Hujan, lumpur Sungai Lematang meluap
Selasa, 11 September 2012 - 18:31 WIB
Hujan, lumpur Sungai Lematang meluap
A
A
A
Sindonews.com - Setelah sekian lama dilanda musim kemarau, Kabupaten Lahat akhirnya diguyur hujan. Kendati volumenya tidak terlalu besar, namun masyarakat Lahat tetap dilanda krisis air bersih. Sungai Lematang yang sebelumnya menjadi gantungan hidup warga untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK) justru dipenuhi lumpur akibat air kiriman dari hulu sungai. Kondisi ini menjadi ironis mengingat sumur warga belum juga terisi air.
Alfuad (52) warga Lembayung, terpaksa mengais sisa air sumur untuk kebutuhan mandi meskipun airnya sudah sampai ke dasar. Dirinya khawatir jika tetap memaksakan menggunakan air sungai Lematang, dirinya terkena penyakit kulit.
“Air Sungai Lematang sudah dua hari keruh. Hampir seluruhnya tercampur lumpur. Biasanya, kondisi ini terjadi saat hujan turun di bagian hulu sungai (Pagaralam). Debit airnya juga mulai meningkat. Air ini kiriman dari sana,” ujar Alfuad menjelaskan kepada wartawan, Selasa (11/9/2012).
Bahkan demi memenuhi kebutuhan air bersih dan minum, dirinya terpaksa membeli air galon. Keluhan serupa juga dilontarkan Parman (29). Dalam satu hari dirinya terpaksa merogoh kocek lebih dari Rp20 ribu untuk membeli air galon. Parahnya, pengusaha air galon justru memanfaatkan kondisi ini.
“Mereka menaikkan harga galon hingga Rp5 ribu per liternya. Alasan mereka sulit untuk mencari air bersih di Lahat, mengingat kondisi air yang sangat keruh. Alhasil, air yang dijual harus dikirim dari Palembang,” paparnya.
Pengamatan di salah satu titik sungai Lematang yang kerap dijadikan masyarakat beraktivitas memang benar adanya. Keruhnya air sungai tidak menyurutkan niat warga untuk mandi, mencuci pakaian. Bahkan, beberapa warga terpaksa mengambil air sungai tersebut menggunakan jeriken untuk dibawa kerumah. Derasnya terjangan dan tingginya debit air juga dikhawatirkan membahayakan keselamatan warga yang nekat berenang.
Bupati Lahat, Saifudin Aswari Rivai juga mengimbau kepada masyarakat tetap berhati hati saat beraktivitas di pinggiran Sungai Lematang. Dirinya menilai, kondisi kekeringan dan krisis air bersih bukan cuma terjadi di Lahat melainkan nasional. Saat ini, Pemkab Lahat tengah mengupayakan distribusi air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Meski demikian, masih harus dikoordinasikan dengan PDAM Tirta Lematang.
“Kita masih pikirkan. Insya Allah kita lakukan bantuan air bersih, terutama daerah daerah yang dilanda kekeringan dahsyat,”ujar dia.
Alfuad (52) warga Lembayung, terpaksa mengais sisa air sumur untuk kebutuhan mandi meskipun airnya sudah sampai ke dasar. Dirinya khawatir jika tetap memaksakan menggunakan air sungai Lematang, dirinya terkena penyakit kulit.
“Air Sungai Lematang sudah dua hari keruh. Hampir seluruhnya tercampur lumpur. Biasanya, kondisi ini terjadi saat hujan turun di bagian hulu sungai (Pagaralam). Debit airnya juga mulai meningkat. Air ini kiriman dari sana,” ujar Alfuad menjelaskan kepada wartawan, Selasa (11/9/2012).
Bahkan demi memenuhi kebutuhan air bersih dan minum, dirinya terpaksa membeli air galon. Keluhan serupa juga dilontarkan Parman (29). Dalam satu hari dirinya terpaksa merogoh kocek lebih dari Rp20 ribu untuk membeli air galon. Parahnya, pengusaha air galon justru memanfaatkan kondisi ini.
“Mereka menaikkan harga galon hingga Rp5 ribu per liternya. Alasan mereka sulit untuk mencari air bersih di Lahat, mengingat kondisi air yang sangat keruh. Alhasil, air yang dijual harus dikirim dari Palembang,” paparnya.
Pengamatan di salah satu titik sungai Lematang yang kerap dijadikan masyarakat beraktivitas memang benar adanya. Keruhnya air sungai tidak menyurutkan niat warga untuk mandi, mencuci pakaian. Bahkan, beberapa warga terpaksa mengambil air sungai tersebut menggunakan jeriken untuk dibawa kerumah. Derasnya terjangan dan tingginya debit air juga dikhawatirkan membahayakan keselamatan warga yang nekat berenang.
Bupati Lahat, Saifudin Aswari Rivai juga mengimbau kepada masyarakat tetap berhati hati saat beraktivitas di pinggiran Sungai Lematang. Dirinya menilai, kondisi kekeringan dan krisis air bersih bukan cuma terjadi di Lahat melainkan nasional. Saat ini, Pemkab Lahat tengah mengupayakan distribusi air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Meski demikian, masih harus dikoordinasikan dengan PDAM Tirta Lematang.
“Kita masih pikirkan. Insya Allah kita lakukan bantuan air bersih, terutama daerah daerah yang dilanda kekeringan dahsyat,”ujar dia.
(azh)