20 September hari bersejarah bagi Foke-Jokowi
Rabu, 19 September 2012 - 18:36 WIB
20 September hari bersejarah bagi Foke-Jokowi
A
A
A
PEMILIHAN Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta terpaksa dilaksanakan dua putaran. Pasalnya, dari enam pasangan calon, belum ada yang mampu meraih di atas 50 persen.
Pada putaran pertama, pasangan nomor urut-1 Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan nomor urut-3 Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama berhasil menyingkirkan empat pasangan lainnya, Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hendardji Soepandj-Ahmad Riza Patria, dan Faisal Basri-Biem Benyamin.
Putaran pertama pasangan calon hanya berhasil mengumpulkan suara pemilih, masing-masing Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli meraih 1.476.648 suara (34,05 persen), Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama 1.847.157 suara (42,60 persen), Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini 508.113 suara (11,72 persen), Faisal Basri-Biem Benyamin 215.935 suara (4,98 persen), Alex Noerdin-Nono Sampono 202.643 (4,67 persen), dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria 85.990 (1,98 persen).
Putaran kedua ini, suasana makin memanas dan persaingan semakin ketat. Sejumlah lembaga survei juga memprediksi salah satu pemenang tidak akan melampaui terlalu jauh pesaingnya. Bahkan beberapa lembaga survei memprediksi pasangan biasa disebut Jokowi-Ahok unggul tipis ketimbang pesaingnya yang biasa disebut Foke-Nara.
Misalnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memprediksi, jika pemilihan dilaksanakan pada minggu lalu, Fauzi Bowo meraih dukungan 41,3 persen dan Jokowi 41,2 persen. Sementara, dalam format pilihan kepada calon gubernur saja, Fauzi Bowo memperoleh 44,3 persen, dan Jokowi 45,0 persen.
Peneliti SMRC Deni Irvani menjelaskan, jika dilihat dari kriteria usia, pasangan Foke-Nara cenderung unggul pada pemilih berusia 22-55 tahun. Sebaliknya Jokowi-Basuki unggul pada pemilih pemula dan usia 40 tahun ke atas.
Sedangkan dari sisi pendidikan dan pendapatan, pasangan Foke-Nara cenderung lebih disukai oleh pemilih yang berpendidikan lebih rendah dan berpendapatan kecil.
Sementara, pasangan Jokowi-Ahok ebih disukai pemilih berpendidikan lebih tinggi dan berpendapatan lebih besar. "Banyak faktor yang mendasari ini namun dari hasil survei kami Jokowi-Ahok lebih disukai oleh mereka yang berpendapatan tinggi," terangnya.
Selain itu, berdasarkan survei yang diadakan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mulai tanggal 10-14 September 2012 lalu, hasil elektabilitas pasangan Foke-Nara sebesar 44,90 persen. Sedangkan Jokowi-Ahok sebesar 47,56 persen, lalu yang tidak tahu sebesar 7,54 persen.
Survei ini melibatkan 1.250 sample responden dengan margin error sebesar 2,8 persen. Responden sendiri tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.
"Kekuatan figur lebih menentukan dibanding dukungan partai. Dengan logika ini, maka boleh jadi koalisi besar partai-partai mendukung salah satu pasangan calon hanya menjadi pepesan kosong," jelas Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid, di Menteng, Jakarta Pusat.
Berbeda dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menilai popularitas Foke masih di atas Jokowi. Namun dari 97 persen popularitas Foke, hanya sebanyak 72 persen yang mengaku menyukai Foke. Sementara dari 84 persen popularitas Jokowi, hanya 76 persen mengaku menyukai sosok Jokowi.
Namun, prediksi ini tidak mutlak, bahkan bisa sebaliknya. Terbukti, menjelang putaran pertama semua lembaga survei memprediksi pasangan Foke-Nara lebih unggul. Tapi, hasilnya sangat bertolak belakang, malah pasangan Jokowi-Ahok memperoleh dukungan paling banyak, meskipun belum mencapai 50 persen suara.
Terlebih, belakangan ini banyak fenomena politik yang terjadi dan berbagai strategi dilancarkan pasangan masing-masing calon untuk mendongkrak perolehan suara masing-masing.
Bahkan, isu menyangkut suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) sempat menggoncang perpolitikan jelang putaran dua Pilgub DKI ini. Belum lagi, upaya saling serang dan menjatuhkan pihak lawan di media juga berdampak pada elektabilitas masing-masing pasangan calon. Semuanya itu akan dibuktikan pada 20 September 2012 melalui pilihan warga DKI Jakarta.
Satu hal yang perlu digarisbawahi, setelah tanggal 20 September 2012 itu, gonjang-ganjing politik di DKI Jakarta masih berlanjut. Pasalnya, jiwa besar untuk menerima kekalahan belum dimiliki para elit politik bangsa ini.
Berbagai upaya akan dilakukan, misalnya melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) supaya pasangan yang dinyatakan sebagai pemenang berdasarkan hasil pemungutan suara dapat dibatalkan.
Pada putaran pertama, pasangan nomor urut-1 Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan nomor urut-3 Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama berhasil menyingkirkan empat pasangan lainnya, Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hendardji Soepandj-Ahmad Riza Patria, dan Faisal Basri-Biem Benyamin.
Putaran pertama pasangan calon hanya berhasil mengumpulkan suara pemilih, masing-masing Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli meraih 1.476.648 suara (34,05 persen), Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama 1.847.157 suara (42,60 persen), Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini 508.113 suara (11,72 persen), Faisal Basri-Biem Benyamin 215.935 suara (4,98 persen), Alex Noerdin-Nono Sampono 202.643 (4,67 persen), dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria 85.990 (1,98 persen).
Putaran kedua ini, suasana makin memanas dan persaingan semakin ketat. Sejumlah lembaga survei juga memprediksi salah satu pemenang tidak akan melampaui terlalu jauh pesaingnya. Bahkan beberapa lembaga survei memprediksi pasangan biasa disebut Jokowi-Ahok unggul tipis ketimbang pesaingnya yang biasa disebut Foke-Nara.
Misalnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memprediksi, jika pemilihan dilaksanakan pada minggu lalu, Fauzi Bowo meraih dukungan 41,3 persen dan Jokowi 41,2 persen. Sementara, dalam format pilihan kepada calon gubernur saja, Fauzi Bowo memperoleh 44,3 persen, dan Jokowi 45,0 persen.
Peneliti SMRC Deni Irvani menjelaskan, jika dilihat dari kriteria usia, pasangan Foke-Nara cenderung unggul pada pemilih berusia 22-55 tahun. Sebaliknya Jokowi-Basuki unggul pada pemilih pemula dan usia 40 tahun ke atas.
Sedangkan dari sisi pendidikan dan pendapatan, pasangan Foke-Nara cenderung lebih disukai oleh pemilih yang berpendidikan lebih rendah dan berpendapatan kecil.
Sementara, pasangan Jokowi-Ahok ebih disukai pemilih berpendidikan lebih tinggi dan berpendapatan lebih besar. "Banyak faktor yang mendasari ini namun dari hasil survei kami Jokowi-Ahok lebih disukai oleh mereka yang berpendapatan tinggi," terangnya.
Selain itu, berdasarkan survei yang diadakan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mulai tanggal 10-14 September 2012 lalu, hasil elektabilitas pasangan Foke-Nara sebesar 44,90 persen. Sedangkan Jokowi-Ahok sebesar 47,56 persen, lalu yang tidak tahu sebesar 7,54 persen.
Survei ini melibatkan 1.250 sample responden dengan margin error sebesar 2,8 persen. Responden sendiri tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.
"Kekuatan figur lebih menentukan dibanding dukungan partai. Dengan logika ini, maka boleh jadi koalisi besar partai-partai mendukung salah satu pasangan calon hanya menjadi pepesan kosong," jelas Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid, di Menteng, Jakarta Pusat.
Berbeda dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menilai popularitas Foke masih di atas Jokowi. Namun dari 97 persen popularitas Foke, hanya sebanyak 72 persen yang mengaku menyukai Foke. Sementara dari 84 persen popularitas Jokowi, hanya 76 persen mengaku menyukai sosok Jokowi.
Namun, prediksi ini tidak mutlak, bahkan bisa sebaliknya. Terbukti, menjelang putaran pertama semua lembaga survei memprediksi pasangan Foke-Nara lebih unggul. Tapi, hasilnya sangat bertolak belakang, malah pasangan Jokowi-Ahok memperoleh dukungan paling banyak, meskipun belum mencapai 50 persen suara.
Terlebih, belakangan ini banyak fenomena politik yang terjadi dan berbagai strategi dilancarkan pasangan masing-masing calon untuk mendongkrak perolehan suara masing-masing.
Bahkan, isu menyangkut suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) sempat menggoncang perpolitikan jelang putaran dua Pilgub DKI ini. Belum lagi, upaya saling serang dan menjatuhkan pihak lawan di media juga berdampak pada elektabilitas masing-masing pasangan calon. Semuanya itu akan dibuktikan pada 20 September 2012 melalui pilihan warga DKI Jakarta.
Satu hal yang perlu digarisbawahi, setelah tanggal 20 September 2012 itu, gonjang-ganjing politik di DKI Jakarta masih berlanjut. Pasalnya, jiwa besar untuk menerima kekalahan belum dimiliki para elit politik bangsa ini.
Berbagai upaya akan dilakukan, misalnya melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) supaya pasangan yang dinyatakan sebagai pemenang berdasarkan hasil pemungutan suara dapat dibatalkan.
(kur)