Ngoceh di Twitter tak pengaruhi elektabilitas kandidat
Senin, 26 Agustus 2013 - 13:59 WIB
Ngoceh di Twitter tak pengaruhi elektabilitas kandidat
A
A
A
Sindonews.com - Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko widodo mengaku, kampanye di jejaring sosial Twitter, marak terjadi saat hari tenang, di Pilkada Jawa Timur. Namun, untuk menuju elektabilitas (dipilih) dengan cara itu, merupakan harapan yang terlalu muluk.
"Memang aturan kita masih belum menjangkau terkait kampanye di Twitter. Secara teori, tidak mempengaruhi tingkat elektabilitas pasangan calon," kata Dosen Fakultas Sosial Ilmu Politik kepada wartawan, Senin (26/8/2013).
Dia menjelaskan, tidak ada teori yang menyebut semakin banyak disebut disosial media, atau diberitakan akan membuat pasangan tersebut dipilih. Kata Suko, mapping di media online bisa dilakukan bukan pada tingkat elektabilitas calon, melainkan sebatas tone positif dan negatif.
"Dan tidak menjamin orang yang semakin banyak diberitakan akan dipilih. Itu salah besar," tandasnya.
Dari segi pembangunan opini, situs 140 karakter ini masih terbatas dipengguna Twitter. Dugaannya, pengguna Twitter ini adalah kalangan anak-anak muda yang memiliki potensi Golput yang cukup tinggi.
"Perlu diketahui ada Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Meski Bawaslu tidak bisa menertipkan kampanye ini, tapi ketika itu Black Campaign, berita bohong atau meyakitkan orang lain, bisa dijerat dengan UU ITE," jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah akun-akun mulai aktif di Twitter. Pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (karSa) menggunakan account @ilovekarsa, @Karsakita, @relawankarsa, @Karsamudajatim dan lain-lain.
Kemudian pasangan Bambang DH-Said Abdullah menggunakan @Jatimjempol, @BDH-Said, @BangSaidJempol dan lain-lain. Disusul Khofifah-Herman dengan @jatimberkah, @KhofifahIP, @dukung_khofifah, @bunda_khofifah, @jatimBERK4H dan lain-lain.
Sementara pasangan calon yang tidak ramai di Twitter adalah pasangan Eggi Sudjana dan M Sihat.
"Memang aturan kita masih belum menjangkau terkait kampanye di Twitter. Secara teori, tidak mempengaruhi tingkat elektabilitas pasangan calon," kata Dosen Fakultas Sosial Ilmu Politik kepada wartawan, Senin (26/8/2013).
Dia menjelaskan, tidak ada teori yang menyebut semakin banyak disebut disosial media, atau diberitakan akan membuat pasangan tersebut dipilih. Kata Suko, mapping di media online bisa dilakukan bukan pada tingkat elektabilitas calon, melainkan sebatas tone positif dan negatif.
"Dan tidak menjamin orang yang semakin banyak diberitakan akan dipilih. Itu salah besar," tandasnya.
Dari segi pembangunan opini, situs 140 karakter ini masih terbatas dipengguna Twitter. Dugaannya, pengguna Twitter ini adalah kalangan anak-anak muda yang memiliki potensi Golput yang cukup tinggi.
"Perlu diketahui ada Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Meski Bawaslu tidak bisa menertipkan kampanye ini, tapi ketika itu Black Campaign, berita bohong atau meyakitkan orang lain, bisa dijerat dengan UU ITE," jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah akun-akun mulai aktif di Twitter. Pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (karSa) menggunakan account @ilovekarsa, @Karsakita, @relawankarsa, @Karsamudajatim dan lain-lain.
Kemudian pasangan Bambang DH-Said Abdullah menggunakan @Jatimjempol, @BDH-Said, @BangSaidJempol dan lain-lain. Disusul Khofifah-Herman dengan @jatimberkah, @KhofifahIP, @dukung_khofifah, @bunda_khofifah, @jatimBERK4H dan lain-lain.
Sementara pasangan calon yang tidak ramai di Twitter adalah pasangan Eggi Sudjana dan M Sihat.
(san)