Pengungsi lahar dingin Gamalama ngamuk
Rabu, 21 November 2012 - 16:11 WIB
Pengungsi lahar dingin Gamalama ngamuk
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan pengungsi korban banjir lahar dingin Gunung Gamalama Ternate mengamuk di Kantor Wali Kota Ternate. Mereka kecewa karena tak kunjung menerima bantuan dari pemerintah.
Kedatangan para pengungsi di kantor wali kota ini karena mereka sangat kecewa pada pemerintah. Sejak Desember 2011, mereka yang rumahnya hancur karena diterjang lahar dingin Gunung Gamalama sama sekali tidak mendapat perhatian.
Namun aksi warga ini berubah ricuh saat sejumlah pegawai tiba-tiba menyerang mereka. Baku hantam antara pengungsi dan PNS Kota Ternate tak terhindarkan.
Akibat kericuhan ini, salah satu warga menjadi bulan-bulanan para pegawai hingga mengalami shock berat. Kericuhan ini mereda setelah puluhan petugas Satpol PP datang melerai.
Para pengungsi mengaku tidak lagi mendapatkan bantuan setelah tanggap darurat berakhir. Padahal para pengungsi ini belum bisa kembali ke tempat asal karena rumah mereka masing-masing hancur diterjang banjir lahar dingin akhir Desember lalu.
Saat ini tercatat sebanyak 124 kepala keluarga atau 203 jiwa masih bertahan di tempat penampungan sementara di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Sulaiman, pengungsi Gunung Gamalama mengaku, mereka sengaja datang ke kantor wali kota menuntut perhatian pemerintah. Selama ini, warga dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian sama sekali.
"Rumah kami hancur, kami mau pulang kemana dan bagaimana kami beraktivitas. Tolong pemerintah perhatikan nasib kami," katanya di Kantor wali kota Ternate, Rabu (21/11/2012).
Sayangnya keinginan warga tampaknya sulit terwujud. Pemkot Ternate seperti lepas tangan dengan nasib para pengungsi ini.
Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Hasim Yusuf mengatakan, ketika tanggap darurat dinyatakan berakhir maka mereka bukan lagi dikatakan sebagai pengungsi.
"Situasi tanggap bencana sudah berakhir jadi mereka bukan pengungsi tapi eks pengungsi," tukasnya.
Kedatangan para pengungsi di kantor wali kota ini karena mereka sangat kecewa pada pemerintah. Sejak Desember 2011, mereka yang rumahnya hancur karena diterjang lahar dingin Gunung Gamalama sama sekali tidak mendapat perhatian.
Namun aksi warga ini berubah ricuh saat sejumlah pegawai tiba-tiba menyerang mereka. Baku hantam antara pengungsi dan PNS Kota Ternate tak terhindarkan.
Akibat kericuhan ini, salah satu warga menjadi bulan-bulanan para pegawai hingga mengalami shock berat. Kericuhan ini mereda setelah puluhan petugas Satpol PP datang melerai.
Para pengungsi mengaku tidak lagi mendapatkan bantuan setelah tanggap darurat berakhir. Padahal para pengungsi ini belum bisa kembali ke tempat asal karena rumah mereka masing-masing hancur diterjang banjir lahar dingin akhir Desember lalu.
Saat ini tercatat sebanyak 124 kepala keluarga atau 203 jiwa masih bertahan di tempat penampungan sementara di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Sulaiman, pengungsi Gunung Gamalama mengaku, mereka sengaja datang ke kantor wali kota menuntut perhatian pemerintah. Selama ini, warga dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian sama sekali.
"Rumah kami hancur, kami mau pulang kemana dan bagaimana kami beraktivitas. Tolong pemerintah perhatikan nasib kami," katanya di Kantor wali kota Ternate, Rabu (21/11/2012).
Sayangnya keinginan warga tampaknya sulit terwujud. Pemkot Ternate seperti lepas tangan dengan nasib para pengungsi ini.
Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Hasim Yusuf mengatakan, ketika tanggap darurat dinyatakan berakhir maka mereka bukan lagi dikatakan sebagai pengungsi.
"Situasi tanggap bencana sudah berakhir jadi mereka bukan pengungsi tapi eks pengungsi," tukasnya.
(ysw)