Kapolda copot Kapolres Poso
Kamis, 11 Oktober 2012 - 06:39 WIB
Kapolda copot Kapolres Poso
A
A
A
Sindonews.com - Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Pol Dewa Parsana mencopot Kapolres Poso AKBP Pulung Rochmadianto dari jabatannya kemarin. Pencopotan diduga terkait panasnya kondisi keamanan kota di Sulteng akibat teror yang datang silih berganti, terutama setelah peristiwa dua bom lalu.
Pada 28 Agustus lalu misalnya terjadi penembakan misterius di Desa Sepe, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Peristiwa tersebut menewaskan seorang warga bernama Noldy Ambolado (27). Peristiwa lain terjadi 4 Oktober, ketika ada aksi penembakan oleh orang tak dikenal di Desa Masani, Poso Pesisir.
Pelaku mendatangi rumah warga bernama Hasman Sao (35). Korban kena tembak di punggung dan tembus leher hingga kritis. Belum lama berselang, kekerasan lain terjadi lagi yaitu peledakan bom rakitan di Kelurahan Kawua, Poso Kota, Selasa 9 Oktober 2012 lalu.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, ledakan itu merusak sebuah mobil Toyota Avanza, sebuah rumah warga, dan sebuah sepeda motor. Pada hari yang sama ledakan juga terjadi di sekitar Kompleks Pertigaan Gereja Imanuel Taripa,Kecamatan Pamona Timur, Poso.
Saat itu terdengar suara letusan satu kali,juga tak ada korban jiwa. “Ya, Kapolres Poso akan dipindahkan ke Polda Sulteng.Sertijab akan dilakukan Sabtu, 13 Oktober mendatang,” kata Dewa di Palu kemarin.
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Somearno membantah pencopotan Kapolres Poso terkait teror bom di Poso. “Bukan dicopot, tapi mutasi biasa,” katanya.
Pascaledakan bom, polisi memperketat perbatasan wilayah dengan meningkatkan intensitas razia di Kabupaten Poso, Morowali, Touna, Parigi Moutong, dan Kota Palu. Razia dilakukan terhadap kendaraan yang masuk dan keluar di daerah tersebut. Pelabuhan dan bandar udara juga diperketat untuk mempersempit ruang gerak pelaku peledakan bom di Poso.
Menurut Dewa, pihaknya memperkuat personel kepolisian dengan mengirimkan personel dari polda. “Memperbanyak jumlah petugas pengamanan, petugas sedang melaksanakan pelacakan,” ungkapnya.
Sementara dari Jakarta, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengungkapkan, pelaku peledakan menggunakan mobil Toyota Kijang warna biru dengan bumper belakang ada tanda strip warna merah dan kuning. Mobil itu menuju arah Pendolo.
Sama dengan insiden pertama, pada peristiwa kedua juga tidak ada korban. Kini polisi tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga sudah diturunkan untuk melakukan penyelidikan dalam kasus ledakan ini. Polisi menduga dua ledakan ini terkait penangkapan tersangka teroris pada Senin 8 Oktober 2012.
"Ada dugaan kedua peristiwa ini terkait aktivitas kelompok-kelompok yang selama ini kita duga melakukan pelatihan di Poso yang beberapa waktu lalu kita ungkap. Baru-baru ini kita juga sudah menangkap tersangka teroris di Palu,” papar Boy.
Tersangka yang dimaksud Boy adalah Imron, yang ditangkap di Palu pada Senin 8 Oktober 2012 lalu. Menurut Boy, Imron adalah tokoh penting dalam kelompok teroris yang menggelar pelatihan di Poso. Dialah yang menghubungkan tokoh teroris Santoso dengan kelompok poros Depok-Solo-Jakarta. Imron pula yang menjadi fasilitator pelatihan ala militer di Poso.
“Dia orang yang beli senjata ke Filipina, lalu ikut merakit bom untuk kelompok Al Qaeda Indonesi (Indonesia dalam bahasa Arab) di Surakarta dan melakukan fa’i atau pencurian dengan kekerasan. Nah, yang ini kita sedang inventarisasi. Itulah yang sementara kita dapat informasi dari keterangan Imron,” tutur Boy.
Pada 28 Agustus lalu misalnya terjadi penembakan misterius di Desa Sepe, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Peristiwa tersebut menewaskan seorang warga bernama Noldy Ambolado (27). Peristiwa lain terjadi 4 Oktober, ketika ada aksi penembakan oleh orang tak dikenal di Desa Masani, Poso Pesisir.
Pelaku mendatangi rumah warga bernama Hasman Sao (35). Korban kena tembak di punggung dan tembus leher hingga kritis. Belum lama berselang, kekerasan lain terjadi lagi yaitu peledakan bom rakitan di Kelurahan Kawua, Poso Kota, Selasa 9 Oktober 2012 lalu.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, ledakan itu merusak sebuah mobil Toyota Avanza, sebuah rumah warga, dan sebuah sepeda motor. Pada hari yang sama ledakan juga terjadi di sekitar Kompleks Pertigaan Gereja Imanuel Taripa,Kecamatan Pamona Timur, Poso.
Saat itu terdengar suara letusan satu kali,juga tak ada korban jiwa. “Ya, Kapolres Poso akan dipindahkan ke Polda Sulteng.Sertijab akan dilakukan Sabtu, 13 Oktober mendatang,” kata Dewa di Palu kemarin.
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Somearno membantah pencopotan Kapolres Poso terkait teror bom di Poso. “Bukan dicopot, tapi mutasi biasa,” katanya.
Pascaledakan bom, polisi memperketat perbatasan wilayah dengan meningkatkan intensitas razia di Kabupaten Poso, Morowali, Touna, Parigi Moutong, dan Kota Palu. Razia dilakukan terhadap kendaraan yang masuk dan keluar di daerah tersebut. Pelabuhan dan bandar udara juga diperketat untuk mempersempit ruang gerak pelaku peledakan bom di Poso.
Menurut Dewa, pihaknya memperkuat personel kepolisian dengan mengirimkan personel dari polda. “Memperbanyak jumlah petugas pengamanan, petugas sedang melaksanakan pelacakan,” ungkapnya.
Sementara dari Jakarta, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengungkapkan, pelaku peledakan menggunakan mobil Toyota Kijang warna biru dengan bumper belakang ada tanda strip warna merah dan kuning. Mobil itu menuju arah Pendolo.
Sama dengan insiden pertama, pada peristiwa kedua juga tidak ada korban. Kini polisi tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga sudah diturunkan untuk melakukan penyelidikan dalam kasus ledakan ini. Polisi menduga dua ledakan ini terkait penangkapan tersangka teroris pada Senin 8 Oktober 2012.
"Ada dugaan kedua peristiwa ini terkait aktivitas kelompok-kelompok yang selama ini kita duga melakukan pelatihan di Poso yang beberapa waktu lalu kita ungkap. Baru-baru ini kita juga sudah menangkap tersangka teroris di Palu,” papar Boy.
Tersangka yang dimaksud Boy adalah Imron, yang ditangkap di Palu pada Senin 8 Oktober 2012 lalu. Menurut Boy, Imron adalah tokoh penting dalam kelompok teroris yang menggelar pelatihan di Poso. Dialah yang menghubungkan tokoh teroris Santoso dengan kelompok poros Depok-Solo-Jakarta. Imron pula yang menjadi fasilitator pelatihan ala militer di Poso.
“Dia orang yang beli senjata ke Filipina, lalu ikut merakit bom untuk kelompok Al Qaeda Indonesi (Indonesia dalam bahasa Arab) di Surakarta dan melakukan fa’i atau pencurian dengan kekerasan. Nah, yang ini kita sedang inventarisasi. Itulah yang sementara kita dapat informasi dari keterangan Imron,” tutur Boy.
(san)