Siaga satu jelang peringatan bom Bali
Kamis, 11 Oktober 2012 - 04:24 WIB
Siaga satu jelang peringatan bom Bali
A
A
A
Sindonews.com - Polda Bali siaga satu menjelang peringatan ke-10 Bom Bali I yang akan digelar besok di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Jimbaran, Bali. Polisi mencium adanya indikasi gerakan terorisme.
"Hal yang perlu kita pahami, ancaman terorisme itu adalah A1 (ada indikasi ancaman)," kata Kapolda Bali Irjen Pol Budi Gunawan pada apel gelar pasukan kesiapan operasi pengamanan ”Puri Agung VII 2012” di Mako Brimob Denpasar kemarin.
Menurut dia, pihaknya tidak ingin kecolongan dengan masuknya orang yang tidak memiliki kepentingan dalam peringatan Bom Bali I yang dihadiri sekitar 3.000 orang keluarga korban. Acara ini juga akan dihadiri Perdana Menteri Australia Julia Gillard, mantan perdana menteri Australia, jajaran pemerintah, dan pimpinan oposisi Australia.
"Meskipun sudah ada satuan tindak di lingkungan kita, saya minta intelijen harus berada di semua titik baik sebelum maupun sesudah kegiatan," tuturnya.
Bom Bali Iadalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari pada 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.
Budi menjelaskan, saat ini pengamanan Bali berada pada level paling tinggi.Oleh karena itu, jenderal bintang dua itu meminta seluruh jajaran, mulai dari unit terendah hingga pimpinan lapangan tertinggi, harus mengenali anggotanya satu per satu.
"Kita tidak ingin ada kebobolan seperti ada pesepeda masuk pada arena VVIP di Nusa Dua beberapa waktu lalu atau pengalaman di Maluku terjadi," tambahnya.
Polda Bali telah menyiagakan 1.003 personel yang dibantu 118 personel dari Mabes Polri, 1.000 aparat TNI, serta didukung aparat pengamanan adat atau pecalang.
Pihak Australia juga turut terlibat dengan mengamankan simbol-simbol yang berkaitan dengan Negeri Kanguru itu yang menjadi zona pengamanan utama mereka. Polda Bali juga menyiagakan penembak jitu (sniper).
"Ada beberapa sortir di pintu masuk, penempatan sniper kita, dan escape(jalur evakuasi) kita. Saya minta reserse juga menyiapkan tim tindak, penerima laporan, semua harus siap," jelasnya.
Wakapolda Bali Brigjen Pol Ketut Untung Yoga Ana menegaskan, pihaknya telah menerima informasi adanya indikasi gerakan tertentu yang mengarah kepada sasaran, terutama para tamu VVIP yang hadir.
"Sebelum dan menjelang kegiatan itu kita lakukan koordinasi baik dari fungsi pendeteksian maupun preemtif dan preventif lain. Dari informasi yang kita kumpulkan, ada indikasi gerakan tertentu," terangnya.
Sementara itu, Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang menjadi tempat utama penyelenggaraan peringatan Bom Bali I mulai hari ini sudah disterilkan. Beberapa lokasi di antaranya Monumen Tragedi Kemanusiaan di Legian atau ground zero juga menjadi perhatian polisi karena akan dikunjungi ribuan orang, baik keluarga korban maupun wisatawan mancanegara.
Secara terpisah, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan peringatan 10 tahun Bom Bali I bisa menjadi momentum untuk memaafkan tragedi itu.
Bali, lanjut Pastika, akan selalu menjadi target aksi terorisme karena merupakan daerah tujuan wisata. "Di sela kunjungan turis, pasti ada terselip teroris. Semakin banyak turis makin terselip teroris di dalamnya," ujarnya.
"Hal yang perlu kita pahami, ancaman terorisme itu adalah A1 (ada indikasi ancaman)," kata Kapolda Bali Irjen Pol Budi Gunawan pada apel gelar pasukan kesiapan operasi pengamanan ”Puri Agung VII 2012” di Mako Brimob Denpasar kemarin.
Menurut dia, pihaknya tidak ingin kecolongan dengan masuknya orang yang tidak memiliki kepentingan dalam peringatan Bom Bali I yang dihadiri sekitar 3.000 orang keluarga korban. Acara ini juga akan dihadiri Perdana Menteri Australia Julia Gillard, mantan perdana menteri Australia, jajaran pemerintah, dan pimpinan oposisi Australia.
"Meskipun sudah ada satuan tindak di lingkungan kita, saya minta intelijen harus berada di semua titik baik sebelum maupun sesudah kegiatan," tuturnya.
Bom Bali Iadalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari pada 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.
Budi menjelaskan, saat ini pengamanan Bali berada pada level paling tinggi.Oleh karena itu, jenderal bintang dua itu meminta seluruh jajaran, mulai dari unit terendah hingga pimpinan lapangan tertinggi, harus mengenali anggotanya satu per satu.
"Kita tidak ingin ada kebobolan seperti ada pesepeda masuk pada arena VVIP di Nusa Dua beberapa waktu lalu atau pengalaman di Maluku terjadi," tambahnya.
Polda Bali telah menyiagakan 1.003 personel yang dibantu 118 personel dari Mabes Polri, 1.000 aparat TNI, serta didukung aparat pengamanan adat atau pecalang.
Pihak Australia juga turut terlibat dengan mengamankan simbol-simbol yang berkaitan dengan Negeri Kanguru itu yang menjadi zona pengamanan utama mereka. Polda Bali juga menyiagakan penembak jitu (sniper).
"Ada beberapa sortir di pintu masuk, penempatan sniper kita, dan escape(jalur evakuasi) kita. Saya minta reserse juga menyiapkan tim tindak, penerima laporan, semua harus siap," jelasnya.
Wakapolda Bali Brigjen Pol Ketut Untung Yoga Ana menegaskan, pihaknya telah menerima informasi adanya indikasi gerakan tertentu yang mengarah kepada sasaran, terutama para tamu VVIP yang hadir.
"Sebelum dan menjelang kegiatan itu kita lakukan koordinasi baik dari fungsi pendeteksian maupun preemtif dan preventif lain. Dari informasi yang kita kumpulkan, ada indikasi gerakan tertentu," terangnya.
Sementara itu, Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang menjadi tempat utama penyelenggaraan peringatan Bom Bali I mulai hari ini sudah disterilkan. Beberapa lokasi di antaranya Monumen Tragedi Kemanusiaan di Legian atau ground zero juga menjadi perhatian polisi karena akan dikunjungi ribuan orang, baik keluarga korban maupun wisatawan mancanegara.
Secara terpisah, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan peringatan 10 tahun Bom Bali I bisa menjadi momentum untuk memaafkan tragedi itu.
Bali, lanjut Pastika, akan selalu menjadi target aksi terorisme karena merupakan daerah tujuan wisata. "Di sela kunjungan turis, pasti ada terselip teroris. Semakin banyak turis makin terselip teroris di dalamnya," ujarnya.
(san)