Warga akan mencari di luar Ibu Kota
Sabtu, 22 Desember 2012 - 08:01 WIB
Warga akan mencari di luar Ibu Kota
A
A
A
Sindonews.com - Wacana penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di DKI Jakarta diakui merupakan ide yang sangat baik untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Namun, kebijakan ini jika tidak dibarengi dengan perbaikan transportasi massal, dinilai akan sulit dilakukan.
Pengamat perkotaan Universitas Trisakti (Usakti) Yayat Supriatna mengatakan, sewaktu dinaikkan harga BBM saja, masyarakat tetap menggunakan BBM, apalagi dihilangkan dari DKI Jakarta.
"Warga akan mencari alternatif lain, dengan mencari BBM di luar DKI Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor, artinya mereka akan tetap mencari BBM bersubsidi di luar Jakarta, itu bisa saja," kata Yayat, saat dihubungi Sindonews, Sabtu (22/12/2012) pagi.
Lebih lanjut dia mengatakan, bahkan dari adanya wacana ini bisa memunculkan black market atau pasar gelap penjualan BBM. Menurutnya ini bisa bahaya, pasalnya bisa menimbulkan masalah baru.
"Itu ide bagus, tapi akal-akalan untuk mengatasi kebijakan tersebut, tetap bisa terjadi. Bisa jadi nanti muncul black market BBM," pungkasnya.
Seperti diketahui, wacana penghapusan BBM bersubsidi di Jakarta datang dari ide Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Dia mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar di Jakarta tak ada lagi BBM bersubsidi atau bensin premium. Alasannya, ingin memproritaskan TransJakarta sebagai alat transportasi di Jakarta.
Dia juga ingin mendorong masyarakat naik kendaraan umum dan meninggalkan kendaraan pribadi. Bahkan dirinya setuju jika pasokan BBM di Jakarta diatur agar masyarakat enggan naik kendaraan pribadi.
Pengamat perkotaan Universitas Trisakti (Usakti) Yayat Supriatna mengatakan, sewaktu dinaikkan harga BBM saja, masyarakat tetap menggunakan BBM, apalagi dihilangkan dari DKI Jakarta.
"Warga akan mencari alternatif lain, dengan mencari BBM di luar DKI Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor, artinya mereka akan tetap mencari BBM bersubsidi di luar Jakarta, itu bisa saja," kata Yayat, saat dihubungi Sindonews, Sabtu (22/12/2012) pagi.
Lebih lanjut dia mengatakan, bahkan dari adanya wacana ini bisa memunculkan black market atau pasar gelap penjualan BBM. Menurutnya ini bisa bahaya, pasalnya bisa menimbulkan masalah baru.
"Itu ide bagus, tapi akal-akalan untuk mengatasi kebijakan tersebut, tetap bisa terjadi. Bisa jadi nanti muncul black market BBM," pungkasnya.
Seperti diketahui, wacana penghapusan BBM bersubsidi di Jakarta datang dari ide Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Dia mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar di Jakarta tak ada lagi BBM bersubsidi atau bensin premium. Alasannya, ingin memproritaskan TransJakarta sebagai alat transportasi di Jakarta.
Dia juga ingin mendorong masyarakat naik kendaraan umum dan meninggalkan kendaraan pribadi. Bahkan dirinya setuju jika pasokan BBM di Jakarta diatur agar masyarakat enggan naik kendaraan pribadi.
(maf)