Megawati optimis Jokowi menang putaran dua
Kamis, 13 September 2012 - 16:35 WIB
Megawati optimis Jokowi menang putaran dua
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengaku optimis calon yang akan diusungnya dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok) akan meraih kemenangan di putaran kedua.
Dalam mengulang kemenangan seperti yang terjadi di putaran pertama Pilgub DKI, Mega mengatakan, partainya masih memiliki kekuatan untuk mengorganisir warga Jakarta ke dalam satu aliansi pemenangan Jokowi-Ahok.
"Saya mau tunjukkan, rakyat bisa diorganisir. Nanti kalau Jokowi menang, saya buktikan," ujarnya dalam Koalisi Kebangsaan dan Konferensi Pers di Kantor Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2012).
Mega menilai, politik bukan berarti segala sesuatunya dinilai dengan uang dan kekuasaan. Hal itu terjadi pada saat rezim Orde Baru (Orba) berkuasa. Saat ini, politik model itu sudah tidak relevan digunakan.
"Politik itu bukan money, bukan seperti Orde Baru, makanya saya enggak cocok, makanya saya melawan orde baru," tukasnya.
Sementara itu, pendiri Indonesian Corruption Watch (ICW) Teten Masduki mengatakan, saat ini demokrasi kontestasi melalui gagasan tidak laku di masyarakat. Yang ada adalah pola jual langsung atau direct selling.
"Dan ini bahaya kalau jadinya politik uang, fenomena Pilkada DKI bisa menginspirasi perubahan kedepan. Sosok Jokowi menunjukkan, kekuatan uang ternyata bisa dikalahkan. Bagaimana melakukan perbaikan pelayanan publik," imbuh Teten.
Dalam mengulang kemenangan seperti yang terjadi di putaran pertama Pilgub DKI, Mega mengatakan, partainya masih memiliki kekuatan untuk mengorganisir warga Jakarta ke dalam satu aliansi pemenangan Jokowi-Ahok.
"Saya mau tunjukkan, rakyat bisa diorganisir. Nanti kalau Jokowi menang, saya buktikan," ujarnya dalam Koalisi Kebangsaan dan Konferensi Pers di Kantor Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2012).
Mega menilai, politik bukan berarti segala sesuatunya dinilai dengan uang dan kekuasaan. Hal itu terjadi pada saat rezim Orde Baru (Orba) berkuasa. Saat ini, politik model itu sudah tidak relevan digunakan.
"Politik itu bukan money, bukan seperti Orde Baru, makanya saya enggak cocok, makanya saya melawan orde baru," tukasnya.
Sementara itu, pendiri Indonesian Corruption Watch (ICW) Teten Masduki mengatakan, saat ini demokrasi kontestasi melalui gagasan tidak laku di masyarakat. Yang ada adalah pola jual langsung atau direct selling.
"Dan ini bahaya kalau jadinya politik uang, fenomena Pilkada DKI bisa menginspirasi perubahan kedepan. Sosok Jokowi menunjukkan, kekuatan uang ternyata bisa dikalahkan. Bagaimana melakukan perbaikan pelayanan publik," imbuh Teten.
(san)