Tokoh Pendidikan: Bangsa ini butuh lebih banyak sosok Bima
Jum'at, 30 Agustus 2013 - 10:33 WIB
Tokoh Pendidikan: Bangsa ini butuh lebih banyak sosok Bima
A
A
A
Sindonews.com - Pencetakan rekor mengajar terlama Museum Rekor Indonesia (Muri) yang dilakukan intelektual muda Bima Arya Sugiarto menuai apresiasi positif dari kalangan tokoh pendidikan. Bahkan tokoh pendidikan nasional menilai kalau bangsa ini butuh banyak sosok seperti Bima Arya.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat mengatakan, jarang ada intelektual sekaligus aktivis di Indonesia yang mampu menyeimbangkan posisinya tersebut dalam kiprah keseharian. Salah satu tokoh muda nasional yang melakukan hal itu adalah Bima Arya.
"Sebagai seorang pembelajar dan pengajar sekaligus politisi, Bima telah memilih caranya untuk menarik perhatian kita bahwa ada beberapa hal yang perlu terus ditingkatkan dalam agenda peningkatan kualitas pendidikan Indonesia," ujar Komaruddin di Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Komaruddin juga mengatakan, bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi sosok intelektual-aktivis seperti Bima. Pendidik sekaligus politisi yang memiliki visi dan tahu pasti langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam menjalankan misinya.
"Idealnya partai-partai yang menyuplai penyelenggara negara baik di eksekutif maupun legislatif juga punya banyak model intelektual-aktivis seperti ini," ungkap Komaruddin.
Sementara itu, tokoh pendidikan Arif Rahman Hakim memandang, dengan mengampanyekan pentingnya pendidikan karakter dan kepemimpinan sejak usia dini Bima sudah berbuat banyak bagi dunia pendidikan nasional.
"Menarik perhatian bisa berbagai cara salah satunya dengan rekor tadi. Menurut saya efeknya signifikan. Meski dilakukan di Bogor tapi sasarannya nasional," ujar Arief.
Hanya saja, Arief mengingatkan agar pencetakan rekor mengajar terlama tidak berhenti sampai di sini. Harus ada tindak lanjut konkret.
"Bagaimana tindak lanjut itu, tentu Bima sebagai intelektual muda, akademisi, sekaligus politisi, punya cara. Dia juga punya jaringan luas. Yang jelas, bentuknya harus program yang tidak instan baik kepada peserta didik maupun pendidik," kata Arief.
Sementara itu, Bima mengatakan, pencetakan rekor ini adalah taktik untuk menarik perhatian para pemangku kepentingan bukan hanya di Bogor atau Jawa Barat, tapi dalam skala nasional bahwa pendidikan dan pendidik sama-sama penting.
"Kesejahteraan guru perlu lebih diperhatikan terutama para guru honorer supaya bisa konsentrasi mengajar sehingga menghasilkan para pelajar berkualitas. Di sisi lain, guru pun dituntut kreatif, inovatif, interaktif, dan improvisasi dalam metode mengajar dan mendidik agar siswa tidak jenuh. Beradaptasi dengan perubahan," katanya.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat mengatakan, jarang ada intelektual sekaligus aktivis di Indonesia yang mampu menyeimbangkan posisinya tersebut dalam kiprah keseharian. Salah satu tokoh muda nasional yang melakukan hal itu adalah Bima Arya.
"Sebagai seorang pembelajar dan pengajar sekaligus politisi, Bima telah memilih caranya untuk menarik perhatian kita bahwa ada beberapa hal yang perlu terus ditingkatkan dalam agenda peningkatan kualitas pendidikan Indonesia," ujar Komaruddin di Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Komaruddin juga mengatakan, bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi sosok intelektual-aktivis seperti Bima. Pendidik sekaligus politisi yang memiliki visi dan tahu pasti langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam menjalankan misinya.
"Idealnya partai-partai yang menyuplai penyelenggara negara baik di eksekutif maupun legislatif juga punya banyak model intelektual-aktivis seperti ini," ungkap Komaruddin.
Sementara itu, tokoh pendidikan Arif Rahman Hakim memandang, dengan mengampanyekan pentingnya pendidikan karakter dan kepemimpinan sejak usia dini Bima sudah berbuat banyak bagi dunia pendidikan nasional.
"Menarik perhatian bisa berbagai cara salah satunya dengan rekor tadi. Menurut saya efeknya signifikan. Meski dilakukan di Bogor tapi sasarannya nasional," ujar Arief.
Hanya saja, Arief mengingatkan agar pencetakan rekor mengajar terlama tidak berhenti sampai di sini. Harus ada tindak lanjut konkret.
"Bagaimana tindak lanjut itu, tentu Bima sebagai intelektual muda, akademisi, sekaligus politisi, punya cara. Dia juga punya jaringan luas. Yang jelas, bentuknya harus program yang tidak instan baik kepada peserta didik maupun pendidik," kata Arief.
Sementara itu, Bima mengatakan, pencetakan rekor ini adalah taktik untuk menarik perhatian para pemangku kepentingan bukan hanya di Bogor atau Jawa Barat, tapi dalam skala nasional bahwa pendidikan dan pendidik sama-sama penting.
"Kesejahteraan guru perlu lebih diperhatikan terutama para guru honorer supaya bisa konsentrasi mengajar sehingga menghasilkan para pelajar berkualitas. Di sisi lain, guru pun dituntut kreatif, inovatif, interaktif, dan improvisasi dalam metode mengajar dan mendidik agar siswa tidak jenuh. Beradaptasi dengan perubahan," katanya.
(ysw)