335 warga Bekasi terserang DBD, 4 tewas
Senin, 18 Maret 2013 - 21:47 WIB
335 warga Bekasi terserang DBD, 4 tewas
A
A
A
Sindonews.com - Wabah Demam Berdarah Deangue (DBD) ‘menghantui’ warga Kota Bekasi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mencatat, sepanjang 2013 sebanyak 335 warga terserang penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti. Empat orang diantaranya meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bekasi Anne Nurcahyani menyebutkan, empat warga yang terserang DBD dan meninggal masing-masing tinggal di Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, Kelurahan Jatibening, Pondokgede, Kelurahan Jatimelati, Pondokmelati, dan Kelurahan Jatirangga, Jatisampurna.
Pasien yang meninggal terlambat dibawa ke rumah sakit. Anak-anak dan ibu paling rentan terjangkit DBD. ”Karena ibu dan anak lebih sering berada di dalam lingkungan rumah, sehingga rawan terjangkit penyakit mematikan ini. Kebanyakan mereka diserang siang hari,” katanya di Bekasi, Senin (18/3/2013).
Berbeda dengan kaum laki-laki yang setiap hari melakukan aktivitas di luar rumah. Anne mengatakan, penanganan awal DBD dengan memberikan obat dan cairan. Kalau demam berlanjut sampai tiga hari, periksa ke dokter. Sehingga, jangan dibiarkan saja harus segera dilakukan penangananan.
Jika dikalkulasikan, total warga yang terjangkit selama 2013 itu mencapai 335 warga, rata-rata dalam sehari lima orang terserang DBD. Dengan upaya pencegahan sejak dini mampu mengantisipasi penyakit yang membahayakan tersebut. ”Kesadaran menjaga lingkungan harus dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Dia memaparkan, upaya menjaga lingkungan kebersihan dengan cara 3 M (mengubur, menutup, menguras) agar tidak ada air tergenang yang menyebabkan nyamuk aedes aegypti bersarang. ”Upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sangat efektif dalam menangani wabah DBD,” imbuhnya.
Sehingga, upaya 3 M tersebut dapat memberantas perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti, sebab tidak ada ruang lagi induk nyamuk untuk bertelur. “Tak hanya di luar, bahkan di dalam rumah ketika ada genangan air maupun kamar mandi rentan dijadikan nyamuk berkembang biak,” tuturnya.
Dia menambahkan, untuk upaya foging itu dilakukan jika masyarakat sudah ada yang terindikasi terkena serangan penyakit tersebut. Kendati demikian, upaya untuk foging dengan jadwal tertentu itu tidak efektif, karena hanya bisa membunuh induk nyamuk saja.
“Terus menerus dilakukan Foging itu tidak baik, karena foging itu adalah racun, sehingga lima tahun kemudian akan memunculkan efeknya. Sementara Foging tidak mampu membunuh jentik-jentik nyamuk aedes aegypti, nyamuk ini akan terus berkembang biak dengan sendirinya,” katanya.
Ketua DPRD Kota Bekasi Andi Zabidi mengatakan, pemberantasan nyamuk mematikan ini belum memaksimal dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Karena, masih banyak warga yang terserang dengan penyakit DBD ini. ”Kita melihat Dinkes belum maksimal memberantas DBD di Bekasi,” katanya.
Politisi Partai Demokrat ini meminta rumah sakit yang bekerja sama dengan Pemkot Bekasi terkait program Kartu Bekasi Sehat (KBS) juga bersiap diri menerima korban DBD. Sehingga, tidak ada alasan korban DBD terutama penerima kartu KBS yang merupakan warga miskin tidak dilayani.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bekasi Anne Nurcahyani menyebutkan, empat warga yang terserang DBD dan meninggal masing-masing tinggal di Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, Kelurahan Jatibening, Pondokgede, Kelurahan Jatimelati, Pondokmelati, dan Kelurahan Jatirangga, Jatisampurna.
Pasien yang meninggal terlambat dibawa ke rumah sakit. Anak-anak dan ibu paling rentan terjangkit DBD. ”Karena ibu dan anak lebih sering berada di dalam lingkungan rumah, sehingga rawan terjangkit penyakit mematikan ini. Kebanyakan mereka diserang siang hari,” katanya di Bekasi, Senin (18/3/2013).
Berbeda dengan kaum laki-laki yang setiap hari melakukan aktivitas di luar rumah. Anne mengatakan, penanganan awal DBD dengan memberikan obat dan cairan. Kalau demam berlanjut sampai tiga hari, periksa ke dokter. Sehingga, jangan dibiarkan saja harus segera dilakukan penangananan.
Jika dikalkulasikan, total warga yang terjangkit selama 2013 itu mencapai 335 warga, rata-rata dalam sehari lima orang terserang DBD. Dengan upaya pencegahan sejak dini mampu mengantisipasi penyakit yang membahayakan tersebut. ”Kesadaran menjaga lingkungan harus dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Dia memaparkan, upaya menjaga lingkungan kebersihan dengan cara 3 M (mengubur, menutup, menguras) agar tidak ada air tergenang yang menyebabkan nyamuk aedes aegypti bersarang. ”Upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sangat efektif dalam menangani wabah DBD,” imbuhnya.
Sehingga, upaya 3 M tersebut dapat memberantas perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti, sebab tidak ada ruang lagi induk nyamuk untuk bertelur. “Tak hanya di luar, bahkan di dalam rumah ketika ada genangan air maupun kamar mandi rentan dijadikan nyamuk berkembang biak,” tuturnya.
Dia menambahkan, untuk upaya foging itu dilakukan jika masyarakat sudah ada yang terindikasi terkena serangan penyakit tersebut. Kendati demikian, upaya untuk foging dengan jadwal tertentu itu tidak efektif, karena hanya bisa membunuh induk nyamuk saja.
“Terus menerus dilakukan Foging itu tidak baik, karena foging itu adalah racun, sehingga lima tahun kemudian akan memunculkan efeknya. Sementara Foging tidak mampu membunuh jentik-jentik nyamuk aedes aegypti, nyamuk ini akan terus berkembang biak dengan sendirinya,” katanya.
Ketua DPRD Kota Bekasi Andi Zabidi mengatakan, pemberantasan nyamuk mematikan ini belum memaksimal dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Karena, masih banyak warga yang terserang dengan penyakit DBD ini. ”Kita melihat Dinkes belum maksimal memberantas DBD di Bekasi,” katanya.
Politisi Partai Demokrat ini meminta rumah sakit yang bekerja sama dengan Pemkot Bekasi terkait program Kartu Bekasi Sehat (KBS) juga bersiap diri menerima korban DBD. Sehingga, tidak ada alasan korban DBD terutama penerima kartu KBS yang merupakan warga miskin tidak dilayani.
(san)