Kemarau melanda, petani beli air untuk pertanian
Senin, 08 Oktober 2012 - 19:02 WIB
Kemarau melanda, petani beli air untuk pertanian
A
A
A
Sindonews.com – Kemarau berkepanjangan yang melanda di wilayah Kabupaten Magelang membuat para petani kesulitan mendapatkan air untuk pertanian. Sekitar 25 petani di Dusun Jombong, Desa Sudimoro, Kecamatan Srumbung, Magelang rela membeli air Rp50.000 per hari untuk mengairi lahan pertaniannya.
“Kami hanya mendapatkan alokasi air satu kali dalam satu minggu. Itupun kami dapatkan hanya satu malam saja,” kata Supardi (40), petani salak di Dusun Jombong, Desa Sudimoro, Kecamatan Srumbung Senin (8/10/2012).
Karena kesulitan, dia bersama petani lain di Dusun Jombong mencari saluran irigasi dari Dusun tetangga. Pasokan air tersebut didapatkan dari membeli dengan harga Rp50.000 per malam.
“Ya kalau ditanya berat, ya sangat berat. Tapi mau bagaimana lagi, memang tidak ada air untuk perairan,” lanjutnya.
Hal serupa juga dialami oleh para petani di Desa Tirto, Kecamatan Salam. Sedikitnya terdapat dua hektar tanaman jagung usia dua bulan mengalami gagal panen akibat minimnya pasokan air.
Bahkan, enam hektar tanaman padi berusia dua bulan hingga dua setengah bulan, kini layu dan sebagian batangnya telah mengering.
”Tanaman padi ini hanya bisa diselamatkan jika dalam dua minggu mendatang turun hujan,” ujar Faturrohman, Sekretaris Desa Tirto, Kecamatan Salam.
Ditambahkannya, tanaman yang berhasil mencapai panen, juga bisa dipastikan kualitasnya menurun. Misalnya padi, sebagian besar bulir padi kosong.
“Kualitasnya menurun, karena memang tidak subur,” paparnya.
Parmuji, petani asal Desa Tirto, Kecamatan Salam, mengatakan sejak awal September lalu, dia membeli air dari warga Dusun Semen, Desa Sucen, Kecamatan Salam. Untuk mendapatkan jatah air, dia harus membayar Rp40.000 per 12 jam.
Parmuji hanya mendapatkan air dari Dusun Semen sebanyak dua kali per hari karena harus berebut dengan petani lain. Padahal dia harus mengairi lahan jagung miliknya seluas 1.500 meter.
“Untuk satu kali pembelian air, saya harus mengeluarkan Rp70.000,” ungkapnya.
Selain itu, untuk menambah pasokan air, Parmuji juga harus menyedot air dari sungai terdekat dengan menggunakan mesin diesel sewaan, dengan biaya sewa berkisar Rp15.000-Rp20.000 per jam.
“Biaya menyewa mesin diesel yang harus dikeluarkan tidak sedikit, karena untuk mengairi satu hektar lahan pertanian, saya dan enam rekan petani lainnya harus menyewa mesin diesel selama tiga hari dua malam, dan mengeluarkan biaya tidak kurang dari Rp900.000,” tandasnya.
“Kami hanya mendapatkan alokasi air satu kali dalam satu minggu. Itupun kami dapatkan hanya satu malam saja,” kata Supardi (40), petani salak di Dusun Jombong, Desa Sudimoro, Kecamatan Srumbung Senin (8/10/2012).
Karena kesulitan, dia bersama petani lain di Dusun Jombong mencari saluran irigasi dari Dusun tetangga. Pasokan air tersebut didapatkan dari membeli dengan harga Rp50.000 per malam.
“Ya kalau ditanya berat, ya sangat berat. Tapi mau bagaimana lagi, memang tidak ada air untuk perairan,” lanjutnya.
Hal serupa juga dialami oleh para petani di Desa Tirto, Kecamatan Salam. Sedikitnya terdapat dua hektar tanaman jagung usia dua bulan mengalami gagal panen akibat minimnya pasokan air.
Bahkan, enam hektar tanaman padi berusia dua bulan hingga dua setengah bulan, kini layu dan sebagian batangnya telah mengering.
”Tanaman padi ini hanya bisa diselamatkan jika dalam dua minggu mendatang turun hujan,” ujar Faturrohman, Sekretaris Desa Tirto, Kecamatan Salam.
Ditambahkannya, tanaman yang berhasil mencapai panen, juga bisa dipastikan kualitasnya menurun. Misalnya padi, sebagian besar bulir padi kosong.
“Kualitasnya menurun, karena memang tidak subur,” paparnya.
Parmuji, petani asal Desa Tirto, Kecamatan Salam, mengatakan sejak awal September lalu, dia membeli air dari warga Dusun Semen, Desa Sucen, Kecamatan Salam. Untuk mendapatkan jatah air, dia harus membayar Rp40.000 per 12 jam.
Parmuji hanya mendapatkan air dari Dusun Semen sebanyak dua kali per hari karena harus berebut dengan petani lain. Padahal dia harus mengairi lahan jagung miliknya seluas 1.500 meter.
“Untuk satu kali pembelian air, saya harus mengeluarkan Rp70.000,” ungkapnya.
Selain itu, untuk menambah pasokan air, Parmuji juga harus menyedot air dari sungai terdekat dengan menggunakan mesin diesel sewaan, dengan biaya sewa berkisar Rp15.000-Rp20.000 per jam.
“Biaya menyewa mesin diesel yang harus dikeluarkan tidak sedikit, karena untuk mengairi satu hektar lahan pertanian, saya dan enam rekan petani lainnya harus menyewa mesin diesel selama tiga hari dua malam, dan mengeluarkan biaya tidak kurang dari Rp900.000,” tandasnya.
(rsa)