Tak suka dengan pengantin wanita, pemuda gantung diri
Kamis, 03 Oktober 2013 - 16:43 WIB
Tak suka dengan pengantin wanita, pemuda gantung diri
A
A
A
Sindonews.com - Saiful Muzaki, seorang pemuda berusia 24 tahun nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantungkan lehernya di kusen pintu belakang rumah neneknya, di Dusun Blegi RT 01 RW 09, Desa/Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Korban nekat bunuh diri diduga karena persoalan asmara.
Jenazah Saiful pertama kali ditemukan pada Rabu (2/10) sekira pukul 05.00 WIB oleh ayahnya, Mahfud Bashori (47), warga Dusun Kliwonan, Desa Bandongan. Saat itu, tubuh korban masih menggantung di kusen pintu belakang rumah neneknya dengan leher terikat tali kain, atau biasa yang digunakan untuk tali tas.
Melihat kondisi anaknya sudah tidak bernyawa, Bashori kemudian meminta tolong kepada warga setempat untuk mengevakuasi tubuh korban.
Dari data yang terhimpun SINDO, korban sebenarnya akan melangsungkan pernikahan dengan N, seorang gadis asal Temanggung. Namun, hari bahagia yang sedianya dilaksanakan Rabu (2/10) tersebut harus berganti duka, setelah Saiful justru ditemukan tewas gantung diri. Di dekat tubuh korban, ditemukan sepucuk surat yang ditulis pada kertas folio.
Sayat Wibisono, salah seorang warga setempat mengatakan, bunuh diri yang dilakukan korban dilatarbelakangi persolan asmara. Saiful, diceritakannya sedang memadu kasih dengan dua gadis sekaligus yakni P, warga Magelang dan N, warga Temanggung.
Beberapa waktu lalu, keluarga N mendatangi rumah Saiful dengan maksud mengabarkan bahwa N telah hamil. Dari pembicaraan tersebut kemudian kedua belah pihak sepakat untuk menikahkan Saiful dengan N. Namun, menjelang hari pernikahan, Saiful pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya.
“Keluarganya sudah mencari, dan menghubungi korban lewat HP tapi tidak ada balasan. Tahu-tahu malah ditemukan gantung diri. Padahal, keluarga korban sudah melangsungkan syukuran untuk acara nikahannya,” kata Sayat, Kamis (3/10/2013).
Menurut Sayat, korban nekat melakukan bunuh diri lantaran tidak setuju kesepakatan pernikahannya dengan N. Sebab, korban masih menaruh hati kepada P.
“Katanya, korban mau menikah kalau sama P. Saiful juga meninggalkan surat wasiat sebelum meninggal yang ditemukan di dekat tubuh korban. Isi dari surat tersebut permintaan maaf pada orangtua, selain itu juga Saiful menuliskan P tidak bisa diganti siapapun,” imbuhnya.
Kapolsek Bandongan, AKP Suprayudi, mengatakan korban telah mendapat visum dari dokter. Pihaknya juga telah melakukan olah TKP seusai kejadian tersebut. Ia mengatakan ada beberapa barang bukti berupa tali tas berukuran 105 centimeter yang digunakan untuk gantung diri.
“Kami juga masih mengamankan surat wasiat yang ditinggalkan korban. Isinya seperti apa, kami masih mempelajari,” jelasnya.
Dia mengatakan, surat wasiat itu ditulis tangan di kertas folio bergaris. Sementara untuk penyebab kematian, diperkirakan korban kecewa dengan istrinya yang dalam kondisi hamil. Meski demikian, pihaknya masih akan mendalaminya.
“Yang jelas itu permasalahan pribadi. Berdasarkan pemeriksaan dan keterangan medis korban murni bunuh diri. Sebab tidak ada tanda-tanda penganiayaan,” tandasnya.
Jenazah Saiful pertama kali ditemukan pada Rabu (2/10) sekira pukul 05.00 WIB oleh ayahnya, Mahfud Bashori (47), warga Dusun Kliwonan, Desa Bandongan. Saat itu, tubuh korban masih menggantung di kusen pintu belakang rumah neneknya dengan leher terikat tali kain, atau biasa yang digunakan untuk tali tas.
Melihat kondisi anaknya sudah tidak bernyawa, Bashori kemudian meminta tolong kepada warga setempat untuk mengevakuasi tubuh korban.
Dari data yang terhimpun SINDO, korban sebenarnya akan melangsungkan pernikahan dengan N, seorang gadis asal Temanggung. Namun, hari bahagia yang sedianya dilaksanakan Rabu (2/10) tersebut harus berganti duka, setelah Saiful justru ditemukan tewas gantung diri. Di dekat tubuh korban, ditemukan sepucuk surat yang ditulis pada kertas folio.
Sayat Wibisono, salah seorang warga setempat mengatakan, bunuh diri yang dilakukan korban dilatarbelakangi persolan asmara. Saiful, diceritakannya sedang memadu kasih dengan dua gadis sekaligus yakni P, warga Magelang dan N, warga Temanggung.
Beberapa waktu lalu, keluarga N mendatangi rumah Saiful dengan maksud mengabarkan bahwa N telah hamil. Dari pembicaraan tersebut kemudian kedua belah pihak sepakat untuk menikahkan Saiful dengan N. Namun, menjelang hari pernikahan, Saiful pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya.
“Keluarganya sudah mencari, dan menghubungi korban lewat HP tapi tidak ada balasan. Tahu-tahu malah ditemukan gantung diri. Padahal, keluarga korban sudah melangsungkan syukuran untuk acara nikahannya,” kata Sayat, Kamis (3/10/2013).
Menurut Sayat, korban nekat melakukan bunuh diri lantaran tidak setuju kesepakatan pernikahannya dengan N. Sebab, korban masih menaruh hati kepada P.
“Katanya, korban mau menikah kalau sama P. Saiful juga meninggalkan surat wasiat sebelum meninggal yang ditemukan di dekat tubuh korban. Isi dari surat tersebut permintaan maaf pada orangtua, selain itu juga Saiful menuliskan P tidak bisa diganti siapapun,” imbuhnya.
Kapolsek Bandongan, AKP Suprayudi, mengatakan korban telah mendapat visum dari dokter. Pihaknya juga telah melakukan olah TKP seusai kejadian tersebut. Ia mengatakan ada beberapa barang bukti berupa tali tas berukuran 105 centimeter yang digunakan untuk gantung diri.
“Kami juga masih mengamankan surat wasiat yang ditinggalkan korban. Isinya seperti apa, kami masih mempelajari,” jelasnya.
Dia mengatakan, surat wasiat itu ditulis tangan di kertas folio bergaris. Sementara untuk penyebab kematian, diperkirakan korban kecewa dengan istrinya yang dalam kondisi hamil. Meski demikian, pihaknya masih akan mendalaminya.
“Yang jelas itu permasalahan pribadi. Berdasarkan pemeriksaan dan keterangan medis korban murni bunuh diri. Sebab tidak ada tanda-tanda penganiayaan,” tandasnya.
(rsa)