Wanita ini lulus S3 diusia 73 tahun
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 04:52 WIB
Wanita ini lulus S3 diusia 73 tahun
A
A
A
Sindonews.com - Usia senja tidak membuat Diana Patricia Pasaribu Hasibuan, berhenti untuk belajar dan mengenyam pendidikan. Justru diusia senjanya itu, dia masih tetap bersemangat untuk duduk di bangku kuliah.
Saat itu tahun 1999, usia Diana sudah menginjak 63 tahun. Namun, diusianya yang sudah senja, dia bertekat untuk bisa menjadi sarjana, dan akhirnya dia kuliah di STF Driyarkara dan berhasil mendapatkan gelar sarja pada usia ke 69 tahun.
Usai mendapatkan gelar sarjana Strata 1 (S1) tidaklah lantas membuat wanita ini berhenti untuk mengenyam pendidikan. Dia kemudian melanjutkan ke jenjang S2 di Program Pasca Sarja Magister Teologi di STTBI Jakarta, dan berhasil menyelesaikan dengan baik pada usia ke 73 tahun.
Bagi sebagain besar perempuan usia 73 tahun adalah usia dimana sudah banyak beristirahat di rumah bersama suami dan anak cucu. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Diana, justru diusianya yang 73 itu dia masih tetap berniat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tertinggi untuk mengejar gelar Doktor.
Hebatnya lagi, dia berhasil menyelesaikan S3 dan berhasil mendapatkan gelar doctor dari Sekolah Tinggi Teologi Bethel (STTBI) Indonesia, Jakarta. Atas semangatnya dalam menempuh pendidikan itu, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugrahi rekor Muri sebagai wanita S3 tertua di Indonesia.
Penghargaan itu merupakan yang ketiga kalinya diperoleh Diana. Pada tahun 2004 lalu, dia tercatat dalam rekor yang sama sebagai Sarjana S1 tertua di usia 69 tahun. Pada tahun 2008, wanita yang kini tinggal di Jalan Mesjid II 12 RT 07 RW 01 Keluarga Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan itu, juga pernah menyandang rekor Sarjana S2.
"Patricia Diana Pasaribu layak tercatat di MURI karena memberikan kita inspirasi, semangat, bahwa menempuh pendidikan tidak memandang usia. Maka kami mencatat rekor ini pada urutan rekor ke-5612," kata Senior Manajer MURI Paulus Pangka, saat memberikan penghargaan di kantor MURI, Srondol, Banyumanik, Kamis (4/10/2012) kemarin.
Diana mengaku, mulai sejak pertama kali kuliah hingga medapatkan gelar doctor seluruh tugas kuliah dikerjakannya sendiri.
Bahkan desertasinya yang berjudul "Kepemimpinan pastoral di gereja katolik dan gereja kristen protestan menuju persatuan" setebal 323 halaman dibuatnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dia mengaku untuk mengetik desertasinya dia mengetik dengan menggunakan alat ketik manual, setelah selesai baru diketik computer. "Saya awalnya pakai laptop, tetapi data yang sudah saya ketik sering hilang. Yang namanya orang tua kadang salah pencet tombol. Makanya akhirnya saya pilih ketik manual," ujarnya.
Ibu enam anak dengan 12 cucu ini mengaku, keinginnya untuk tetap melanjutkan pendidikan bukanlah untuk mengejar kepangkatan. Melainkan keinginan dari dalam hati. "Mencari ilmu itu dari lahir sampai mati. Jadi kalau belum mati ilmu itu akan terus saya cari," katanya.
Dengan ilmu dan status doktor yang disandangnya, Diana mengaku akan mengabdikan dirinya untuk agama melalui aktifitasnya di gereja. Dia mengaku gelar doktor merupakan sesuatu yang hebat, namun hal itu bukan merupakan penghargaan yang istimewa jika tidak diimbangi dengan kualitas.
M.C. Cornelius Hasibuan (79), suami Diana, mengaku bangga dengan istrinya yang tetap semangat belajar meski sudah senja. "Saya bangga dengan istri saya," kata Hasibuan yang setiap hari mengantar dan menjemput istrinya selama kuliah.
Saat itu tahun 1999, usia Diana sudah menginjak 63 tahun. Namun, diusianya yang sudah senja, dia bertekat untuk bisa menjadi sarjana, dan akhirnya dia kuliah di STF Driyarkara dan berhasil mendapatkan gelar sarja pada usia ke 69 tahun.
Usai mendapatkan gelar sarjana Strata 1 (S1) tidaklah lantas membuat wanita ini berhenti untuk mengenyam pendidikan. Dia kemudian melanjutkan ke jenjang S2 di Program Pasca Sarja Magister Teologi di STTBI Jakarta, dan berhasil menyelesaikan dengan baik pada usia ke 73 tahun.
Bagi sebagain besar perempuan usia 73 tahun adalah usia dimana sudah banyak beristirahat di rumah bersama suami dan anak cucu. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Diana, justru diusianya yang 73 itu dia masih tetap berniat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tertinggi untuk mengejar gelar Doktor.
Hebatnya lagi, dia berhasil menyelesaikan S3 dan berhasil mendapatkan gelar doctor dari Sekolah Tinggi Teologi Bethel (STTBI) Indonesia, Jakarta. Atas semangatnya dalam menempuh pendidikan itu, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugrahi rekor Muri sebagai wanita S3 tertua di Indonesia.
Penghargaan itu merupakan yang ketiga kalinya diperoleh Diana. Pada tahun 2004 lalu, dia tercatat dalam rekor yang sama sebagai Sarjana S1 tertua di usia 69 tahun. Pada tahun 2008, wanita yang kini tinggal di Jalan Mesjid II 12 RT 07 RW 01 Keluarga Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan itu, juga pernah menyandang rekor Sarjana S2.
"Patricia Diana Pasaribu layak tercatat di MURI karena memberikan kita inspirasi, semangat, bahwa menempuh pendidikan tidak memandang usia. Maka kami mencatat rekor ini pada urutan rekor ke-5612," kata Senior Manajer MURI Paulus Pangka, saat memberikan penghargaan di kantor MURI, Srondol, Banyumanik, Kamis (4/10/2012) kemarin.
Diana mengaku, mulai sejak pertama kali kuliah hingga medapatkan gelar doctor seluruh tugas kuliah dikerjakannya sendiri.
Bahkan desertasinya yang berjudul "Kepemimpinan pastoral di gereja katolik dan gereja kristen protestan menuju persatuan" setebal 323 halaman dibuatnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dia mengaku untuk mengetik desertasinya dia mengetik dengan menggunakan alat ketik manual, setelah selesai baru diketik computer. "Saya awalnya pakai laptop, tetapi data yang sudah saya ketik sering hilang. Yang namanya orang tua kadang salah pencet tombol. Makanya akhirnya saya pilih ketik manual," ujarnya.
Ibu enam anak dengan 12 cucu ini mengaku, keinginnya untuk tetap melanjutkan pendidikan bukanlah untuk mengejar kepangkatan. Melainkan keinginan dari dalam hati. "Mencari ilmu itu dari lahir sampai mati. Jadi kalau belum mati ilmu itu akan terus saya cari," katanya.
Dengan ilmu dan status doktor yang disandangnya, Diana mengaku akan mengabdikan dirinya untuk agama melalui aktifitasnya di gereja. Dia mengaku gelar doktor merupakan sesuatu yang hebat, namun hal itu bukan merupakan penghargaan yang istimewa jika tidak diimbangi dengan kualitas.
M.C. Cornelius Hasibuan (79), suami Diana, mengaku bangga dengan istrinya yang tetap semangat belajar meski sudah senja. "Saya bangga dengan istri saya," kata Hasibuan yang setiap hari mengantar dan menjemput istrinya selama kuliah.
(san)