Siapkan TPS, Pemkot sewa lahan PT KAI
Senin, 24 September 2012 - 22:31 WIB
Siapkan TPS, Pemkot sewa lahan PT KAI
A
A
A
Sindonews.com - Desakan secepatnya untuk membangun tempat penampungan sementara (TPS) membuat Pemkot Surabaya harus mengeluarkan kocek besar. Sebab, mereka berencana menyewa lahan milik PT Kerata Api Indonesis (KAI) yang dipakai untuk TPS.
“Saat ini kami sudah sudah melayangkan surat permohonan ke PT KAI untuk meminjam lahan milik mereka sebagai lokasi TPS. Jika pemakaian lahan itu harus menyewa, pemkot siap untuk melakukannya,” ujar Asisten II Sekkota Surabaya Muhlas Udin, Senin (24/9/2012).
Ia melanjutkan, langkah itu ditempuh sebagai bentuk tanggungjawab pemkot terhadap kelangsungan hidup para pedagang. Apalagi korban kebakaran sampai saat ini masih terlunta-lunta.
“Prinsipnya bu wali kota setuju untuk membangunan TPS, karena mereka pedagang pemkot,” ungkapnya.
Untuk membangun TPS, katanya, pihaknya akan menggunakan APBD 2012 dan tidak ada kucuran anggaran dari pusat maupun Pemprov Jatim seperti saat pembangunan TPS I, II dan IV yang terbakar 207 lalu.
Direncanakan anggaran diambilkan dari PAK (perubahan anggaran keuangan) APBD 2012.
“Jika diambilkan dari dana lain-lain pada APBD, prosesnya diperkirakan terlalu lama. Sebab, harus ada penetapan bencana dari wali kota dan harus ada keterangan dari kepolisian. Padahal pembangunan TPS yang diperkirakan menelan Rp10 miliar ini mendesak,” jelas Muhlas.
Ia juga menjelaskan, TPS dibangun dalam konstruksi yang sederhana. "Konstruksinya dari kayu sehingga tidak terlalu besar. Ukurannnya 3x1,5 meter. Luasnya belum tahu. Tapi hanya satu lantai”, katanya.
Sementara untuk penempatan para pedagang pada bangunan permanen yang rencananya akan dibangun lagi, Muklas mengatakan pemkot telah menyampaikan permohonan ke PT KAI. Intinya BUMN tersebut membangun Pasar yang pengelolaannya ditangani sendiri.
Namun, siapa saja yang bisa menempati pasar diharapkan mengakomodir para pedagang Pasar Turi tahap III. Langkah itu dilakukan, sebagai konsekwensi pemkot kalah dalam sengketa dengan PT KAI atas kepemilikan lahan yang digunakan Pasar Turi.
”Jika pengelolaannnya oleh PT KAI, kita harapkan nantinya pedagang Pasar Turi diakomodir. Ini karena pemkot tidak memiliki kewenangan lagi setelah kita kalah,” jelasnya.
Pasca kebakaran, ratusan pedagang hingga kini belum jelas. Karena TPS belum terbangun, banyak dari mereka yang tak berjualan. Akibatnya, nasib pedagang banyak yang terpuruk.
“Kami meminta agar pemkot segera membangun TPS. Karena jika terus molor, pedagang semakin terpuruk karena berdagang adalah satu-satunya mata pencahariannya,” jelas Junaedi Ali Sadikin, pedagang Pasar Turi Lama.
Ia menambahkan karena belum terbangun, kini ada puluhan pedagang yang terpaksa berjualan di TPS yang diperuntukan untuk korban kebakaran Pasar Turi I, II, dan III. Dan untuk mendapatkannya tidak gratis.
“Saya mendengar ada yang membeli hingga Rp30 juta per kios. Dan ini rawan konflik nantinya kalau diteruskan,” tegasnya.
“Saat ini kami sudah sudah melayangkan surat permohonan ke PT KAI untuk meminjam lahan milik mereka sebagai lokasi TPS. Jika pemakaian lahan itu harus menyewa, pemkot siap untuk melakukannya,” ujar Asisten II Sekkota Surabaya Muhlas Udin, Senin (24/9/2012).
Ia melanjutkan, langkah itu ditempuh sebagai bentuk tanggungjawab pemkot terhadap kelangsungan hidup para pedagang. Apalagi korban kebakaran sampai saat ini masih terlunta-lunta.
“Prinsipnya bu wali kota setuju untuk membangunan TPS, karena mereka pedagang pemkot,” ungkapnya.
Untuk membangun TPS, katanya, pihaknya akan menggunakan APBD 2012 dan tidak ada kucuran anggaran dari pusat maupun Pemprov Jatim seperti saat pembangunan TPS I, II dan IV yang terbakar 207 lalu.
Direncanakan anggaran diambilkan dari PAK (perubahan anggaran keuangan) APBD 2012.
“Jika diambilkan dari dana lain-lain pada APBD, prosesnya diperkirakan terlalu lama. Sebab, harus ada penetapan bencana dari wali kota dan harus ada keterangan dari kepolisian. Padahal pembangunan TPS yang diperkirakan menelan Rp10 miliar ini mendesak,” jelas Muhlas.
Ia juga menjelaskan, TPS dibangun dalam konstruksi yang sederhana. "Konstruksinya dari kayu sehingga tidak terlalu besar. Ukurannnya 3x1,5 meter. Luasnya belum tahu. Tapi hanya satu lantai”, katanya.
Sementara untuk penempatan para pedagang pada bangunan permanen yang rencananya akan dibangun lagi, Muklas mengatakan pemkot telah menyampaikan permohonan ke PT KAI. Intinya BUMN tersebut membangun Pasar yang pengelolaannya ditangani sendiri.
Namun, siapa saja yang bisa menempati pasar diharapkan mengakomodir para pedagang Pasar Turi tahap III. Langkah itu dilakukan, sebagai konsekwensi pemkot kalah dalam sengketa dengan PT KAI atas kepemilikan lahan yang digunakan Pasar Turi.
”Jika pengelolaannnya oleh PT KAI, kita harapkan nantinya pedagang Pasar Turi diakomodir. Ini karena pemkot tidak memiliki kewenangan lagi setelah kita kalah,” jelasnya.
Pasca kebakaran, ratusan pedagang hingga kini belum jelas. Karena TPS belum terbangun, banyak dari mereka yang tak berjualan. Akibatnya, nasib pedagang banyak yang terpuruk.
“Kami meminta agar pemkot segera membangun TPS. Karena jika terus molor, pedagang semakin terpuruk karena berdagang adalah satu-satunya mata pencahariannya,” jelas Junaedi Ali Sadikin, pedagang Pasar Turi Lama.
Ia menambahkan karena belum terbangun, kini ada puluhan pedagang yang terpaksa berjualan di TPS yang diperuntukan untuk korban kebakaran Pasar Turi I, II, dan III. Dan untuk mendapatkannya tidak gratis.
“Saya mendengar ada yang membeli hingga Rp30 juta per kios. Dan ini rawan konflik nantinya kalau diteruskan,” tegasnya.
(ysw)