Kasihan, balita 8 bulan penyandang hidrosefalus
Jum'at, 19 Oktober 2012 - 06:14 WIB
Kasihan, balita 8 bulan penyandang hidrosefalus
A
A
A
Sindonews.com - Attaya Khoirunnisa Salsabila, balita berumur sepuluh bulan hanya terdiam di gendongan ibunya yang bernama Lilis Suryati (31), saat SINDO berkunjung ke rumahnya di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Yogyakarta, Jawa Tengah.
Attaya, begitu sapaan akrabnya, sesekali menangis merasakan sakit pada bagian kepalanya, karena usai menjalani operasi akibat penyakit hidrosefalus yang dideritanya.
Lilis menceritakan, putri keduanya itu diketahui mengidap penyakit hidrosefalus sejak usia lima bulan. Kondisi tubuhnya makin melemah disertai demam. Selain itu, kepala Atta terlihat membesar.
"Saat itu, badannya tiba-tiba panas, terus dingin lagi. Demamnya tidak menentu, ditambah tiap malam menangis," katanya kepada SINDO, di Jawa Tengah, Kamis (18/10/2012).
Melihat kondisi itu, ia bersama Asrofi (36), yang tak lain adalah suaminya memeriksakan kondisi Attaya ke Puskesmas terdekat. Lilis mengaku kaget, karena hasil pemeriksaan putrinya itu mengidap penyakit yang menurutnya langka dan berbahaya.
"Pihak Puskesmas kemudian merujuk ke rumah sakit untuk segera dilakukan operasi," lanjutnya.
Untuk memperjuangkan kesembuhan anaknya, Lilis mengaku sudah berkali-kali datang ke Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang untuk meminta kartu jamkesmas.
"Tiga kali saya ditolak, awalnya katanya pak kepalanya sedang di luar kota, tapi saat dia (kadinkes) ada tetap saja tidak bisa. Katanya tidak terdaftar," tuturnya.
Lilis pun tidak bisa berbuat banyak. Sebab, ia yang kesehariannya hanya ibu rumah tangga dan suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan tidak mampu membiayai operasi putrinya itu. Namum, proses penyembuhan tetap diupayakan meski hanya melalui pengobatan alternatif.
"Proses penyembuhan terus kami lakukan melalui alternatif. Tapi, selama itu tidak membuahkan hasil. Penyakit Attaya justru semakin parah," paparnya lagi.
Bahkan, ujarnya, kepala balita kelahiran Magelang, 27 Desember 2011 itu kian membesar mencapai 62 sentimeter. Rasa cemas pun tak bisa disembunyikannya, karena diketahui hidrosefalus merupakan penyakit yang berbahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
Hingga akhirnya, minggu lalu, Attaya mendapatkan bantuan dari Yayasan Kasih Bunda. Dia mendapatkan bantuan operasi dan biaya rumah sakit.
"Kemarin dikurur sudah berkurang 1,5 centimeter. Semoga cepat sembuhlah," katanya sedikit pasrah.
Kendati demikian, Attaya masih membutuhkan uluran tangan dari para dermawan untuk melakukan pengobatan hingga sembuh secara total.
"Bantuan dana itu untuk biaya operasi dan rumah sakit. Tapi untuk kontrol dan lain-lain kami berharap ada kepedulian dari pemerintah ataupun dermawan," pungkasnya.
Attaya, begitu sapaan akrabnya, sesekali menangis merasakan sakit pada bagian kepalanya, karena usai menjalani operasi akibat penyakit hidrosefalus yang dideritanya.
Lilis menceritakan, putri keduanya itu diketahui mengidap penyakit hidrosefalus sejak usia lima bulan. Kondisi tubuhnya makin melemah disertai demam. Selain itu, kepala Atta terlihat membesar.
"Saat itu, badannya tiba-tiba panas, terus dingin lagi. Demamnya tidak menentu, ditambah tiap malam menangis," katanya kepada SINDO, di Jawa Tengah, Kamis (18/10/2012).
Melihat kondisi itu, ia bersama Asrofi (36), yang tak lain adalah suaminya memeriksakan kondisi Attaya ke Puskesmas terdekat. Lilis mengaku kaget, karena hasil pemeriksaan putrinya itu mengidap penyakit yang menurutnya langka dan berbahaya.
"Pihak Puskesmas kemudian merujuk ke rumah sakit untuk segera dilakukan operasi," lanjutnya.
Untuk memperjuangkan kesembuhan anaknya, Lilis mengaku sudah berkali-kali datang ke Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang untuk meminta kartu jamkesmas.
"Tiga kali saya ditolak, awalnya katanya pak kepalanya sedang di luar kota, tapi saat dia (kadinkes) ada tetap saja tidak bisa. Katanya tidak terdaftar," tuturnya.
Lilis pun tidak bisa berbuat banyak. Sebab, ia yang kesehariannya hanya ibu rumah tangga dan suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan tidak mampu membiayai operasi putrinya itu. Namum, proses penyembuhan tetap diupayakan meski hanya melalui pengobatan alternatif.
"Proses penyembuhan terus kami lakukan melalui alternatif. Tapi, selama itu tidak membuahkan hasil. Penyakit Attaya justru semakin parah," paparnya lagi.
Bahkan, ujarnya, kepala balita kelahiran Magelang, 27 Desember 2011 itu kian membesar mencapai 62 sentimeter. Rasa cemas pun tak bisa disembunyikannya, karena diketahui hidrosefalus merupakan penyakit yang berbahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
Hingga akhirnya, minggu lalu, Attaya mendapatkan bantuan dari Yayasan Kasih Bunda. Dia mendapatkan bantuan operasi dan biaya rumah sakit.
"Kemarin dikurur sudah berkurang 1,5 centimeter. Semoga cepat sembuhlah," katanya sedikit pasrah.
Kendati demikian, Attaya masih membutuhkan uluran tangan dari para dermawan untuk melakukan pengobatan hingga sembuh secara total.
"Bantuan dana itu untuk biaya operasi dan rumah sakit. Tapi untuk kontrol dan lain-lain kami berharap ada kepedulian dari pemerintah ataupun dermawan," pungkasnya.
(mhd)