3 kondisi ini menyebabkan orang bunuh diri
Kamis, 11 April 2013 - 11:03 WIB
3 kondisi ini menyebabkan orang bunuh diri
A
A
A
Sindonews.com - Guru Besar Keperawatan Jiwa dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Budi Anna Keliat mengatakan, seseorang akan melakukan tindakan bunuh diri karena dipengaruhi tiga kondisi.
"Pertama, cara berfikir yang tidak realistis. Artinya, cara dia berfikir realistis sudah terganggu. Kedua, dia tidak bisa menyelesaikan masalah. Kemungkinan, dia tidak kuat menghadapi masalah yang menimpa dan memilih jalan pintas. Ketiga, kurang adanya suport sistem," ujarnya kepada wartawan, di Depok, Kamis (11/4/2013).
Ditambahkan dia, suport sistem sangat diperlukan seorang yang mengalami masalah berat. Saat ini, sedang terjadi global depresi yang dikarenakan perubahan masalah. Pada kasus depresi, pelaku akan memberikan ciri sebelum melakukan tindak bunuh diri.
Biasanya, dua minggu sebelumnya pelaku akan memberikan sinyal tersendiri. Dan sinyal ini yang seharusnya disadari oleh lingkungan sekitar sehingga tindak bunuh diri dapat dihindari. "Cirinya seperti menurunnya semangat, mudah emosi, sedih berkepanjangan," terangnya.
Dari kondisi demikian, akan muncul tindakan impulsif dimana dia akan melakukan hal untuk melukai diri sendiri ataupun orang lain. Perilaku impulsif ini muncul karena adanya gangguan kejiawaan atau border line.
"Untuk itu mengapa sangat diperlukan pelayanan kesehatan jiwa. Sehingga tindakan seperti ini dapat dihindari," tukasnya.
Pada kasus yang menimpa Direktur PT Lintas Tenggara dapat dikategorikan bahwa dirinya adalah orang yang mengalami stres akut. Dia merasa sudah tidak ada lagi jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya.
"Jika dia tidak mengalami depresi sebelumnya dan belum pernah melakukan percobaan tindakan bunuh diri, bisa dipastikan dia mengalami stres akut hingga nekat melakukan tindak demikian," papar Anna.
"Pertama, cara berfikir yang tidak realistis. Artinya, cara dia berfikir realistis sudah terganggu. Kedua, dia tidak bisa menyelesaikan masalah. Kemungkinan, dia tidak kuat menghadapi masalah yang menimpa dan memilih jalan pintas. Ketiga, kurang adanya suport sistem," ujarnya kepada wartawan, di Depok, Kamis (11/4/2013).
Ditambahkan dia, suport sistem sangat diperlukan seorang yang mengalami masalah berat. Saat ini, sedang terjadi global depresi yang dikarenakan perubahan masalah. Pada kasus depresi, pelaku akan memberikan ciri sebelum melakukan tindak bunuh diri.
Biasanya, dua minggu sebelumnya pelaku akan memberikan sinyal tersendiri. Dan sinyal ini yang seharusnya disadari oleh lingkungan sekitar sehingga tindak bunuh diri dapat dihindari. "Cirinya seperti menurunnya semangat, mudah emosi, sedih berkepanjangan," terangnya.
Dari kondisi demikian, akan muncul tindakan impulsif dimana dia akan melakukan hal untuk melukai diri sendiri ataupun orang lain. Perilaku impulsif ini muncul karena adanya gangguan kejiawaan atau border line.
"Untuk itu mengapa sangat diperlukan pelayanan kesehatan jiwa. Sehingga tindakan seperti ini dapat dihindari," tukasnya.
Pada kasus yang menimpa Direktur PT Lintas Tenggara dapat dikategorikan bahwa dirinya adalah orang yang mengalami stres akut. Dia merasa sudah tidak ada lagi jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya.
"Jika dia tidak mengalami depresi sebelumnya dan belum pernah melakukan percobaan tindakan bunuh diri, bisa dipastikan dia mengalami stres akut hingga nekat melakukan tindak demikian," papar Anna.
(san)