Tidak relevan, angkot disebut biang kemacetan
Jum'at, 15 November 2013 - 17:49 WIB
Tidak relevan, angkot disebut biang kemacetan
A
A
A
Sindonews.com - Sekretaris Organda Kota Bandung, Jaja Kusnadi, menyatakan tidak relevan jika angkot dianggap sebagai biang kemacetan di Kota Bandung. Ada latar belakang yang menurutnya harus dilihat secara jernih.
"Kalau angkot dibilang biang kemacetan, itu tidak relevan," kata Jaja saat dihubungi, Jumat (15/11/2013).
Para sopir angkot tidak bisa disalahkan begitu saja ketika mereka ngetem di sembarangan. Sebab infrastruktur yang ada dinilai tidak memadai.
Ia mencontohkan Terminal Abdul Muis yang sekarang jadi pusat perbelanjaan ITC Kebon Kalapa.
"Sekarang terminalnya berubah fungsi, jadi (angkot) muter-muter di mana saja, timbulah terminal-terminal bayangan," jelasnya.
Terminal Kebon Kalapa sebagai penggantinya pun dinilai tidak memadai karena sangat sempit. Sedangkan dalam sehari, jumlah angkot yang masuk ke Terminal Kebon Kalapa bisa mencapai 2 ribu unit. Akibatnya, angkot ngetem di sekitaran jalur yang jadi rutenya.
"Itu yang membuat macet karena memang tidak ada terminal (yang memadai)," ucapnya.
Hal serupa terjadi di lokasi lain, sehingga angkot ngetem di mana saja. Untuk itu, Pemkot Bandung perlu mengambil solusi, yaitu memperbaiki infrastruktur. "Perlu ada perbaikan infrastruktur," tegas Jaja.
Jika infrastruktur baik, tradisi ngetem di mana saja diyakini bisa ditekan karena angkot punya tempat ngetem memadai.
Selain kurangnya infrastruktur memadai, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Salah satunya menurunnya jumlah penumpang angkot.
"Sejak 2005 jumlah penumpang mengalami penurunan hingga 60 persen karena banyak penumpang beralih menggunakan sepeda motor dari pada naik angkot," tuturnya.
Ketika jumlah penumpang terus berkurang, para sopir angkot pun akhirnya ngetem di mana saja untuk mencari penumpang.
Jaja menambahkan, ke depan perlu dicari berbagai solusi bersama dengan semua pihak agar tradisi ngetem di mana saja bisa dihilangkan.
"Kalau angkot dibilang biang kemacetan, itu tidak relevan," kata Jaja saat dihubungi, Jumat (15/11/2013).
Para sopir angkot tidak bisa disalahkan begitu saja ketika mereka ngetem di sembarangan. Sebab infrastruktur yang ada dinilai tidak memadai.
Ia mencontohkan Terminal Abdul Muis yang sekarang jadi pusat perbelanjaan ITC Kebon Kalapa.
"Sekarang terminalnya berubah fungsi, jadi (angkot) muter-muter di mana saja, timbulah terminal-terminal bayangan," jelasnya.
Terminal Kebon Kalapa sebagai penggantinya pun dinilai tidak memadai karena sangat sempit. Sedangkan dalam sehari, jumlah angkot yang masuk ke Terminal Kebon Kalapa bisa mencapai 2 ribu unit. Akibatnya, angkot ngetem di sekitaran jalur yang jadi rutenya.
"Itu yang membuat macet karena memang tidak ada terminal (yang memadai)," ucapnya.
Hal serupa terjadi di lokasi lain, sehingga angkot ngetem di mana saja. Untuk itu, Pemkot Bandung perlu mengambil solusi, yaitu memperbaiki infrastruktur. "Perlu ada perbaikan infrastruktur," tegas Jaja.
Jika infrastruktur baik, tradisi ngetem di mana saja diyakini bisa ditekan karena angkot punya tempat ngetem memadai.
Selain kurangnya infrastruktur memadai, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Salah satunya menurunnya jumlah penumpang angkot.
"Sejak 2005 jumlah penumpang mengalami penurunan hingga 60 persen karena banyak penumpang beralih menggunakan sepeda motor dari pada naik angkot," tuturnya.
Ketika jumlah penumpang terus berkurang, para sopir angkot pun akhirnya ngetem di mana saja untuk mencari penumpang.
Jaja menambahkan, ke depan perlu dicari berbagai solusi bersama dengan semua pihak agar tradisi ngetem di mana saja bisa dihilangkan.
(lns)