Jalan dengan pintu terbuka, TMB bahayakan penumpang
Kamis, 05 September 2013 - 14:53 WIB
Jalan dengan pintu terbuka, TMB bahayakan penumpang
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Transportasi Institut Teknologi Bandung Harun Al Rasyid menyayangkan kebijakan UPT Trans Metro Bandung (TMB) yang mengoperasikan armada dalam keadaan tidak layak.
Apalagi jika mengorbankan keselamatan penumpang dengan berjalan dengan kondisi pintu dibuka. "TMB harusnya lebih baik dari Damri, jika memang tidak layak jangan dipakai," katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (5/9/2013).
Menurutnya, TMB harus memiliki standar operasi yang jelas sebagai angkutan massal kebanggaan Pemkot Bandung. Tugas itu menjadi tanggungjawab manajemen yang ditunjuk.
“Masalah utamanya memang dipemeliharaan. Jika tidak dipelihara dengan baik, otomatis manfaatnya bisa lebih pendek. Harusnya bertahan sepuluh tahun, tapi karena tidak dirawat, umurnya jadi pendek,” beber Harun.
Lebih jauh, dia menilai, pemerintah kota tidak siap dalam menyelenggarakan angkutan massal. Baik SDM-nya maupun pendanaannya.
“TMB kan bisa dibilang proyek non profit, sehingga pemasukan tidak bisa digunakan untuk pemeliharaan. Sedangkan Bandung sendiri tidak memiliki cukup biaya untuk mensubsidi pemeliharaannya. Jadi kondisinya seperti ini,” tambahnya.
Seperti diketahui, akibat rusaknya pendingin udara, bus rappid trans ini terpaksa membuka pintunya saat beroperasi. Sejumlah penumpang mengeluhkan kondisi ini, karena mengancam keselamatan mereka.
Apalagi jika mengorbankan keselamatan penumpang dengan berjalan dengan kondisi pintu dibuka. "TMB harusnya lebih baik dari Damri, jika memang tidak layak jangan dipakai," katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (5/9/2013).
Menurutnya, TMB harus memiliki standar operasi yang jelas sebagai angkutan massal kebanggaan Pemkot Bandung. Tugas itu menjadi tanggungjawab manajemen yang ditunjuk.
“Masalah utamanya memang dipemeliharaan. Jika tidak dipelihara dengan baik, otomatis manfaatnya bisa lebih pendek. Harusnya bertahan sepuluh tahun, tapi karena tidak dirawat, umurnya jadi pendek,” beber Harun.
Lebih jauh, dia menilai, pemerintah kota tidak siap dalam menyelenggarakan angkutan massal. Baik SDM-nya maupun pendanaannya.
“TMB kan bisa dibilang proyek non profit, sehingga pemasukan tidak bisa digunakan untuk pemeliharaan. Sedangkan Bandung sendiri tidak memiliki cukup biaya untuk mensubsidi pemeliharaannya. Jadi kondisinya seperti ini,” tambahnya.
Seperti diketahui, akibat rusaknya pendingin udara, bus rappid trans ini terpaksa membuka pintunya saat beroperasi. Sejumlah penumpang mengeluhkan kondisi ini, karena mengancam keselamatan mereka.
(san)