DPRD Depok cek lokasi penggereban teroris
Kamis, 06 September 2012 - 12:20 WIB
DPRD Depok cek lokasi penggereban teroris
A
A
A
Sindonews.com - Kota Depok belakangan ini seolah menjadi tempat yang aman untuk berlindung para teroris. Melihat kondisi itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok tak tinggal diam.
Hari ini wakil rakyat itu pun langsung meninjau lokasi penggerebekan teroris di Perumahan Taman Anyelir 2, Kelurahan Kalimulya, Cilodong, Depok.
Para anggota dewan ini ingin mengecek langsung efektifitas Peraturan Daerah (Perda) Kependudukan tentang pengawasan tamu dan implementasi peraturan internal lingkungan warga terkait wajib lapor 1x24 jam.
Anggota BKD DPRD Depok Abdul Gofar mengatakan, setiap RT dan RW harus lebih aktif untuk memiliki database warga di lingkungannya. Selain itu, kata dia, silaturahmi antar tetangga juga harus ditingkatkan.
"Namanya RT RW ada yang aktif, ada yang belum aktif. Masyarakat harus betul - betul menjaga lingkungan masing - masing, bagi saya buat pembelajaran, silaturahmi antar tetangga harus ditingkatkan," katanya kepada wartawan, Kamis (06/09/12).
Menurut Gofar, selama ini image kota Depok, merupakan kota yang nyaman bagi siapapun untuk singgah. Namun jangan sampai nyaman dan aman sebagai tempat berlindung (safe house) bagi teroris.
"Siapapun tertarik tinggal di Depok, warga Jakarta saja banyak ke Depok, sebagai kota penyangga kita jangan terlena, orang - orang yang punya kepentingan negatif kadang - kadang menyusup di balik itu. Kita harus waspada. Nyaman untuk teroris tergantung warga sendiri agar jangan apatis," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua BKD DPRD Depok Agung Wicaksono mengatakan Nasuha selaku paman Firman, terduga teroris Solo yang ditangkap tim Densus harusnya lapor kepada RT RW setempat jika ada kerabatnya ingin menginap. Sehingga tidak merasa terbebani saat ada masalah seperti ini.
"Ibu Ipong tantenya Firman kan jadi stres, harusnya lapor walaupun keponakannya sendiri yang menginap, supaya kalau ada apa - apa tidak dianggap terlibat, dan warga pun harus curiga jika tengah malam ada warga luar yang datang menginap," tegasnya.
Menurut Agung, kasus ini merupakan risiko Depok sebagai kota penyangga dan pemukiman dengan masalah yang kompleks. Terutama tingginya angka migrasi penduduk di Depok.
"Jangan sampai ada kesan teroris bisa nyaman dan aman di Depok. Saya heran Depok koq banyak teroris, nabi palsu saja ada disini," tutupnya.
Hari ini wakil rakyat itu pun langsung meninjau lokasi penggerebekan teroris di Perumahan Taman Anyelir 2, Kelurahan Kalimulya, Cilodong, Depok.
Para anggota dewan ini ingin mengecek langsung efektifitas Peraturan Daerah (Perda) Kependudukan tentang pengawasan tamu dan implementasi peraturan internal lingkungan warga terkait wajib lapor 1x24 jam.
Anggota BKD DPRD Depok Abdul Gofar mengatakan, setiap RT dan RW harus lebih aktif untuk memiliki database warga di lingkungannya. Selain itu, kata dia, silaturahmi antar tetangga juga harus ditingkatkan.
"Namanya RT RW ada yang aktif, ada yang belum aktif. Masyarakat harus betul - betul menjaga lingkungan masing - masing, bagi saya buat pembelajaran, silaturahmi antar tetangga harus ditingkatkan," katanya kepada wartawan, Kamis (06/09/12).
Menurut Gofar, selama ini image kota Depok, merupakan kota yang nyaman bagi siapapun untuk singgah. Namun jangan sampai nyaman dan aman sebagai tempat berlindung (safe house) bagi teroris.
"Siapapun tertarik tinggal di Depok, warga Jakarta saja banyak ke Depok, sebagai kota penyangga kita jangan terlena, orang - orang yang punya kepentingan negatif kadang - kadang menyusup di balik itu. Kita harus waspada. Nyaman untuk teroris tergantung warga sendiri agar jangan apatis," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua BKD DPRD Depok Agung Wicaksono mengatakan Nasuha selaku paman Firman, terduga teroris Solo yang ditangkap tim Densus harusnya lapor kepada RT RW setempat jika ada kerabatnya ingin menginap. Sehingga tidak merasa terbebani saat ada masalah seperti ini.
"Ibu Ipong tantenya Firman kan jadi stres, harusnya lapor walaupun keponakannya sendiri yang menginap, supaya kalau ada apa - apa tidak dianggap terlibat, dan warga pun harus curiga jika tengah malam ada warga luar yang datang menginap," tegasnya.
Menurut Agung, kasus ini merupakan risiko Depok sebagai kota penyangga dan pemukiman dengan masalah yang kompleks. Terutama tingginya angka migrasi penduduk di Depok.
"Jangan sampai ada kesan teroris bisa nyaman dan aman di Depok. Saya heran Depok koq banyak teroris, nabi palsu saja ada disini," tutupnya.
(lns)