Kiai seluruh Indonesia bertemu
Jum'at, 07 September 2012 - 13:01 WIB
Kiai seluruh Indonesia bertemu
A
A
A
Sindonews.com - Kiai dan Ulama se Indonesia hari ini mengggelar dialog bersama mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi di Beji, Depok, Jawa Barat.
Tak ketinggalkan tokoh masyarakat dan pimpinan pondok pesantren hadir dalam dialog bertema 'Orientasi Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara'.
Kepada wartawan Hasyim mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan agar pesantren mengerti soal ketatanegaraan Indonesia. Sebab, kata dia, selama ini banyak rakyat bingung tentang transformasi yang terjadi di Indonesia.
"Tak mengetahui perubahan - perubahan mendasar seputar reformasi dan amandemen, kenapa negara begini, orang akan tahu kenapa zaman jadi begini," katanya kepada wartawan di Kukusan, Beji, Depok, Jumat (07/09/12).
Faktor leadership, kata dia, juga paling menentukan untuk membawa bangsa terus maju kedepan. Namun justru saat ini menurutnya, kecenderungan pascareformasi berdampak lebih banyak terjadinya konflik.
"Leadership tak hanya bicara SBY, tapi soal DPR juga sebagai penyelenggara negara, yudikatif juga, saat ini berbeda dengan zaman orba, urun rembug ini dapat memberikan gambaran soal positif negatif dari sitem yang ada saat ini. Negatifnya musyawarah jadi bentrok, rapat jadi demo, konflik. Setelah ini tokoh - tokoh yang berkumpul ini, agar bisa mengerti, karena sebagian besar belum paham terhadap tata negara sekarang kok jadi seperti ini, banyak gangguan keamanan, terjadi bentrok dimana - mana. Apa itu memang lahir dari suatu yang tidak rapi, atau sistem itu sudah rapi tapi yg menjalankannya saja tak bisa," tegasnya.
Sementara itu, panitia pelaksana acara Mabroer mengatakan, tokoh masyarakat tersebut sebagian besar berasal dari NU dan disegani di daerahnya masing - masing. Sehingga, nantinya mereka diharap mampu menjadi agen perubahan.
"Kami sengaja undang ulama se Indonesia. Harapannya setelah ada pencerahan, bisa jd agen perubahan. Karena 15 tahun kedepan NKRI unpredictable, banyak distrust, disobidient, karena itu NU merasa terpanggil," tandasnya.
Tak ketinggalkan tokoh masyarakat dan pimpinan pondok pesantren hadir dalam dialog bertema 'Orientasi Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara'.
Kepada wartawan Hasyim mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan agar pesantren mengerti soal ketatanegaraan Indonesia. Sebab, kata dia, selama ini banyak rakyat bingung tentang transformasi yang terjadi di Indonesia.
"Tak mengetahui perubahan - perubahan mendasar seputar reformasi dan amandemen, kenapa negara begini, orang akan tahu kenapa zaman jadi begini," katanya kepada wartawan di Kukusan, Beji, Depok, Jumat (07/09/12).
Faktor leadership, kata dia, juga paling menentukan untuk membawa bangsa terus maju kedepan. Namun justru saat ini menurutnya, kecenderungan pascareformasi berdampak lebih banyak terjadinya konflik.
"Leadership tak hanya bicara SBY, tapi soal DPR juga sebagai penyelenggara negara, yudikatif juga, saat ini berbeda dengan zaman orba, urun rembug ini dapat memberikan gambaran soal positif negatif dari sitem yang ada saat ini. Negatifnya musyawarah jadi bentrok, rapat jadi demo, konflik. Setelah ini tokoh - tokoh yang berkumpul ini, agar bisa mengerti, karena sebagian besar belum paham terhadap tata negara sekarang kok jadi seperti ini, banyak gangguan keamanan, terjadi bentrok dimana - mana. Apa itu memang lahir dari suatu yang tidak rapi, atau sistem itu sudah rapi tapi yg menjalankannya saja tak bisa," tegasnya.
Sementara itu, panitia pelaksana acara Mabroer mengatakan, tokoh masyarakat tersebut sebagian besar berasal dari NU dan disegani di daerahnya masing - masing. Sehingga, nantinya mereka diharap mampu menjadi agen perubahan.
"Kami sengaja undang ulama se Indonesia. Harapannya setelah ada pencerahan, bisa jd agen perubahan. Karena 15 tahun kedepan NKRI unpredictable, banyak distrust, disobidient, karena itu NU merasa terpanggil," tandasnya.
(lns)