Banjir lahar dingin merapi ancam warga
Selasa, 23 Oktober 2012 - 14:31 WIB
Banjir lahar dingin merapi ancam warga
A
A
A
Sindonews.com - Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi ternyata masih diancam banjir lahar dingin. Ancaman itu bisa saja terjadi saat curah hujan cukup tinggi di kawasan puncak. Apalagi, saat ini memasuki musim penghujan.
Di sebelah barat Gunung Merapi masih terdapat lebih dari 30 juta meter kubik yang terbagi ke sungai krasak, kali putih, kali sat, kali senowo, kali pabelan, dan kali trisik. Sedangkan di sisi selatan terdapat lebih dari 40 juta meter kubik terbagi ke kali kuning, kali gendol, kali boyong dan kali opak.
"Kalau curah hujan tinggi dan terjadi terus-menerus di puncak merapi, warga yang tinggal tak jauh dari bantaran sunggai berhulu di Merapi harus waspada," ujar Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Selasa (23/10/2012)
Meski material merapi sudah berkurang sebanyak 20 persen setiap tahunnya, namun material yang terpendam di sungai-sangai yang berhulu di Merapi masih menumpuk.
Subandriyo mengakui, potensi banjir lahar dingin lebih banyak terjadi di kawasan lereng barat, tetapi potensi banjir lahar dingin di sisi selatan juga masih cukup tinggi.
Sebab menurutnya, aliran material merapi dari Kali Boyong menuju Kali Code menyempit sehingga potensi material merapi meluap ke pemukiman sangat tinggi.
"Terjadi banjir bisa sewaktu-waktu jika curah hujan di atas 20 mm selama lebih dari dua jam. Meterial Merapi saat ini lebih banyak pasir dan batu dibandingkan dengan abu vulkanik," jelasnya.
Subandriyo menyampaikan, meski peralatan penditeksi dini bahaya banjir lahar dingin yang dimiliki BPPTK dalam kondisi baik masyarakat harus siaga jika sewaktu-waktu hujan dengan intensitas tinggi datang menguyur puncak Merapai.
Di sebelah barat Gunung Merapi masih terdapat lebih dari 30 juta meter kubik yang terbagi ke sungai krasak, kali putih, kali sat, kali senowo, kali pabelan, dan kali trisik. Sedangkan di sisi selatan terdapat lebih dari 40 juta meter kubik terbagi ke kali kuning, kali gendol, kali boyong dan kali opak.
"Kalau curah hujan tinggi dan terjadi terus-menerus di puncak merapi, warga yang tinggal tak jauh dari bantaran sunggai berhulu di Merapi harus waspada," ujar Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Selasa (23/10/2012)
Meski material merapi sudah berkurang sebanyak 20 persen setiap tahunnya, namun material yang terpendam di sungai-sangai yang berhulu di Merapi masih menumpuk.
Subandriyo mengakui, potensi banjir lahar dingin lebih banyak terjadi di kawasan lereng barat, tetapi potensi banjir lahar dingin di sisi selatan juga masih cukup tinggi.
Sebab menurutnya, aliran material merapi dari Kali Boyong menuju Kali Code menyempit sehingga potensi material merapi meluap ke pemukiman sangat tinggi.
"Terjadi banjir bisa sewaktu-waktu jika curah hujan di atas 20 mm selama lebih dari dua jam. Meterial Merapi saat ini lebih banyak pasir dan batu dibandingkan dengan abu vulkanik," jelasnya.
Subandriyo menyampaikan, meski peralatan penditeksi dini bahaya banjir lahar dingin yang dimiliki BPPTK dalam kondisi baik masyarakat harus siaga jika sewaktu-waktu hujan dengan intensitas tinggi datang menguyur puncak Merapai.
(rsa)