Kalau takut ditembak, jangan jadi polisi
Rabu, 11 September 2013 - 17:07 WIB
Kalau takut ditembak, jangan jadi polisi
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendesak polri untuk terus melaksanakan operasi senjata api (senpi) sebagai langkah untuk mengantisipasi penembakan Orang Tak Dikenal (OTK) yang menyasar kepada anggota polisi.
"Kami minta Polri, tak terkecuali Kapolda Jawa Tengah untuk segera melakukan operasi dan penertiban senpi ilegal. Ini sebagai antisipasi penembakan dengan sasaran anggota Polri," ujar Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrachman, kepada wartawan, Rabu (11/9/2013).
Ditambahkan dia, penembakan di depan Gedung KPK, pada Selasa 10 September 2013 malam yang menewaskan seorang anggota polisi, merupakan tambahan beban berat bagi kepolisian.
"Karena harus ungkap kasus ini, juga kasus sebelumnya. Untuk masyarakat juga diharapkan bantuannya untuk memberikan informasi," pintanya.
Terpisah, Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Dwi Priyatno mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan terkait hal ini. "Bertindak sesuai prosedur. Patroli terus kami giatkan, termasuk meningkatkan kemampuan, baik bela diri maupun menembak," timpalnya.
Sementara itu, Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Elan Subilan menginstruksikan anggotanya untuk tidak takut dengan kejadian penembakan anggota polisi yang marak terjadi akhir-akhir ini.
"Kalau waspada itu tentu. Saya sudah bilang ke anggota, jangan takut mati ditembak. Kalau takut jangan jadi polisi. Kalau terkait pengawalan memang harus lebih dari dua orang, jangan sendiri-sendiri," tambahnya.
Dia menambahkan, sejumlah petugas berseragam preman sudah ditempatkan di beberapa titik. Salah satu tujuannya, untuk menjaga petugas berseragam yang sedang bertugas. "Jadi kalau ada ancaman, yang tidak berseragam itu bisa langsung menghantam. Alhamdulillah sejauh ini aman," lanjutnya.
Pengawasan, kata dia, juga dilakukan dengan pemantauan lewat kamera pengawas Closed Circuit Television (CCTV). "Di Semarang ada sekitar 168 CCTV, baik di pos polisi, pos polantas, maupun di tingkat polsek" tutupnya.
"Kami minta Polri, tak terkecuali Kapolda Jawa Tengah untuk segera melakukan operasi dan penertiban senpi ilegal. Ini sebagai antisipasi penembakan dengan sasaran anggota Polri," ujar Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrachman, kepada wartawan, Rabu (11/9/2013).
Ditambahkan dia, penembakan di depan Gedung KPK, pada Selasa 10 September 2013 malam yang menewaskan seorang anggota polisi, merupakan tambahan beban berat bagi kepolisian.
"Karena harus ungkap kasus ini, juga kasus sebelumnya. Untuk masyarakat juga diharapkan bantuannya untuk memberikan informasi," pintanya.
Terpisah, Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Dwi Priyatno mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan terkait hal ini. "Bertindak sesuai prosedur. Patroli terus kami giatkan, termasuk meningkatkan kemampuan, baik bela diri maupun menembak," timpalnya.
Sementara itu, Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Elan Subilan menginstruksikan anggotanya untuk tidak takut dengan kejadian penembakan anggota polisi yang marak terjadi akhir-akhir ini.
"Kalau waspada itu tentu. Saya sudah bilang ke anggota, jangan takut mati ditembak. Kalau takut jangan jadi polisi. Kalau terkait pengawalan memang harus lebih dari dua orang, jangan sendiri-sendiri," tambahnya.
Dia menambahkan, sejumlah petugas berseragam preman sudah ditempatkan di beberapa titik. Salah satu tujuannya, untuk menjaga petugas berseragam yang sedang bertugas. "Jadi kalau ada ancaman, yang tidak berseragam itu bisa langsung menghantam. Alhamdulillah sejauh ini aman," lanjutnya.
Pengawasan, kata dia, juga dilakukan dengan pemantauan lewat kamera pengawas Closed Circuit Television (CCTV). "Di Semarang ada sekitar 168 CCTV, baik di pos polisi, pos polantas, maupun di tingkat polsek" tutupnya.
(san)