BBM naik, utang pemerintah tembus Rp2.000 T lebih
Jum'at, 21 Juni 2013 - 13:39 WIB
BBM naik, utang pemerintah tembus Rp2.000 T lebih
A
A
A
Sindonews.com - Aksi demonstrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), bukan tanpa alasan. Sebab, kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada kesejahteraan buruh.
Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, kenaikan harga BBM jenis premium sebesar Rp2.000, dan solar sebesar Rp1.000, bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi jebolnya APBN 2013, karena defisit anggaran sebesar Rp240 triliun. Termasuk di dalamnya dana BLSM (Bantuan Langsung Sementara), yang didapat dari utang baru pemerintah.
"Ini artinya, rakyat akan diberikan tambahan utang yang jumlahnya sudah di atas Rp2.000 triliun," ujar Said Iqbal, melalui rilisnya, Jumat (21/6/2013).
Lebih lanjut, dengan tegas pihaknya menolak kenaikan harga BBM, dan mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM dan pemberian BLSM yang akan memiskinkan rakyat secara sistemik.
Sementara itu, buruh menuntut dinaikkannya Upah Minimum Provinsi (UMP), Kabupaten/Kota 2014 sebesar 50 persen, akibat dampak dari kenaikan harga selama tahun 2013, karena dipastikan inflasi akan menembus dua digit.
Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, kenaikan harga BBM jenis premium sebesar Rp2.000, dan solar sebesar Rp1.000, bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi jebolnya APBN 2013, karena defisit anggaran sebesar Rp240 triliun. Termasuk di dalamnya dana BLSM (Bantuan Langsung Sementara), yang didapat dari utang baru pemerintah.
"Ini artinya, rakyat akan diberikan tambahan utang yang jumlahnya sudah di atas Rp2.000 triliun," ujar Said Iqbal, melalui rilisnya, Jumat (21/6/2013).
Lebih lanjut, dengan tegas pihaknya menolak kenaikan harga BBM, dan mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM dan pemberian BLSM yang akan memiskinkan rakyat secara sistemik.
Sementara itu, buruh menuntut dinaikkannya Upah Minimum Provinsi (UMP), Kabupaten/Kota 2014 sebesar 50 persen, akibat dampak dari kenaikan harga selama tahun 2013, karena dipastikan inflasi akan menembus dua digit.
(san)