Ini dia tanggapan medis terkait praktik Masudin
Selasa, 12 November 2013 - 00:53 WIB
Ini dia tanggapan medis terkait praktik Masudin
A
A
A
Sindonews.com - Pengobatan tunarungu dengan sistem buka saraf ala Masudin pemuda asal Jombang, Jawa Timur, yang cukup menghebohkan, karena mampu menyembuhkan pasien tunarungu hanya dalam hitungan detik, ternyata tidak dikenal dalam ilmu medis.
Untuk membuktikan pasien Masudin benar-benar sembuh atau tidak, dokter spesialis THT di RSUD Jombang mempersilakan masyarakat untuk memeriksakan anggota keluarganya yang sudah di terapi Masudin dengan pengujian secara ilmiah atau medis.
Pernyataan tersebut diungkapkan Dokter Spesialis THT RSUD Jombang dr. Indro Saswanto. Menurut ahli penyakit THT ini. tunarungu atau tuli, bisa terjadi di tiga bagian telinga manusia. Diantaranya adalah telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga luar biasanya disebabkan oleh adanya kotoran yang menyumbat atau kendang telinga jebol. Bagian tengah biasanya disebabkan oleh kecelakaan, sehingga tulang dengar lepas, dan pengobatannya harus dioperasi atau disambung kembali.
Yang ketiga adalah telinga dalam, atau tuli saraf. Tuli jenis ini biasanya menyebabkan penderitanya tuli total dan biasanya terjadi sejak lahir.
Terhadap tiga masalah pendengaran tersebut, dalam ilmu medis pengobatannya juga berbeda-beda. Mulai dengan pembersihan terhadap kotoran yang menyumbat, operasi penyambungan tulang dengar yang lepas atau patah, dan melakukan implan atau memasukkan alat bantu ke dalam telinga yang biayanya mencapai ratusan juta rupiah.
Terhadap terapi ala Masudin, meski kenyataannya para pasien dan keluarganya menganggap mereka sudah sembuh, dr Indro Saswanto mengaku tidak yakin dan perlu dilakukan pembuktian secara medis.
Terapi dengan sistem buka saraf seperti yang dilakukan Masudin, tidak pernah dikenal dalam ilmu medis, sehingga jika para pasiennya merasa sudah sembuh dr Indro mempersilakan mereka mengujinya lagi secara medis.
Dr. Indro juga membantah dirinya dan para dokter lain resah atau takut kehilangan pasien dengan praktek terapi Masudin.
Terkait keraguan dari sejumlah pihak terhadap cara penyembuhan pasien yang ditunjukkannya, Masudin sang terapis menanggapinya secara dingin. Menurutnya, dia siap mempertanggungjawabkan praktiknya dan mempersilakan pihak manapun untuk menguji kebenaran tentang kesembuhan para pasiennya tersebut.
Masudin menyatakan, siap membuktikan dan menunjukkan kepada siapa saja bahwa seluruh pasien yang sudah dia terapi benar-benar sembuh dan sudah bisa mendengar. Sebab di tempat praktiknya atau setelah pulang, kenyataannya para pasien ini memang benar-benar sudah bisa mendengar.
Semua ini, menurut Masudin terjadi tanpa rekayasa dan proses terapinyapun dia juga tidak sembunyi-sembunyi. Bisa dilakukan di tempat terbuka, dan boleh dilihat oleh siapa saja.
Sehingga, jika ada yang ragu, Masudin mempersilakan pihak-pihak yang ragu tersebut untuk melihat dan membuktikannya secara langsung.
Terkait mahalnya tarif yang dia kenakan, menurut Masudin, terapinya ini jauh lebih murah dari biaya yang harus dikeluarkan jika pasien harus implan ke dokter yang mencapai ratusan juta rupiah.
Untuk membuktikan pasien Masudin benar-benar sembuh atau tidak, dokter spesialis THT di RSUD Jombang mempersilakan masyarakat untuk memeriksakan anggota keluarganya yang sudah di terapi Masudin dengan pengujian secara ilmiah atau medis.
Pernyataan tersebut diungkapkan Dokter Spesialis THT RSUD Jombang dr. Indro Saswanto. Menurut ahli penyakit THT ini. tunarungu atau tuli, bisa terjadi di tiga bagian telinga manusia. Diantaranya adalah telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga luar biasanya disebabkan oleh adanya kotoran yang menyumbat atau kendang telinga jebol. Bagian tengah biasanya disebabkan oleh kecelakaan, sehingga tulang dengar lepas, dan pengobatannya harus dioperasi atau disambung kembali.
Yang ketiga adalah telinga dalam, atau tuli saraf. Tuli jenis ini biasanya menyebabkan penderitanya tuli total dan biasanya terjadi sejak lahir.
Terhadap tiga masalah pendengaran tersebut, dalam ilmu medis pengobatannya juga berbeda-beda. Mulai dengan pembersihan terhadap kotoran yang menyumbat, operasi penyambungan tulang dengar yang lepas atau patah, dan melakukan implan atau memasukkan alat bantu ke dalam telinga yang biayanya mencapai ratusan juta rupiah.
Terhadap terapi ala Masudin, meski kenyataannya para pasien dan keluarganya menganggap mereka sudah sembuh, dr Indro Saswanto mengaku tidak yakin dan perlu dilakukan pembuktian secara medis.
Terapi dengan sistem buka saraf seperti yang dilakukan Masudin, tidak pernah dikenal dalam ilmu medis, sehingga jika para pasiennya merasa sudah sembuh dr Indro mempersilakan mereka mengujinya lagi secara medis.
Dr. Indro juga membantah dirinya dan para dokter lain resah atau takut kehilangan pasien dengan praktek terapi Masudin.
Terkait keraguan dari sejumlah pihak terhadap cara penyembuhan pasien yang ditunjukkannya, Masudin sang terapis menanggapinya secara dingin. Menurutnya, dia siap mempertanggungjawabkan praktiknya dan mempersilakan pihak manapun untuk menguji kebenaran tentang kesembuhan para pasiennya tersebut.
Masudin menyatakan, siap membuktikan dan menunjukkan kepada siapa saja bahwa seluruh pasien yang sudah dia terapi benar-benar sembuh dan sudah bisa mendengar. Sebab di tempat praktiknya atau setelah pulang, kenyataannya para pasien ini memang benar-benar sudah bisa mendengar.
Semua ini, menurut Masudin terjadi tanpa rekayasa dan proses terapinyapun dia juga tidak sembunyi-sembunyi. Bisa dilakukan di tempat terbuka, dan boleh dilihat oleh siapa saja.
Sehingga, jika ada yang ragu, Masudin mempersilakan pihak-pihak yang ragu tersebut untuk melihat dan membuktikannya secara langsung.
Terkait mahalnya tarif yang dia kenakan, menurut Masudin, terapinya ini jauh lebih murah dari biaya yang harus dikeluarkan jika pasien harus implan ke dokter yang mencapai ratusan juta rupiah.
(san)