Sidoarjo diserang virus flu burung
Rabu, 26 Desember 2012 - 17:01 WIB
Sidoarjo diserang virus flu burung
A
A
A
Sindonews.com - Warga Sidoarjo yang memelihara unggas diharapkan waspada. Pasalnya, virus flu burung disinyalir sudah menyerang unggas milik warga disejumlah kawasan. Virus yang dikenal dengan sebutar H5N1 tersebut, terdeteksi menyerang unggas milik warga di Desa Kemiri, Kecamatan Sidoarjo, dan di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran.
Unggas milik Sabar (45), warga Kemiri mati mendadak dalam beberapa minggu terakhir. "Dalam bulan ini sudah tujuh ekor ayam saya mati mendadak," ujar pria yang juga berternak kambing itu, Rabu (26/12/2012).
Sabar awalnya tidak mengira jika ayam-ayam yang harganya diatas Rp500 ribu itu terserang virus H5N1. Dia mengira jika ayam aduannya itu sakit biasa. Ternyata setelah diteliti dengan seksama, dibeberapa bagian tubuh ayam membiru. Bukan hanya di tubuhnya yang membiru, jengger ayam juga ikut membiru.
Sabar baru yakin jika ayam-ayamnya itu mati karena terserang virus flu burung setelah melihat ayam milik saudaranya di Siwalanpanji juga mati. Oleh karena itu, kasus ini kemudiam dilaporkan ke Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Disperbuntan).
Dari total 20 ekor ayam miliknya, kini hanya tersisa 13 ekor ayam. Salah satu ayam juga diindikasikan terkena virus tersebut, dibagian kulitnya banyak luka. "Saya takut ayam-ayam yang lain ikut terserang," tandasnya.
Sabar menuturkan, ayam yang dia ternak digunakan untuk aduan. Seekor ayam yang sudah jadi harganya antara Rp2 sampai Rp3 juta. Sedangkan yang masih anakan harganya sekitar Rp500 ribu. Akibat kejadian ini dia rugi hingga puluhan juta rupiah.
Mendapat laporan jika ada unggas milik warga yang mati, petugas dari Dispertanbun langsung ke lokasi. Petugas mendatangi peternakan milik Sabar dengan membawa desinfektan. Setelah memeriksa ayam-ayam milik Sabar, petugas kemudian menyemprotkan desinfectan ke kandang ayam. Setelah dicek ternyata ayam-ayam tersebut positif terserang virus flu burung.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dispertanbun Sidoarjo Nuning S Pujiastuti mengatakan, ciri-ciri yang terdapat pada ayam Sabar positif terserang virus flu burung. "Setelah kita lihat, ternyata tubuh dan jenggernya membiru. Itu tanda-tanda terserang virus flu burung," tegasnya.
Nuning menambahkan, virus H5N1 berkembang pada saat musim penghujan. Pergantian cuaca menyebabkan unggas rentan terkena penyakit. Selama ini, jenis virus flu burung yang menyerang ayam adalah virus jenis H5N1 kleith 2.1.
Sedangkan kini berkembang jenis virus baru yaitu H5N1 2.3. Virus baru itu menyerang angsa seperti yang menyerang dibeberapa daerah, diantaranya Blitar dan Tulungagung.
Naning menjelaskan, untuk mendeteksi unggas terserang virus flu burung atau tidak bisa menggunakan rapid test. Yaitu, dengan cara mengambil cairan dari kloaka ayam. Selanjutnya, cairan tersebut diletakkan ke tespack (sejenis alat untuk memeriksa kehamilan). Jika yang muncul tanda garis jumlahnya dua, maka ayam itu positif terjangkit flu burung.
Sedangkan untuk pemeriksaan virus yang menyerang unggas, harus dengan PCR (Polimeration Chain Reaktion). Untuk jenis ini tidak langsung bisa diketahui. "Paling tidak butuh waktu satu sampai dua minggu," tegas Nuning.
Unggas yang belum terserang virus flu burung diharapkan dipindah ke kandang baru. Kandang yang sebelumnya ada unggas terserang virus itu hendaknya dimusnahkan. Selain di Kecamatan Sidoarjo dan Buduran, ternyata virus flu burung juga menyerang unggas di Kecamatan Balongbendo dan Jabon.
"Jika ada unggas yang terindikasi terserang virus flu burung segera melapor akan bisa ditangani," pungkas Nuning.
Unggas milik Sabar (45), warga Kemiri mati mendadak dalam beberapa minggu terakhir. "Dalam bulan ini sudah tujuh ekor ayam saya mati mendadak," ujar pria yang juga berternak kambing itu, Rabu (26/12/2012).
Sabar awalnya tidak mengira jika ayam-ayam yang harganya diatas Rp500 ribu itu terserang virus H5N1. Dia mengira jika ayam aduannya itu sakit biasa. Ternyata setelah diteliti dengan seksama, dibeberapa bagian tubuh ayam membiru. Bukan hanya di tubuhnya yang membiru, jengger ayam juga ikut membiru.
Sabar baru yakin jika ayam-ayamnya itu mati karena terserang virus flu burung setelah melihat ayam milik saudaranya di Siwalanpanji juga mati. Oleh karena itu, kasus ini kemudiam dilaporkan ke Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Disperbuntan).
Dari total 20 ekor ayam miliknya, kini hanya tersisa 13 ekor ayam. Salah satu ayam juga diindikasikan terkena virus tersebut, dibagian kulitnya banyak luka. "Saya takut ayam-ayam yang lain ikut terserang," tandasnya.
Sabar menuturkan, ayam yang dia ternak digunakan untuk aduan. Seekor ayam yang sudah jadi harganya antara Rp2 sampai Rp3 juta. Sedangkan yang masih anakan harganya sekitar Rp500 ribu. Akibat kejadian ini dia rugi hingga puluhan juta rupiah.
Mendapat laporan jika ada unggas milik warga yang mati, petugas dari Dispertanbun langsung ke lokasi. Petugas mendatangi peternakan milik Sabar dengan membawa desinfektan. Setelah memeriksa ayam-ayam milik Sabar, petugas kemudian menyemprotkan desinfectan ke kandang ayam. Setelah dicek ternyata ayam-ayam tersebut positif terserang virus flu burung.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dispertanbun Sidoarjo Nuning S Pujiastuti mengatakan, ciri-ciri yang terdapat pada ayam Sabar positif terserang virus flu burung. "Setelah kita lihat, ternyata tubuh dan jenggernya membiru. Itu tanda-tanda terserang virus flu burung," tegasnya.
Nuning menambahkan, virus H5N1 berkembang pada saat musim penghujan. Pergantian cuaca menyebabkan unggas rentan terkena penyakit. Selama ini, jenis virus flu burung yang menyerang ayam adalah virus jenis H5N1 kleith 2.1.
Sedangkan kini berkembang jenis virus baru yaitu H5N1 2.3. Virus baru itu menyerang angsa seperti yang menyerang dibeberapa daerah, diantaranya Blitar dan Tulungagung.
Naning menjelaskan, untuk mendeteksi unggas terserang virus flu burung atau tidak bisa menggunakan rapid test. Yaitu, dengan cara mengambil cairan dari kloaka ayam. Selanjutnya, cairan tersebut diletakkan ke tespack (sejenis alat untuk memeriksa kehamilan). Jika yang muncul tanda garis jumlahnya dua, maka ayam itu positif terjangkit flu burung.
Sedangkan untuk pemeriksaan virus yang menyerang unggas, harus dengan PCR (Polimeration Chain Reaktion). Untuk jenis ini tidak langsung bisa diketahui. "Paling tidak butuh waktu satu sampai dua minggu," tegas Nuning.
Unggas yang belum terserang virus flu burung diharapkan dipindah ke kandang baru. Kandang yang sebelumnya ada unggas terserang virus itu hendaknya dimusnahkan. Selain di Kecamatan Sidoarjo dan Buduran, ternyata virus flu burung juga menyerang unggas di Kecamatan Balongbendo dan Jabon.
"Jika ada unggas yang terindikasi terserang virus flu burung segera melapor akan bisa ditangani," pungkas Nuning.
(san)