Pekerja outsourcing PLN unjuk rasa
Kamis, 01 November 2012 - 11:39 WIB
Pekerja outsourcing PLN unjuk rasa
A
A
A
Sindonews.com - Grand Launching Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat (APT2T) hari ini, oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Indonesia Timur, dinilai mengancam kebaradaan buruh Outsourcing.
Hal ini disampaikan sejumlah pengunjuk rasa karyawan PLN Sulawesi Selatan, Barat dan Utara (Sultanbatara) yang tergabung dalam Federasi Serikat Pertambangan dan Energi (FSPE) Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI).
"Kami khawatir para karyawan administrasi yang dikontrak oleh PLN akan dipecat, karena program tersebut," ungkap Fadly yang juga sebagai kordinator aksi menjelaskan, Kamis (1/11/2012).
Aksi tersebut dilakukan oleh puluhan buruh di depan kantor PLN Rayon Makassar di Jalan Ahmad Yani, bertepatan dengan grand lounching AP2T tersebut, yang dihadiri sejumlah General Manager seluruh kawasan Indonesia Timur. Mereka memulai aksinya sekira pukul 10.00 WITA, dengan membentang spantuk tuntutannya.
Kendati demikian, kata Fadly peluncuran AP2T tersebut tidak menjamin para karyawan bisa tetap bekerja. "Bisa jadi diluncurkannya program ini merupakan pemberangusan terhadap para pekerja kontrak di PLN, siapa yang bisa menjamin," tegasnya.
Sementara itu, Deputi Manager Hukum dan Komunikasi PLN Sultanbatara Yamin Loleh mengatakan, bahwa peluncuran ini tidak mempengaruhi para karyawan yang bekerja di PLN. "Ini semata untuk mempermudah masyarakat, dan tidak ada kaitannya sama sekali," katanya.
Aksi tersebut juga menuntut kepada PLN untuk menghapus outsourcing, tidak menerima pegawai baru, dan para karyawan outsourcing diangkat sebagai pegawai. "Itu tuntutan kami, karena selama ini kami bekerja selama PLN memproduksi listrik," tegas Fadly.
Aksi tersebut sempat memanas, karena para buruh menuntut agar General Manager PLN Sultanbatara Zulkifli Abdullah Puteh untuk menerimah langsung tuntutan mereka, setelah beberapa saat para buruh ditemui dan pihak PLN akan bicara bersama mereka setelah launching AP2T selesai.
Hal ini disampaikan sejumlah pengunjuk rasa karyawan PLN Sulawesi Selatan, Barat dan Utara (Sultanbatara) yang tergabung dalam Federasi Serikat Pertambangan dan Energi (FSPE) Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI).
"Kami khawatir para karyawan administrasi yang dikontrak oleh PLN akan dipecat, karena program tersebut," ungkap Fadly yang juga sebagai kordinator aksi menjelaskan, Kamis (1/11/2012).
Aksi tersebut dilakukan oleh puluhan buruh di depan kantor PLN Rayon Makassar di Jalan Ahmad Yani, bertepatan dengan grand lounching AP2T tersebut, yang dihadiri sejumlah General Manager seluruh kawasan Indonesia Timur. Mereka memulai aksinya sekira pukul 10.00 WITA, dengan membentang spantuk tuntutannya.
Kendati demikian, kata Fadly peluncuran AP2T tersebut tidak menjamin para karyawan bisa tetap bekerja. "Bisa jadi diluncurkannya program ini merupakan pemberangusan terhadap para pekerja kontrak di PLN, siapa yang bisa menjamin," tegasnya.
Sementara itu, Deputi Manager Hukum dan Komunikasi PLN Sultanbatara Yamin Loleh mengatakan, bahwa peluncuran ini tidak mempengaruhi para karyawan yang bekerja di PLN. "Ini semata untuk mempermudah masyarakat, dan tidak ada kaitannya sama sekali," katanya.
Aksi tersebut juga menuntut kepada PLN untuk menghapus outsourcing, tidak menerima pegawai baru, dan para karyawan outsourcing diangkat sebagai pegawai. "Itu tuntutan kami, karena selama ini kami bekerja selama PLN memproduksi listrik," tegas Fadly.
Aksi tersebut sempat memanas, karena para buruh menuntut agar General Manager PLN Sultanbatara Zulkifli Abdullah Puteh untuk menerimah langsung tuntutan mereka, setelah beberapa saat para buruh ditemui dan pihak PLN akan bicara bersama mereka setelah launching AP2T selesai.
(azh)