Puluhan desa di Jepara dilanda krisis air bersih
Rabu, 06 November 2013 - 10:27 WIB
Puluhan desa di Jepara dilanda krisis air bersih
A
A
A
Sindonews.com - Sedikitnya 22 desa yang tersebar di 10 kecamatan, di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mengalami krisis air bersih. Selain itu, masih ada 172 desa yang berpotensi mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih, jika dalam beberapa waktu ke depan tidak turun hujan.
Seperti diketahui, Kabupaten Jepara terdiri dari 16 kecamatan. Terdiri dari 195 desa dan kelurahan. Praktis, jika dihitung, lebih dari separo kecamatan maupun desa/kelurahan di Jepara, terdeteksi berpotensi mengalami krisis air bersih, saat musim kemarau berkepanjangan seperti sekarang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayetno mengatakan, lokasi kekeringan parah ada di Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit.
Lokasi lain yang mengalami krisis air parah adalah Dukuh Rekesan, Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung. Di lokasi ini, memang tidak ada mata airnya. Sehingga setiap tahunnya selalu mengalami krisis air bersih.
Terkait persoalan ini, pihaknya sudah melakukan dropping air bersih ke sejumlah wilayah yang dilanda kekeringan tersebut. Selain untuk masyarakat umum, dropping air bersih juga dilakukan ke tiga pondok pesantren, di sejumlah lokasi tersebut.
“Langkah dropping kita lakukan, karena krisis air bersih di sana sudah parah. Bagaimanapun juga, air bersih penting untuk menunjang aktivitas sehari-hari warga,” kata Lulus, kepada wartawan, di Jepara, Rabu (6/11/2013).
Berdasarkan pemetaan yang sudah dilakukan, ada 194 desa di Jepara yang terindikasi mengalami krisis air bersih. Ratusan titik tersebut, tersebar di 11 kecamatan. Hanya saja, hingga kemarin baru 10 kecamatan yang sudah melapor. Sedang satu kecamatan lain, yakni Kecamatan Pakis Aji belum melaporkan kondisi terkini terkait krisis air bersih di wilayahnya.
Selain dropping air bersih, pihaknya bersama instansi terkait juga menggelar langkah antisipasi lainnya. Yakni melalui pembangunan sumur pantek, pipanisasi dan tandon air.
”Ketiga langkah ini sifatnya lebih jangka panjang. Kalau hanya dropping air, hanya sementara,” terangnya.
Diperkirakan, krisis air bersih ini masih akan berlangsung hingga akhir bulan ini. Sebab berdasar informasi dari BMKG, hujan dengan intensitas tinggi baru akan turun akhir November hingga awal Desember.
“Meski begitu, kalau masyarakat memang masih membutuhkan dropping air bersih akan terus kita lakukan meski sudah turun hujan,” tandasnya.
Seperti diketahui, Kabupaten Jepara terdiri dari 16 kecamatan. Terdiri dari 195 desa dan kelurahan. Praktis, jika dihitung, lebih dari separo kecamatan maupun desa/kelurahan di Jepara, terdeteksi berpotensi mengalami krisis air bersih, saat musim kemarau berkepanjangan seperti sekarang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayetno mengatakan, lokasi kekeringan parah ada di Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit.
Lokasi lain yang mengalami krisis air parah adalah Dukuh Rekesan, Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung. Di lokasi ini, memang tidak ada mata airnya. Sehingga setiap tahunnya selalu mengalami krisis air bersih.
Terkait persoalan ini, pihaknya sudah melakukan dropping air bersih ke sejumlah wilayah yang dilanda kekeringan tersebut. Selain untuk masyarakat umum, dropping air bersih juga dilakukan ke tiga pondok pesantren, di sejumlah lokasi tersebut.
“Langkah dropping kita lakukan, karena krisis air bersih di sana sudah parah. Bagaimanapun juga, air bersih penting untuk menunjang aktivitas sehari-hari warga,” kata Lulus, kepada wartawan, di Jepara, Rabu (6/11/2013).
Berdasarkan pemetaan yang sudah dilakukan, ada 194 desa di Jepara yang terindikasi mengalami krisis air bersih. Ratusan titik tersebut, tersebar di 11 kecamatan. Hanya saja, hingga kemarin baru 10 kecamatan yang sudah melapor. Sedang satu kecamatan lain, yakni Kecamatan Pakis Aji belum melaporkan kondisi terkini terkait krisis air bersih di wilayahnya.
Selain dropping air bersih, pihaknya bersama instansi terkait juga menggelar langkah antisipasi lainnya. Yakni melalui pembangunan sumur pantek, pipanisasi dan tandon air.
”Ketiga langkah ini sifatnya lebih jangka panjang. Kalau hanya dropping air, hanya sementara,” terangnya.
Diperkirakan, krisis air bersih ini masih akan berlangsung hingga akhir bulan ini. Sebab berdasar informasi dari BMKG, hujan dengan intensitas tinggi baru akan turun akhir November hingga awal Desember.
“Meski begitu, kalau masyarakat memang masih membutuhkan dropping air bersih akan terus kita lakukan meski sudah turun hujan,” tandasnya.
(san)