Ini alasan warga betah di kawasan banjir
Rabu, 26 Februari 2014 - 10:09 WIB
Ini alasan warga betah di kawasan banjir
A
A
A
Sindonews.com - Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Diennaryati Tjokrosuprihatono menilai, kondisi yang terus dialami masyarakat di lokasi banjir menjadikan mereka sudah merasa bersahabat.
Bahkan, anak-anak sering menjadikan genangan air sebagai wahana bermain gratis. Terlihat dari banyaknya anak-anak yang berenang di kubangan air kotor.
“Mereka sudah terbiasa dan merasa bersahabat dengan kondisi itu. Anak-anak merasa fun lalu orang tua membiarkan saja,” kata Dini ketika dihubungi, sapaan akrabnya, Rabu (26/2/2014).
Dini melihat, masyarakat di lokasi banjir merasa sudah siap dengan datangnya banjir. Hal itu dilihat dari berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelum banjir datang.
Mulai dari penyesuaian kondisi rumah yang agak ditinggikan, posisi dapur yang berada lebih tinggi, tidak adanya kursi tamu dan meja makan yang tidak terbuat dari kayu.
“Mereka sudah punya semacam prosedur untuk menghadapi banjir,” paparnya.
Rasa bersahabat dengan banjir itu, kata Dini, melekat lantaran mereka tak memiliki pilihan lain. Mereka tak punya tempat tinggal lain dan perhitungan ekonomis.
“Karena kehidupan mereka sudah disitu. Itu pilihan mereka jadi mereka harus siap dengan resiko, termasuk untuk bersahabat dengan banjir,” tukasnya.
Bahkan, anak-anak sering menjadikan genangan air sebagai wahana bermain gratis. Terlihat dari banyaknya anak-anak yang berenang di kubangan air kotor.
“Mereka sudah terbiasa dan merasa bersahabat dengan kondisi itu. Anak-anak merasa fun lalu orang tua membiarkan saja,” kata Dini ketika dihubungi, sapaan akrabnya, Rabu (26/2/2014).
Dini melihat, masyarakat di lokasi banjir merasa sudah siap dengan datangnya banjir. Hal itu dilihat dari berbagai persiapan yang mereka lakukan sebelum banjir datang.
Mulai dari penyesuaian kondisi rumah yang agak ditinggikan, posisi dapur yang berada lebih tinggi, tidak adanya kursi tamu dan meja makan yang tidak terbuat dari kayu.
“Mereka sudah punya semacam prosedur untuk menghadapi banjir,” paparnya.
Rasa bersahabat dengan banjir itu, kata Dini, melekat lantaran mereka tak memiliki pilihan lain. Mereka tak punya tempat tinggal lain dan perhitungan ekonomis.
“Karena kehidupan mereka sudah disitu. Itu pilihan mereka jadi mereka harus siap dengan resiko, termasuk untuk bersahabat dengan banjir,” tukasnya.
(ysw)