengatakan, kasus pembunuhan bisa terjadi di kalangan masyarakat manapun, dan terjadi karena adanya hubungan yang tidak harmonis. Kondisi tersebut kemudian kerap dimanfaatkan pelaku untuk bertindak sadis.
"Kuncinya ada pada penanaman nilai toleransi atau perdamaian. Selama ini apakah nilai perdamaian sudah cukup kuat tertanam atau tidak?" kata Mustofa kepada Sindo, Rabu (5/3/2014).
Menurut dia, ada dua jenis kasus pembunuhan. Yaitu, murni pembunuhan dan tindakan yang dilatarbelakangi tindak kriminal lainnya seperti pemerkosaan dan pencurian.
Pada kasus yang termasuk dalam kategori murni pembunuhan, kata Mustofa, pelakunya dipastikan saling kenal. Namun, untuk kasus pencurian, pelaku melakukan pembunuhan dalam rangka menghilangkan jejak.
"Pelaku ingin agar tindakanya tidak diketahui orang lain dalam rangka membuat kejahatannya sukses," tegasnya.
Mengenai korban pembunuhan yang kebanyakan adalah perempuan, Mustofa menilai, hal itu lebih dikarenakan persoalan strata sosial saja. Laki-laki, kata dia, merasa lebih kuat sehingga lebih dominan. Sedangkan perempuan merasa lebih inferior.
"Sehingga laki-laki merasa lebih unggul dari laki-laki. Hanya persoalan strata sosial saja," menurut dia.
Pada banyak peristiwa, imbuh Mustofa, pembunuhan terjadi lantaran pelaku sudah tidak melihat alternatif lain. Atau dengan kata lain pelaku sudah gelap mata.
Lebih lanjut diungkapkan guru besar UI ini, ketika frekuensi kejahatan sudah banyak terjadi dalam kurun waktu berdekatan menandakan tingkat kriminalitas meningkat. Bisa diperkirakan pula ada masalah di tatanan lingkungan sosial.
"Kita harus lihat dalam beberapa periode waktu. Dan tidak selalu berpengaruh dengan kondisi sosial yang terjadi," tutupnya.
Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Muhammad Mustofa mengatakan, kasus pembunuhan bisa terjadi di kalangan masyarakat manapun, dan terjadi karena adanya hubungan yang tidak harmonis. Kondisi tersebut kemudian kerap dimanfaatkan pelaku untuk bertindak sadis.
"Kuncinya ada pada penanaman nilai toleransi atau perdamaian. Selama ini apakah nilai perdamaian sudah cukup kuat tertanam atau tidak?" kata Mustofa kepada Sindo, Rabu (5/3/2014).
Menurut dia, ada dua jenis kasus pembunuhan. Yaitu, murni pembunuhan dan tindakan yang dilatarbelakangi tindak kriminal lainnya seperti pemerkosaan dan pencurian.
Pada kasus yang termasuk dalam kategori murni pembunuhan, kata Mustofa, pelakunya dipastikan saling kenal. Namun, untuk kasus pencurian, pelaku melakukan pembunuhan dalam rangka menghilangkan jejak.
"Pelaku ingin agar tindakanya tidak diketahui orang lain dalam rangka membuat kejahatannya sukses," tegasnya.
Mengenai korban pembunuhan yang kebanyakan adalah perempuan, Mustofa menilai, hal itu lebih dikarenakan persoalan strata sosial saja. Laki-laki, kata dia, merasa lebih kuat sehingga lebih dominan. Sedangkan perempuan merasa lebih inferior.
"Sehingga laki-laki merasa lebih unggul dari laki-laki. Hanya persoalan strata sosial saja," menurut dia.
Pada banyak peristiwa, imbuh Mustofa, pembunuhan terjadi lantaran pelaku sudah tidak melihat alternatif lain. Atau dengan kata lain pelaku sudah gelap mata.
Lebih lanjut diungkapkan guru besar UI ini, ketika frekuensi kejahatan sudah banyak terjadi dalam kurun waktu berdekatan menandakan tingkat kriminalitas meningkat. Bisa diperkirakan pula ada masalah di tatanan lingkungan sosial.
"Kita harus lihat dalam beberapa periode waktu. Dan tidak selalu berpengaruh dengan kondisi sosial yang terjadi," tutupnya.
(mhd)