Banjir Jakarta untungkan bisnis properti di Depok

Minggu, 27 Januari 2013 - 12:12 WIB
Banjir Jakarta untungkan...
Banjir Jakarta untungkan bisnis properti di Depok
A A A
Sindonews.com - Depok, menjadi kota yang subur akan perkembangan dunia properti. Karena itu, wajar jika Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) menjadi sumber pemasukan kas daerah terbesar.

Bencana banjir di Jakarta, diyakini akan mendorong warga ibu kota beramai-ramai menjual rumahnya dan memilih tinggal di kota pinggiran, salah satunya Depok. Tentunya, menjadi berkah tersendiri bagi perkembangan properti di Depok sebagai bagian wilayah hulu sebelum Jakarta.

Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah dan Aset Doddy Setiadi mengatakan dengan banyaknya kejadian banjir di Jakarta, akan membuat rumah di Depok laku keras. Tentunya akan berpengaruh mendongkrak pajak BPHTB menjadi tinggi lagi.

"Akan banyak warga pindah ke Depok. Bagi Kota Depok, masalah di Jakarta, untungnya di Depok, bagi perkembangan rumah di Depok. Trendnya sangat optimis sekali. Pilihan pindah ke pinggiran. Kelas menengah ke atas," ujarnya kepada wartawan, Minggu (27/1/2013).

Doddy menambahkan, dampak itu secara otomatis akan meningkatkan pajak BPHTB bagi para pengembang yang akan membangun perumahan di Depok. Apalagi saat ini, perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) mewajibkan pengembang membuat perumahan minimal tanah 120 meter persegi per unit. Hal itu tentu semakin membuat pajak BPHTB yang masuk ke kas daerah meningkat.

"Banyak yang bilang perda itu untuk tingkatkan BPHTB, tapi kan itu secara otomatis memang akan meningkat. Padahal perda itu dibuat demi mendukung Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dengan mempertimbangkan Koefisien Dasar Bangunan (KDB), pasti ada sisa tanah lebih," paparnya.

Saat ini, kata Doddy, harga rumah dengan tipe 36/72 saja sudah di kisaran harga Rp250-Rp300 juta. Bayangkan jika perda tersebut sudah diberlakukan, dengan minimal luas tanah di Depok 120 meter persegi per unit rumah, maka harga rumah di Depok kedepan bisa di kisaran Rp500 juta keatas.

"Alasan logis. Pada saat tanah 120, bangunan harganya Rp400-Rp 500 juta. Tanah memang harus dibatasi, sehingga tidak semua orang bisa pindah ke Depok, tapi saya tetap optimis geliat properti tetap laku, karena Jakarta banjir," ungkapnya.

Sebelumnya pengembang perumahan di Depok bersama-sama memprotes kebijakan tersebut ke DPRD Depok. Sebab, dengan adanya perda tersebut, nantinya hanya orang kaya saja yang bisa membeli rumah di Depok.
(san)
Berita Terkait
Riwayat Banjir Besar...
Riwayat Banjir Besar di DKI Jakarta Sejak 1918 Hingga 2020
Jakarta Diancam Banjir,...
Jakarta Diancam Banjir, Tiga Hal Ini Perlu Diantisipasi
Sejumlah Hotel Disiapkan...
Sejumlah Hotel Disiapkan Untuk Tampung Warga Terdampak Banjir
Anies Bocorkan Jurus...
Anies Bocorkan Jurus Atasi Banjir di Kampung Cipinang
Anies Posting Ini di...
Anies Posting Ini di Akun Media Sosial, Antisipasi Banjir Datang
Presiden AS Joe Biden:...
Presiden AS Joe Biden: Jakarta Tenggelam 10 Tahun Mendatang
Berita Terkini
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
2 jam yang lalu
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
3 jam yang lalu
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
4 jam yang lalu
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
4 jam yang lalu
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
5 jam yang lalu
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
5 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved