DPR nilai kurikulum sosial masih kurang
Jum'at, 28 September 2012 - 10:59 WIB
DPR nilai kurikulum sosial masih kurang
A
A
A
Sindonews.com - Tawuran antar pelajar semakin marak terjadi di ibu kota ini disebabkan oleh sistem pendidikan yang diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kurang tepat.
DPR menilai, selama ini Kemendikbud hanya menekankan kurikulum pada nilai intelektual, sedangkan pendidikan sosial, dan spiritual masih kurang.
Ketua DPR RI, Marzuki Alie menegaskan untuk membentuk kepribadian siswa yang peduli terhadap sesama harus mendapatkan pendidikan sosial, pasalnya pendidikan spiritual tidak cukup.
"Kurikulum tidak memberikan pendidikan yang lengkap, hanya intelektual, spirititual dan sosial tidak diberikan," ujar Marzuki melalui pesan singkatnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (28/9/2012).
Kurikulum pendidikan yang ingin diterapkan di sekolah harus mencakup semua hal supaya para pelajar mendapatkan pengetahuan yang cukup.
"Sistem apapun tidak akan berpengaruh kalau kurikulumnya tidak memberi kecerdasan yang lengkap," ujarnya.
Dalam sepekan ini sudah dua kejadian tawuran yang terjadi, dan memakan korban jiwa. Pertama hari Senin 24 September 2012 lalu di Bulungan, Jakarta Selatan, yang melibatkan SMA 6 versus SMA 70 satu orang meninggal.
Kemudian, tawuran kembali pecah di Manggarai, antara SMA Yayasan Karya 66 versus SMK Kartika Zeni, dalam tawuran satu orang pelajar juga meninggal dunia
DPR menilai, selama ini Kemendikbud hanya menekankan kurikulum pada nilai intelektual, sedangkan pendidikan sosial, dan spiritual masih kurang.
Ketua DPR RI, Marzuki Alie menegaskan untuk membentuk kepribadian siswa yang peduli terhadap sesama harus mendapatkan pendidikan sosial, pasalnya pendidikan spiritual tidak cukup.
"Kurikulum tidak memberikan pendidikan yang lengkap, hanya intelektual, spirititual dan sosial tidak diberikan," ujar Marzuki melalui pesan singkatnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (28/9/2012).
Kurikulum pendidikan yang ingin diterapkan di sekolah harus mencakup semua hal supaya para pelajar mendapatkan pengetahuan yang cukup.
"Sistem apapun tidak akan berpengaruh kalau kurikulumnya tidak memberi kecerdasan yang lengkap," ujarnya.
Dalam sepekan ini sudah dua kejadian tawuran yang terjadi, dan memakan korban jiwa. Pertama hari Senin 24 September 2012 lalu di Bulungan, Jakarta Selatan, yang melibatkan SMA 6 versus SMA 70 satu orang meninggal.
Kemudian, tawuran kembali pecah di Manggarai, antara SMA Yayasan Karya 66 versus SMK Kartika Zeni, dalam tawuran satu orang pelajar juga meninggal dunia
(ysw)